JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Rapuh

AddThis Social Bookmark Button

Rapuh

 

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

(Mzm  34 : 18)

 

Sudah jam WIB 14.00 siang… Wah, pasti dah sepi kuburannya. Segera kuganti sragam SMA-ku dengan kaos butut. Dengan menenteng gitar kebanggaanku (bukan karena bagus, tetapi karena harus penuh perjuangan untuk mendapatkannya, menabung setahun penuh dari sisa-sisa rupiah bulananku). Kususuri jalan setapak di desa tempat kostku itu. Sengaja kutundukkan kepala, berharap terhindar dari teriknya panas matahari di ubun-ubun. Ahhh… Hari ini sendirian. Teman kostku lebih memilih tertidur pulas di kamarnya masing-masing. Ya ga papalah, malah enak. Sekali-sekali bebas berdiam diri sampai sore.

 

Dua puluh menit berjalan, sampailah aku di pinggir desa. Hamparan sawah menguning segera tersapu oleh mataku. Sejuk…. Angin kencang menerpa muka dan rambutku. Dan segera kulangkahkan kaki ke arah rerimbunan pohon kamboja di tengah hamparan sawah itu, sambil kupandangi pohon besar di tengah-tengahnya. Itulah tempat favoritku. Sangat rimbun, plus sepi… Iyalah…, namanya juga kuburan.

 

 

Tapi mendadak kuhentikan langkahku. Tepat di pintu masuk kuburan. Di atas batu nisan berwarna hijau, yang biasa kupakai merebahkan badan, kulihat sesosok cowok dekil dan gondrong. Ah, itu kan Daru. Ketua preman kampung sini. Aduhhh… Gimana ya? Jadi ga jadi ga… Gimana kalau ntar dikompasin? Kalau mau balik, belum telat nih. Mumpung tertidur pulas kayaknya dia. Ahhh… Tapi masak harus takut seh? Kenal aja ga… Ngapain takut? Ah, aku ga mau kemakan omongan orang-orang.

 

Akhirnya, aku pun mendekati Daru yang sedang terbaring. Dan rupanya dia tidak tidur, terbukti dia langsung beranjak duduk. Dengan kikuk aku masih berdiri memegangi gitarku. Bingung mau ngomong apa. Akhirnya hanya senyum yang mampu kulontarkan. “Oh, kamu Tio  yang kost di Mbah ya? Sini duduk…” Aku hanya mengangguk dan segera duduk di sebelahnya. Dan kuulurkan tangan menyambut tangannya. Hmmm…. Bau rokok dan bir segera tercium olehku.

 

Obrolan pun ternyata langsung mengalir. Tidak perlu banyak berpikir. Apa yang perlu diobrolin ya keluar saja dari mulut. Rupanya dibalik sangarnya tampang sekaligus track recordnya yang kurang bagus di mata banyak orang, Daru sangat easy going dalam ngobrol. Aku pun terlarut dalam suasananya. Jahat dimananya ya? J Sesekali kumainkan gitarku untuk mengiringi suaranya yang serak parau oleh seringnya tersiram panasnya alcohol. Tapi benar-benar aku yakin, sungguh baik hatinya. Hingga maghrib, banyak yang kuketahui dari Daru ini. Dari masa kecil hingga latar belakang pribadinya. Yahh… Tidak jauh beda denganku rupanya. Hanya dia larinya ke alcohol dan sejenisnya, sedang aku tenggelam dalam dunia sepiku. Mungkin karena masalahnya yang memang jauh lebih berat dibanding denganku. Mungkin itulah yang membuat kami cepet nyambung, biar pun istilahnya dari dua dunia yang berbeda.

 

Dan pertemuan tidak sengaja di kuburan pun terus berlanjut hingga kululus dari SMA. Banyak hal yang dapat diperoleh dari sosok yang kata orang biangnya preman itu. Mungkin hanya aku yang tahu dan memahami, betapa sebenarnya di balik garangnya Daru saat memegang pegang berhadapan dengan preman lainnya, jauh di dalam hatinya sangat rapuh. Sama sepertiku saat itu. Tidak sedikit nasehat dari pastur dan sejenisnya yang mencoba menguatkanku. Tetapi sebenarnya, Darulah yang mampu menyadarkanku. Aku masih berharga. Aku harus memelihara semua yang ada padaku.

 

Satu kado berupa kalimatnya yang masih kuingat sampai sekarang. Saat perpisahan di kost dengan para pemuda (termasuk Daru) desa karena esoknya sudah harus pergi dan mencari perguruan tinggi. Di saat  rasa kantuk karena sedikit alcohol (aku pamit masuk kamarku dan tidur duluan saat itu), sayup-sayup terdengar obrolan mereka. Dan ketika obrolan beralih tentang diriku, satu kalimat itu muncul dari mulutnya: “ Tio itu anaknya baik…., jangan ganggu dia ya”

 

Dan malam itu aku bisa tertidur dengan pulas dengan satu senyum di bibir. Yaaa…. Aku orang baik. Moga-moga aku bisa seperti yang kau katakana Daru… Thanks. Suatu hari nanti, aku yakin kamu juga akan jadi orang baik, karena sebenarnya kamu memang baik.

 

Dan kini 15 tahun sudah sejak saat itu. Baru kurasakan, rasanya Tuhan menyentuhku saat itu lewat Daru. Where are you now Daru? Hope you fine …. God Bless You!

 

 Bogor, Selasa 8 November  2011