JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Tinggi di Mata Dunia

AddThis Social Bookmark Button

Tinggi di Mata Dunia

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 6 : 19)

 

Begitu membaca ayat ini, sebetulnya langsung ada pertanyaan dalam hati. Kenapa ya, kok banyak sekali kata-kata senada dengan ayat ini dalam kitab suci? Dan jika hanya sekali baca / dengar, susah dimengerti. Bahkan saat dibacakan di dalam gereja pun kadang bikin bingung, apalagi kalau pas homily terkantuk-kantuk…hehehehe.

 

Bicara tentang ngantuk di dalam gereja, ada satu pengalaman yang patut untuk disharekan. Sudah menjadi adat dan budaya, semasa SMA, tiap pagi jam WIB 06.00, aku dan temen-temen asramaku sudah harus siap di dalam gereja (sehabis ngepel2 dan mandi). Dan tidak tahu kenapa, mungkin karena rutinitas, begitu masuk gereja dan duduk, mata langsung terasa berat. Ngantuk sekali…. Aku pun merasakan hal yang sama. Dan karena sudah merasa putus asa, aku pun konsultasi dengan pastur. Menuruti sarannya, aku pun pagi berikutnya duduk di kursi paling depan (persis di depan altar). Lumaya, bisa bertahan sampai komuni.

Tapi begitu sampai ke bagian doa Bapa Kami, kebetulan dinyanyikan (dengan lambat), semua umat pun berdiri. Dan di tengah lagu, sambil tetap bernyanyi, tiba-tiba saja lutut merasa sangat lemas dan antara sadar dan tidak, karena kaki seperti tidak ada kekuatan, tubuhku pun jatuh terjerembat (dengan mata juga tertutup). Aku langsung tergagap dan berusaha meraih pegangan, dan sialnya yang kupegang adalah sandaran lutut untuk sujud di depanku yang mudah jatuh. Akhirnya tubuhku pun jatuh bersama sandaran lutut dari kayu itu. Dan brakkkk…. Hahahaha, suaranya sangat keras. Aku pun mendadak segar, plus bingung dan malu. Cepat-cepat kudirikan sandaran lutut dan meneruskan bernyanyi (tentu diikuti juga gerakan mata dari seluruh umat). Dan begitu kutengok belakang, kulihat temen-temen sebayaku pun ikut terjaga…Hahahha, ternyata mereka juga tertidur, tapi aman karena pegangan tangannya kuat. Dan dengan tertunduk, sorenya konsultasi lagi dengan pastur. Dan jawabannya: “Ga papa, yang penting sudah berusaha. Dan kamu sudah berbuat baik kok, minimal temen-temenmu yang lain juga jadi terbangun dari rasa kantuknya…” Wahh… Nasehat yang bagus, karena tidak menghakimi. Tapi tetap saja bikin malu…. :p Rupanya bukan masalah duduk di depan atau belakang yang penting, tapi kerinduan akan keintiman denganNyalah yang  mesti di pupuk. Mengikuti misa karena rutinitas pasti berbeda maknanya dengan melaksanakan misa karena rindu denganNya. Rutinitas hanyalah sebuah bentuk kegiatan, sedang kerinduan akan melibatkan hati secara total.

 

Tapi cukuplah… Mari kembali ke ayat tadi. Yang meninggikan diri akan direndahkan, yang merendahkan diri akan ditinggikan. Yesus datang untuk menyelamatkan yang direndahkan, miskin, disingkirkan, dicela, dihakimi, dan lain-lain. Mungkin karena itulah, Dia juga datang ke dunia sebagai manusia yang anak tukang kayu. Bahkan kelahirannya juga di kandang, yang akrab dengan dunia gembala. Bukan sebagai keturunan raja, yang sebetulnya posisi strategis untuk mengubah / menyelamatkan dunia. Bukankah kalau mau, itu bukan hal yang sulit bagiNya?

 

Bukan terletak di materi sebenarnya. Tetapi biasanya, justru di kalangan yang miskin, yang dipandang rendah inilah manusia relative dekat dengannya. Tidak menyombongkan diri, selalu ingat dengan kesulitan orang lain, empati dengan sesama, dan tentunya selalu mengandalkan kekuatanNya. Bukankah Yesus juga memberi contoh? Sebagai manusia yang ber-empati dengan kita yang lemah, Dia juga memohon sekaligus mengandalkan Bapa di surga dalam setiap doaNya? Satu contoh yang menarik adalah acara sebuah stasiun TV : Tolong (biar pun mungkin juga ada factor editingnya sehingga tidak 100% benar sesuai kenyataan).  Dari berbagai kalangan, ternyata kebanyakan yang terketuk hati untuk membantu orang lain bukanlah yang relative berkecukupan materi, tetapi justu dari kalangan yang relative berkekurangan. Rupanya yang berkekuranganlah yang mudah bersimpati dan ber-empati terhadap sesamanya.

 

Tentulah bukan berarti yang berkecukupan dan ditinggikan (misalnya kaya, pemimpin, pejabat, dll) dianggap rendah olehNya. Ini lebih ke totalitas terhadap tujuan dari hidup kita. Justru yang kaya dll itulah yang punya peluang banyak untuk bersimpati, ber-empati, melayani, membantu, dan mengabdikan diri kepada sesama. Hanya memang godaannya relative lebih banyak. Dan jika sudah terjerat dalam godaan ini (kekuasaan, kehormatan, dll), maka di saat itulah mungkin akan berlaku: Yang meninggikan diri akan direndahkan, direndahkan di hadapanNya.

 

Dalam sebetulnya tidak hanya ekstrem berlaku bagi yang relative kaya atau miskin, hal ini juga sangat mungkin berlaku bagi kita semua. Dalam kehidupan sehari-hari kita pun, dalam hal-hal kecil yang kita perbuat, akan selalu ada celah bagi godaan kesombongan, tinggi hati, dan lupa akan kekuasaanNya. Tetapi juga selalu ada peluang yang diberikan Tuhan untuk kita bersikap rendah hati dan hanya mengandalkanNya. Kini tergantung pada diri kita secara pribadi, mau ditinggikan di mata dunia tapi rendah di hadapanNya, atau berusaha rendah hati dalam kehidupan sehari-hari tapi akan ditinggikan di hadapanNya? Mari kita pilih…. Amin. (Set)

 

Bogor, Sabtu  29  Okt 2011