JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Bukan Karenaku, Tetapi KarenaMu

AddThis Social Bookmark Button

Bukan Karenaku, Tetapi KarenaMu

supaya mereka tahu, bahwa tangan-Mulah ini, bahwa Engkaulah, ya TUHAN, yang telah melakukannya." (Mzr 109 : 27)

 

Yang merasa katolik, mungkin pernah dengar ucapan seperti ini: “Ihhh… Sok aktif banget. Pak …. Mah Cuma biar keliatan sibuk dan dicap baik aja… Padahal keluarganya aja kacau balau…” Hmm… Terlalu ekstrem ga ya… Semoga ga mengada-ada, karena pernyataan seperti di atas, atau setidaknya senada, pernah mampir juga di telingaku.

Terlepas benar atau tidak omongan-omongan seperti itu, tapi aku pribadi yakin, ada yang memang aktif dan mengabdikan diri secara tulus kepada gereja dan masyarakat. Tapi ada juga yang aktif dan rela menghabiskan sebagian waktu bersama keluarga untuk gereja dan masyarakat, tetapi motifnya kurang begitu tulus. Bisa karena pelarian dari masalah yang ada dalam keluarga, atau juga mungkin mencari sesuatu yang tidak dapat diperoleh dari tempat lain. Kehormatan misalnya…. Godaan untuk dipandang/dicap sebagai orang baik, aktif, penuh pelayanan, terkenal dan banyak kenalan, dan lain sebagainya memang manusiawi. Bahkan Yesus pun tidak terlepas dari godaan itu saat sedang bertapa kan?

 

Bukan bermaksud sok menghakimi ataupun mengecilkan makna dari semua pengorbanan orang-orang yang aktif menggereja dan memasyarakat, hanya semoga ini menjadi permenungan kita semua. Tidak ada sebetulnya yang memiliki motivasi sempurna. Tetapi alangkah baiknya jika kita juga berusaha meningkatkan kualitas dasar pelayanan kita. Dengan meningkatnya kualitas motivasi, maka akan semakin banyak berkah yang didapat.

 

Ahh… Itu mah hanya teori semata…!!! Mungkin… Tapi ada pengalaman nyata yang bisa menjadi gambaran. Setiap kita yang punya anak, pasti ada yang terpaksa menyerahkan anak tercinta kepada pengasuh dari pagi – sore karena suami istri kerja semua. Kalau dinalar, pasti pendidikan karakter anak akan kacau… Bisa juga anak jadi lebih sayang pengasuh daripada orang tuanya. Kemungkinan paling besar, anak jadi nakal, tidak nurut / atau setidaknya ada jarak dengan bapak ibunya. Tapi ternyata itu tergantung motivasi / niat dari orang tuanya. Yang terpenting,  kerja dan mengorbankan kebersamaan dengan anak karena dilandasi cinta kepada mereka. Pagi berangkat dengan mencium anak, lalu kerja di kantor dengan tulus dan sepenuh hati dan menyerahkan sepenuhnya anak kepada Tuhan, lalu sore pulang dengan hati gembira karena akan bertemu anak… Dan begitu sampai rumah langsung mencium dan memeluk anak dengan penuh kasih dan cinta. Maka semua akan beres dengan sendirinya karena diatur olehNya. Bukan kuantitas yang utama, tapi kualitaslah yang membedakan antara menghasilkan berkah atau tidak. Sebaliknya, banyak juga yang punya banyak waktu untuk bersama anak, tapi malah mencari-cari kegiatan di luar dengan harapan tidak direpoti dengan urusan anak. Apa yang terjadi? Anak juga akan merasakan ketidaktulusan orang tua…. Itulah sebabnya banyak juga yang anaknya nakal, biar pun kuantitas kebersamaan tinggi….

 

Jadi… Apapun kegiatan kita, dari yang simple atau pun yang membutuhkan energy banyak, kembali kita harus mengingat dan mengoreksi apa motif kita. Sudah tuluskah, atau karena ada maksud tertentu yang hanya menguntungkan kita pribadi? Dan…, jika ada hasil yang melimpah, janganlah lupa bahwa itu semua terjadi bukan semata karena diri kita, tetapi terlebih karenaNya. Dengan demikian, kita akan terhindar dari rasa sombong, lupa diri, ingin dihormati, ingin dipuji, ingin dicap baik, dll… Dengan mengingat kita bukanlah apa-apa jika tanpaNya, dengan tanpa kita sadari, akan terbentuk sikap rendah hati dan berserah padaNya. Berkah melimpah pun akan hadir dalam hidup kita… Amin. (Set)

 

Bogor, Kamis  27 Okt 2011