Jangan Menghakimi

Akhir-akhir ini media televise sering dihiasi lagi kisah tentang tokoh / selebritis Indonesia. Hanya ada bedanya, kalau dulu nongol di media karena kecantikannya (luar dan dalam), sekarang agak berbeda. Sekarang disorot karena dugaan kasus korupsi. Jika orang biasa (artinya tidak ada latar belakang dunia selebritis) mungkin tidak terlalu menarik perhatian. Tetapi karena dia dulunya adalah panutan para wanita Indonesia, masalahnya menjadi lain. Komentar dan analisis dari berbagai pihak pun bermunculan. Ada yang berbobot karena dilontarkan oleh pengamat yang memang berkompeten, tetapi banyak juga yang hanya berdasar senang atau tidak senang. Entah menilainya berdasar latar belakangnya, atau dampak yang dirasakan oleh orang kecil yang benci dengan korupsi, atau atas dasar kepentingan individu dan golongan. Pokoknya semua orang menjadi bebas berpendapat, bahkan lama-lama menjadi seakan berhak menghakimi nasib tokoh itu. Dan jika sudah menghakimi, hasil akhirnya ya salah atau benar menurut versi sang penghakim. Saya sendiri penasaran, benarkah semua tuduhan yang ditujukan kepadanya?

Tidak ada yang tahu secara pasti. Yang jelas, sebenarnya yang tahu benar atau salah tuduhan itu, ya pelakunya sendiri yang bisa menjawab. Tinggal sekarang pelakunya mau berkata sejujurnya atau tidak. Saya sendiri sudah tidak terlalu meyakini kebenaran versi pengadilan. Bukan bermaksud menghakimi juga seh…… J Hanya, kan kebenaran mutlak yang tahu ya pelakunya (menurut versi dan pemahaman dia juga) dan tentu saja Tuhan sendiri. Pengadilan di dunia sepertinya sudah diwarnai banyak aspek kepentingan. Mengapa saya bilang bahwa yang tahu benar atau salah adalah pelakunya sendiri?

Beberapa tahun lalu saya punya pengalaman kecil yang selalu membuat saya tersenyum kecut. Setiap memegang kalkulator, saya ingat apa yang telah saya alami saat itu. Saat itu saya sedang menjadi pengawas ujian. Sudah menjadi peraturan bahwa di kelas siswa tidak boleh membawa HP, apalagi menggunakannya. Nah saat ujian sedang berlangsung, saya memergoki seorang siswa yang sedang menggunakan HP. Tanpa pikir panjang saya langsung berpikiran dia melanggar peraturan, dan saya harus menegurnya. Entah mengapa saya juga merasa marah. Mungkin karena berpikir dia tidak menghargai saya sebagai pengawasnya ya…. Atau mungkin saya juga berpikir saya tidak mau diremehkan. Dengan pikiran yang hanya berpikir pendek, ditambah emosi yang ga jelas asalnya, saya langsung menghampirinya. Tanpa merasa perlu melihat secara jelas dari dekat, atau bertanya baik-baik, saya langsung menegurnya (lebih tepat ada unsur memarahainya).

“Hei…. Mengapa kamu membawa dan menggunakan HP? Bukankah di pelajaran saja dilarang, ini malah di ujian kamu memakainya?” Kata saya dengan suara menggelegar, yang otomatis membuat seisi kelas menoleh. Suasana pun menjadi tegang. Siswa itu hanya bisa melongo selama beberapa saat. Akhirnya, setelah mengatur nafas, dia menjawab (di bawah tatapan mata saya yang mungkin penuh api kemarahan).

“Tetapi Pak, ini hanya kalkulator”, jawabnya.

“Mana mungkin? Kan saya lihat sendiri!” Saya masih yakin dengan penglihatan saya.

“Benar Pak, ini hanya kalkulator, yang bentuknya HP….”

Saya pun terkesiap. Sekilas saya perhatikan lagi, memang hanya kalkulator, karena tombol keypadnya memang keypad kalkulator. Aduhhh…. Saat itu saya yang ganti menjadi bengong, sejenak linglung tidak tahu harus bicara dan bersikap apa. Sekilas saya dengar dan lihat seisi kelas tersenyum dan tertawa geli, biar pun dengan suara lirih. Mungkin ga enak dan takut menyinggung perasaan saya. Dan selanjutnya saya justru ikut tertawa geli, sehingga seisi kelas pun bisa tertawa. Untunglah, saya menjadi ikut menikmati kelucuan peristiwa itu. Rupanya ada untungnya bisa mentertawakan diri sendiri. Pasti lain hasilnya kalau saya jaim. Muka pasti merah karena dilanda rasa malu. Dan setelah beberapa saat tertawa, kelas menjadi tenang kembali, dan saya pun meminta maaf. Selama sisa waktu ujian, saya masih terus berpikir dan merenungkannya. Sungguh tidak habis pikir, ternyata begitu ya….. Pikiran saya mudah sekali mengambil kesimpulan sendiri, kemudian merembet ke perasaan, dan terakhir berani-beraninya menghakimi orang lain seenaknya sendiri, bahkan tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke yang bersangkutan.

Pengalaman yang senada di atas hingga kini pun bisa saja terjadi kepada siapa pun, termasuk saya yang pernah mengalaminya. Dalam kehidupan sehari-hari, betapa kita sering jatuh dalam godaan untuk menilai dan menghakimi orang lain. Terlebih jika orang tersebut kebetulan tidak kita senangi. Pasti godaannya semakin besar. Dalam kenyataannya, saat kita menghakimi orang lain, yang terjadi adalah ketidakadilan. Sungguh berat konsekuensinya….

Pernahkah saudara juga mengalami hal senada? Menghakimi orang lain? Secara teori, sebenarnya banyak dari kita yang tahu bahwa menghakimi orang lain adalah salah, atau lebih tepatnya tidak berhak. Hanya saja, jalur kerja dari proses menilai dan menghakimi orang ini sangat halus, sering membuat kita tidak sadar jatuh dalam jebakannya, karena pikiran kita memang ditakdirkan untuk bebas berpikir tanpa batas. Mungkin satu hal yang bisa mengingatkan kita. Jangan terlalu mengandalkan pikiran kita. Biarkan suara hati ikut berperan. Dan jika sudah menyangkut hati, kita renungkan kembali: Siapakah yang merasa layak dan berhak menghakimi orang lain? Yuk kita tanyakan dalam hati kita masing-masing sebelum tergoda menghakimi orang lain salah atau benar: Yang merasa tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa, silahkan melempar batu dan merajamnya pertama kali! Yaa…. Hanya yang tidak pernah berbuat dosalah yang layak menghakimi, dan itu hanyalah Dia, Sang Maha Suci bukan? Sooo….. Masihkah kini kita berani menghakimi orang lain? (Set)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *