Pil Pahit

Sudah menjadi  hal yang wajar jika kita semua cenderung males jika diminta meminum obat. Bahkan, dapat dimaklumi juga jika ada yang trauma dengan obat, dan hingga dewasa pun takut untuk minum obat. Hanya satu hal yang menyebabkannya: PAHIT!

Saya sendiri masih mengingat dengan jelas pengalaman masa kecil saat berjuang belajar meminum obat. Waktu itu rasanya sangat tersiksa saat dipaksa oleh ibu saya untuk minum obat, terutama obat yang berbentuk tablet, atau orang sering menyebutnya sebagai pil. Sudah dibantu dengan air mau pun pisang  / nasi, hasilnya sama saja. Yang ketelan hanyalah media pembantunya, dan pil pahit tersebut tetap setia nempel di lidah atau sembunyi di rongga mulut. Rasanya seperti mau muntah…. Dan memang, terkadang tidak tahan menahan muntah karena baud an rasa pahit yang mengumpul di mulut. Perut menjadi kembung oleh air dan kenyang oleh pisang / gumpalan nasi, tetapi pilnya tetap tidak bisa masuk ke dalam perut. Biasanya akan ditambah omelan jika orang tua kita sudah habis kesabarannya.  Saya sendiri pernah sampai merasa sangat malu, karena saya sampai muntah-muntah dan muntahnya di warung tengah pasar. Akibatnya, saya dilihat oleh banyak orang, dan tentunya membuat tidak nyaman yang sedang makan di situ.

Biasanya, diambil jalan terakhir. Pil / tablet obat itu akan diremukkan oleh orang tua kita di sebuah sendok, dicampur dengan sedikit air. Jika sudah siap, maka obat yang sudah diremukkan itu diminum seperti sedang minum the. Tetap pahit, tetapi minimal bisa masuk perut.

Satu hal yang menarik perhatian saya. Belum lama ini, karena tidak ada yang menunggu, saya diminta oleh kakak untuk menemani keponakan saya Tya di rumah. Kebetulan Tya harus berada di rumah karena sedang panas tinggi. Satu pesan dari kakak yang harus saya dan Tya kerjakan: habis makan harus minum obat. Hmmm…. Kirain obatnya dalam bentuk cairan, ternyata kebanyakan malah berbentuk pil / tablet. Dan ketika saatnya tiba, sepintas saya mendengar keluhan Tya karena harus meminum obat tablet yang besar-besar itu. Anak kelas 3 SD dan harus menelan pil pahit sebesar itu. Saya hanya tersenyum, karena menjadi ingat kembali masa kecil saya. Posisinya sama, takut minum obat, tetapi juga tidak mampu menolaknya karena ingin sembuh. Akhirnya yang bisa saya lakukan hanyalah menyemangatinya. Beruntung pilnya dipotong setengahnya sehingga tidak terlalu besar. Tetapi pasti serpihan-serpihannya akan menambah rasa pahit di mulut Tya. Dan ternyata benar, sudah beberapa teguk air ditelan, tetapi pilnya masih nempel di lidah. Dapat kulihat perjuangannya saat berusaha menelan. Terasa panjang dan berat. Dan tetap masih nempel di mulut. Tetapi hebatnya, obat itu tetap ditahan di mulut (tidak dibuang). Saya pun hanya bisa menganjurkan agar sebelum ditelan, lidahnya dilemasin biar obat mengapun di air di dalam mulut, setelah itu baru ditelan. Dan dua kali percobaan berikutnya akhirnya obat itu bisa masuk. Dan sekali bisa nelan, maka percobaan berikutnya menjadi lebih mudah. Malam itu, setelah perjuangan meminum obat, akhirnya Tya tertidur pulas. Dalam hati saya merasa salut dan bangga dengannya. Betapa tidak mudah perjuangannya, tetapi dapat ia lalui. Saya yakin, tidak semua anak, bahkan orang dewasa pun bisa tahan seperti itu. Bahkan saya sendiri sering mau muntah saat gagal menelan pil di tegukan pertama.

Pengalaman saya bersama Tya sampai saat ini masih tersimpan baik dalam hati saya. Bukan hanya sekedar kebersamaannya, tetapi inspirasi dan penguatan yang dapat saya petik. Perjuangan dalam menelan pil pahit. Sebuah peristiwa sederhana tetapi besar hikmahnya. Betapa saya diingatkan kembali akan ketangguhan, keuletan, perjuangan, dan tentunya cara menelan kepahitan, demi satu tujuan, agar beroleh kesembuhan. Masak saya kalah sama Tya yang masih kelas 3 SD? Nah…. Itulah yang menyemangati saya, saat sedang ditimpa kepahitan hidup (rasa sedih, rasa duka, pedih karena merasa terluka, kesepian, putus asa, dan lain-lain).  Sepahit apa pun, harus diterima dan ditelan, dan diyakinkan masuk ke dalam diri saya. Karena jika hanya sampai di mulut, maka akan terasa makin pahit, dan pastinya tidak menyembuhkan. Yaa…. Seperti itulah.  

Rasa pahit apa pun yang kita hadapi dalam kehidupan ini, ya harus kita terima. Itu memang harus saya alami. Setelah kita terima, kita telan sepenuh hati, artinya kita rasakan kepahitan itu secara sadar, dan biarlah menjadi suatu pengalaman yang memang sudah terjadi dalam hidup kita. Kita cari apa maksud dari pengalaman pahit itu, kita ambil buah-buah yang memang berguna bagi hidup kita selanjutnya, dan biarlah ampasnya (yang tidak berguna) kita tinggalkan di belakang. Seperti saat minum obat, sari obatnya biarkan masuk ke dalam sel  tubuh kita, dan biarlah ampasnya terbuang bersama kotoran saat kita buang air besar…. Semoga saya, Anda, dan kita semua bisa sembuh. Amin…. (Set)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *