JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Biaya Mutasi Sepeda Motor Dari Depok Ke Kabupaten Bogor

AddThis Social Bookmark Button

Met siang semua...

Semoga semua dalam keadaan baik dan sejahtera lahir batin. Kali ini saya ingin membagikan, atau minimal cerita pengalaman pribadi saya tentang cara mutasi sepeda motor dari Depok ke Kabupaten Bogor. Mengapa perlu saya ceritakan? Ya karena dari pengalaman saya sendiri, pengalaman seperti ini sangat dibutuhkan. Kemarin, sebelum proses mutasi saya laksanakan, saya juga mencoba googling, bagaimana dan berapa biayanya sih, untuk mutasi/balik nama sebuah sepeda motor?

Sebelumnya, perlu saya informasikan, bahwa motor saya adalah motor lama, Mio keluaran 2008. Sebetulnya tanggung dan males juga, cuma berhubung tidak enak dengan rekan yang namanya saya pakai untuk membeli motor Mio itu dulu, ya mau tidak mau harus saya mutasi. Selain repot tiap tahun pinjam KTP, ga enak juga memberi beban pajak progesif ke orang lain.

Proses mutasi ini saya bagi menjadi 2 bagian, yakni:

  1. Proses pencabutan atau istilahnya mutasi keluar. Karena plat nomor motor saya plat B Depok (cinere), maka langkah pertama saya adalah pergi ke samsat Cinere untuk proses pencabutan berkas. Sempat bingung, apakah saat pencabutan ini harus memakai KTP pemilik lama atau tidak, maka saya pilih jalan aman, saya sempatin untuk meminjam KTP. Selain KTP, yang perlu dibawa tentu saja BPKB dan STNK asli. Proses mutasi keluar atau pencabutan : check/gesek rangka mesin, letaknya di belakang gedung samsat. Kalau resmi, ya tentu saja gratis. Tetapi kalau rela, ya kasih seiklasnya. Setelah itu, jangan lupa untuk fotokopy berkas-berkas tadi (BPKB, STNK, KTP, check rangka mesin) ke tempat fotokopy di sana. Tukang fotokopynya sudah hafal apa yang harus difotokopy. Satu hal yang penting, ternyata untuk mutasi, TIDAK DIPERLUKAN KTP PEMILIK LAMA, hanya butuh KTP calon pemilik baru. Yahhh... kecewa juga saya. Setelah fotokopy, serahkan ke bagian pengesahan rangka mesin. Tempatnya berdekatan dengan tempat check mesin tadi. Nah, setelah itu, kalau tidak salah langsung masuk ke bagian mutasi (di belakang gedung samsat juga) untuk mendaftar. Setelah dipanggil, diberi berkas mutasi keluar, lalu ada beberapa hal yang perlu difotokopy lagi. Tinggal pergi ke tempat fotokopy lagi, lalu masukkan berkas lagi ke bagian mutasi. Setelah dipanggil, maka diinfokan besar biaya pencabutan / mutasi keluar. Waktu itu, resminya Rp 75 000,- (bulan desember 2016). Lalu karena dibantu untuk proses pencabutannya ke metro jaya (klu tidak salah ya), per orang dikenakan biaya Rp 300 000,-. Sempat juga saya ditanya, saya siapanya pemilik motor, sehingga saya jawab bahwa saya suaminya (mungkin dikira calo). Lalu ditanya juga alamat saya. Tapi saya ditawari juga, kalau mau diurus sendiri ke Jakarta juga boleh. Akhirnya, setelah deal saya diberi surat jalan (pengganti STNK sementara, karena semua berkas ditinggal disana) dan dimintai nomor contact yang bisa dihubungi. Sebulan kemudian berkas mutasi keluar bisa diambil, dengan tanda disms oleh samsat bahwa berkas sudah bisa diambil. Dengan menyerahkan kembali surat jalan ke loket mutasi, saya mendapat berkas mutasi keluar lagi, lalu diminta ke bagian fiskal di lantai 2 gedung samsat. Dari bagian fiskal, saya ke bagian pajak progresif dan membayar Rp 13 000,00- ke loket pembayaran pajak. Lalu masukan kembali ke bagian fiskal, dan setelah dipanggil, akhirnya berkas mutasi keluar tadi diserahkan kembali ke saya dan diminta untuk segera mengurus ke samsat Kabupaten Bogor. Kira-kira begitulah proses dan anggaran pencabutan mutasi keluar.
  2. Mutasi masuk. Setelah berkas mutasi keluar saya ambil dari samsat Cinere, maka segera saat ada kesempatan, saya coba urus ke Kabupaten Bogor. Batas maksimal berlakunya berkas pencabutan tadi adalah 2 bulan. Nah, agak sial juga, karena di awal tahun 2017 ada kenaikan biaya pengurusan mutasi dan lain sebagainya. Segera saya pergi ke samsat Kabupaten Bogor. Langkah-langkah mutasi masuk:
    • Saat ke samsat, jangan lupa membawa berkas mutasi keluar (satu map dengan isinya yang berjibun), lalu kalau bisa membawa calon pemilik barunya. Sampai di samsat, kembali harus check rangka mesin (jadi motornya juga harus dibawa), dan jangan sampai di atas jam 12.00 WIB karena sudah tidak melayani, kecuali kalau bersedia check rangka mesinnya melalui calo (kira-kira habis Rp 20 000,-). Sesudah check rangka mesin, pergi ke bagian pengesahan check mesin (letaknya di luar gedung samsat, bersebelahan dengan bagian mutasi). Setelah itu masukkan berkas mutasi keluar tadi (plus check rangka mesin yang baru) ke bagian mutasi masuk. Setelah dipanggil, diberi satu lembar isian dan berkas dengan map baru (map mutasi masuk) yang harus diisi (ada bagian tanda tangan calon pemiliknya, maka calon pemiliknya harus diajak), lalu difotokopy, dan masukkan lagi ke bagian mutasi masuk. Setelah dipanggil lagi, akan diberi surat jalan pengganti STNK sementara lagi, dan diminta untuk datang kembali seminggu kemudian. Nah, kirain sudah 80% beres, bayangan saya, minggu depan tinggal datang menyerahkan surat jalan tadi, lalu bayar-bayar2, dan selesai. Ternyataaaaaaaaaaaaa.......
    • Seminggu kemudian saya datang kembali. Langsung ke bagian mutasi, tapi di loket yang di dalam gedung samsat. Kalau bisa pagi sekali saja, karena ternyata prosesnya masih sangat panjang. Lalu setelah dipanggil, ternyata diberi berkas mutasi masuk yang minggu kemarin dimasukkan, lalu diminta ke loket 1 (loket pendaftaran). Di situ, saya diminta mengurus pembuatan BPKB baru ke loket BPKB yang letaknya di luar gedung utama samsat.
    • Masukkan berkas, lalu dipanggil saya siapanya calon pemilik. Kalau suaminya, maka diminta memperlihatkan KTP asli saya. Lalu diberi tambahan 2 lembar formulir yang harus diisi, dan tenang saja ada contekannya. Jangan lupa untuk bongkar-bongkar isi map berkas mutasi masuk jika bingung saat mengisi formulirnya. Setelah diisi, masukkan berkas lagi, dan dipanggil untuk masuk ke dalam, disana diberitahu bahwa biayanya sebesar Rp 225 000,-. .
    • Nah, langsung bayar Saya diberi karcis pengambilan BPKB, yang digunakan sebulan kemudian di polres kabupaten Bogor, dan kembali ke loket 1 gedung samsat. DI loket 1, saya diminta minta blangko pengajuan STNK baru kalau tidak salah, letaknya di sebelah kiri pintu masuk gedung samsat. Dan tentu saja bingung ngisinya, tetapi untungnya ada jiplakan di sebelah meja CS. Lalu masukkan lagi ke loket 1, dan mendapat karcis antrian pembayaran. Nah, silahkan duduk dulu sampai pegel. Setelah dipanggil, baru ketahuan berapa biaya total mutasi masuknya untuk sepeda motor Mio saya. Dan bukan hanya saya, banyak yang terkaget-kaget alias shock dengan total biayanya. Bahkan saya sempat minta ijin untuk keluar dulu cari ATM karena uang di dompet kurang (kurangnya tanggung banget lagi, cuma kurang Rp 10 000,-). Kalau tidak salah habis Rp 488 000,-, mungkin rinciannya untuk biaya mutasi masuk (Rp 150 000), pajak (sekitar Rp 200 000), STNK baru (Rp 100 000), dan denda-denda. Setelah membayar, tinggal nunggu antrian untuk penyerahan STNK baru. Jreng-jreng, setelah kurang lebih 3 jam, akhirnya saya mendapatkan STNK baru, dengan nomor plat baru juga. Dengan berbekal STNK baru, saya pergi ke bagian pembuatan plat nomor untuk mengambil plat baru. Serahkan STNK baru (nanti akan diambil yang berwarna merah), tunggu sebentar, dan mendapat plat baru (gratis).

Yah begitulah, prosesnya panjang sekali menurut saya. Dalam hati, saya bingung, berkas-berkas seabreg tadi akhirnya disimpan atau dibuang ya? Menurut saya kok masih manual banget. Biarpun ribet dan panjang, sekaligus memakan energy, saya sengaja mengurus sendiri. Selain karena lagi tongpes (saya yakin akan habis banyak kalau menggunakan calo atau minta tolong orang), saya juga ingin mengalami sendiri prosesnya. Selain harus bolak-balik, ternyata biaya mutasi untuk sepeda motor (yang sudah tua hehehe), ternyata butuh biaya sekitar Rp 1 jutaan. Padahal, kalau motor Mio itu dijual, paling hanya laku berapa.... Ahhh, sudahlah.

 

Kesimpulan saya, kalau ingin beli kendaraan sekon, jangan lupa perhatikan plat nomornya. Kalau berbeda samsat, wah mending dipikir ulang. Akan menghabiskan energi dan uang banyak... Demikian sharing pengalaman mutasi saya. Tidak bermaksud aneh-aneh, hanya menceritakan peristiwa sesungguhnya, dan hanya berharap semoga bermanfaat bagi orang lain. Bagi saya pribadi, dalam proses yang panjang tersebut, tidak lupa saya berusaha menambah wawasan dengan mengobrol sana sini dengan banyak orang selama menunggu. Dan banyak cerita asik yang dapat saya peroleh... Penuh liku kehidupan.

 

Salammm...

Add comment


Security code
Refresh