JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Tak Terbatas Untuk Kita

AddThis Social Bookmark Button

Tak Terbatas Untuk Kita

 

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

(Luk 17 : 4)

  

“Lihat saja! Sampai mati pun tak akan kumaafkan dia….”

Mungkin kalimat ini pernah mampir ke telinga kita. Atau bahkan sempat muncul juga dalam hati kita. Karena suatu kejadian atau kesalahan, hubungan kita menjadi renggang. Entah dengan rekan kerja, saudara, atau orang terdekat kita. Sebenarnya siapa yang rugi kalau demikian?

Tidak perlu jauh-jauh sebenarnya. Kita sendiri yang akan rugi. Pertama, sekali kita berprinsip seperti itu, hati kita menjadi tertutup terhadap kehadiran seseorang, bahkan mungkin terhadap kebaikannya. Padahal mungkin saja, orang itu tidak merasa bersalah dan santai saja. Tapi lain dengan hati yang tertutup tadi. Dari pagi hingga pagi lagi, timbul pikiran dan rasa tidak tenang, resah, curiga, jengkel, dan lain-lain, sehingga mengganggu segala aktivitas. Siapa yang dapat menikmati hidup jika sudah demikian? Kata orang, ini namanya kita sudah terkena satu simpul negative.

 

Kedua, jika sudah terkena simpul negative terhadap seseorang, sebenarnya kita semakin menjauh dari Dia, Sumber Ketenangan dan Kedamaian. Bagaimana tidak menjauh, jika prinsip hidup sekarang menentang dari ajaranNya, yakni cinta kasih. Yang namanya cinta kasih, ya semuanya berlandaskan cinta dan kasih. Jika ada yang berbuat salah, justru seharusnyalah kita terpanggil untuk menyapanya agar kembali dalam kebaikan. Apalagi jika ia sudah menyadarinya dan mengaku salah, selayaknya kita sambut dan rangkul dengan tangan terbuka.Tentu memang sangat sulit dan butuh waktu untuk mengolah diri. Sekali dalam sehari saja sangat sulit untuk memaafkan terkadang. Bahkan mungkin terbawa sampai seumur hidup. Tetapi pasti semua ini ada maksudnya. Tuhan tidak mungkin mengajari dan mengajak kita untuk mengampuni sampai 7 kali dalam sehari, yang artinya tidak terbatas, tanpa memberi sesuatu kepada kita.

 

Dengan mengampuni, sebenarnya hati kita akan semakin dipenuhi cinta kasih dan kedamaian. Itulah pemberianNya yang tidak ternilai harganya. Apalagi yang lebih indah dari itu? Semakin memberi cinta, semakin banyaklah cinta yang kita terima, khususnya cinta dariNya.

 

Terakhir tentunya, semakin kita mengampuni orang lain, demikian juga Tuhan akan mengampuni segala dosa kita. Tidak perlu bermain hitung-hitungan. Dosa orang lain ke kita, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dosa kita terhadap orang lain dan Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri tidak bermain matematika dengan kita? Dia tidak menghitung berapa kali harus membatasi ampunanNya kepada kita. Tidak terbatas. Yang Ia butuhkan hanya kerendahan hati kita untuk bersujud dan mengakui segala dosa. Cukup begitu. Tidak peduli berapa kali berbuat dosa, bahkan dosa yang sama mungkin, tanganNya selalu terbuka untuk kita, karena Dia datang memang untuk menyelamatkan kita yang lemah ini. Jika kita kuat, tidak perlulah Ia datang.

 

Hanya satu yang harus kita ingat, yakni doa yang Ia ajarkan dan kita doakan setiap hari :”…. Ampunilah kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami….” Maka jika mau diampuni, pertama kali, marilah kita ampuni kesalahan orang di sekitar kita. Berapa kali? Tidak terbatas, seperti ampunanNya yang juga tak terbatas kepada kita. (Set)

  

Bogor, Senin 7 November  2011