JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Tips Hidup Bahagia

Waktu Untuk Membahagiakan Pasangan

AddThis Social Bookmark Button

Sabtu sore itu saya mendengarkan lagi keluh-kesah seorang rekan wanita saya. Saya mencoba sabar mendengarkan, biarpun sebenarnya minggu kemarin hal yang senada juga sudah ia lontarkan.

“Ihh... Saya jengkel hari ini. Masak sudah 3 minggu ini suami saya pergi memancing bersama temannya. Saya jadi tidak respek juga ke temannya itu!”

“Memang berapa lama Bu mancingnya?”

“Ya gitu, biasanya dari pukul 14.00 sampai 17.00 WIB....”

“Sudah pernah ikut mancing bersamanya?”

Rekan saya pun menggelengkan kepalanya, sambil menegaskan bahwa ia tidak suka memancing. Masih belum cukup, menurutnya memancing itu hanya membuang-buang waktu dan tidak ada manfaatnya. Hanya bermalas-malasan. Daripada menghabiskan waktu untuk memancing, bukankah lebih baik membeli ikannya saja di mall, sekalian menemaninya jalan-jalan sore kan?

Begitulah yang dirasakan rekan saya itu. Dan saya perkirakan, begitu suaminya datang membawa ikan hasil memancingnya, pasti tidak disambut dengan gembira. Bisa saja ikan itu malah mubazir, alias tidak dimasak. Mungkin itu dilakukan oleh rekan saya untuk memperlihatkan kekecewaannya atas aktivitas suaminya. Dan bisa saya perkirakan juga, suaminya yang mungkin di pemancingan menjadi fresh karena bisa menghilangkan kepenatan dan kejenuhan kerja Senin-Jumat dengan menjalaninya hobinya, begitu sampai di rumah rasa fresh dan gembira tadi bisa hilang kembali karena penyambutan yang kurang simpatik itu. Mungkin jika ada kesempatan suaminya untuk sharing perasaannya, yang ia rasakan mungkin kekecewaan ke istrinya juga.

Saya sendiri kurang mengerti, apakah jika sudah menjadi pasangan suami-istri, maka sudah seharusnya setiap saat yang tersedia untuk berdua memang harus dihabiskan secara berdua juga? Apakah setiap waktu luang yang ada harus diisi oleh aktivitas yang disepakati berdua? Bagaimana jika memang suaminya tadi sangat membutuhkan waktu sendiri, khusus untuk menekuni kesukaan atau hobinya? Apalagi jika ia juga paham bahwa istrinya tidak suka untuk memancing, bukankah lebih baik pergi sendiri? Apakah itu berarti ia tidak memperhatikan istrinya, apakah itu bisa dianggap ia egois dan lupa statusnya? Apakah itu juga berarti ia tidak mau mengerti keinginan dan hobi istrinya?

Sekali lagi entahlah. Saya belum mengalaminya sendiri. Hanya saja, bayangan saya, biarpun sudah menjadi pasangan, dalam satu dua hal kita mempunyai keunikan sendiri, termasuk sifat, tingkah laku, dan mungkin hobi juga. Mungkin dulu saat belum menjadi suami-istri, masalah hobi ini belum begitu terkuak, atau bisa disesuaikan dengan keadaan. Tetapi saat sudah menjadi pasangan resmi, dan kepenatan yang kadang datang tanpa diundang begitu mengganggu, bisa saja orang butuh waktunya sendiri untuk menekuni hal yang ia suka, yang tentunya akan membuatnya bahagia bukan?

Mungkin setiap pribadi harus menyadari dulu, bahwa setiap pribadi punya kekhasan sendiri, termasuk soal hobi dan cara menikmatinya. Setiap pribadi mungkin juga butuh waktu sendiri untuk menikmatinya. Daripada mengomentarinya secara sepihak, lebih baik direnungkan dulu. Jika saya memang tidak bisa menemaninya memancing (karena saya tidak suka, dan membuat saya tersiksa saat menemaninya), ya bukan berarti saya harus melarangnya untuk memancing bukan? Seperti halnya saat dia juga kurang suka dengan hobi saya (shoping misalnya), apakah ia harus melarang saya juga? Bagaimana jika saya biarkan saja dia? Apakah itu berarti saya juga sudah mulai acuh tak acuh?

Saya rasa bukan acuh tak acuh. Dengan memberi waktu kepada pasangan untuk menikmati hobinya sesuai dengan batas waktu yang telah disepakati berdua, saya rasa itu adalah justru salah satu wujud sikap menghargai pribadi pasangan kita. Jika memang tidak bisa menikmati jika harus menemaninya, sebaiknya ya direlakan saja untuk menikmatinya sendiri. Dengan memberinya waktu untuk melepaskan beban dengan menikmati hobi, bukankah itu juga berarti kita membantunya untuk menjadi bahagia? Siapakah seh yang tidak bahagia saat bsa menikmati hobi dan didukung oleh pasangannya? Pasti ia merasa dihargai. Dan ika memang pasangan kita bahagia, apakah kita juga tidak bahagia? Bukankah itu esensinya sebuah pasangan, saling membahagiakan? Nah, daripada bersungut-sungut ditinggal pasangan beberapa saat untuk melakukan hobi, bukankah lebih baik jika kita gunakan waktu itu juga untuk menikmati hobi kita? Dan nanti setelah sama-sama menikmati hobi masing-masing, bertemu kembali di rumah dalam keadaan segar dan bahagia? “Yah... Silahkan didiskusikan bersama...”, kata saya kepadanya. (Set)

Add comment


Security code
Refresh