JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Sukses Cara Pandang Dunia

AddThis Social Bookmark Button

 Sukses Cara Pandang Dunia


Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir." (Luk 13 : 30)

 

Waktu itu aku masih kurang begitu yakin ketika mendengar dari kakakku. Kakakku sendiri awalnya juga ragu. Tapi ternyata memang benar. Teman kerjanya, atau lebih tepatnya bossnya, mengambil sebuah keputusan yang unik. Di saat berada dalam kondisi sukses dan tidak berkekurangan apapun (khususnya dalam hal materi), tiba-tiba pamit untuk menghilang…. Menghilang dari sibuknya hiruk pikuk dunia. Bukan hanya rekan kerja, bahkan keluarga pun bingung.

Dan ternyata bukan basa-basi. Rupanya dengan tekad dan pemikiran yang sudah lama, dia yakin mengikuti kata hati. Berangkatlah ia ke biara karmel di daerah puncak, dan memohon ijin untuk menjadi bagian dari sedikit orang yang mengabdikan diri sebagai pertapa. Seminggu dua minggu, bulan demi bulan, ternyata dugaan banyak orang tak terbukti (kebanyakan meyangsikan niatnya, dan bertaruh berapa lama dia mampu bertahan dengan cara hidup di biara). Dia ternyata mampu menikmati cara hidup barunya. Salut….

 

Jika mau jujur, sangat sedikit orang yang berani mengambil keputusan ekstrem seperti itu. Di saat segala kesuksesan sudah diraih, hal yang manusiawi dan dapat dimaklumi jika menghabiskan waktu untuk menikmatinya. Kan sudah mati-matian kerja memang untuk itu…? Tetapi ternyata itu tidaklah cukup bagi orang-orang tertentu. Segala materi tidak bisa memuaskan batin.

 

Kesuksesan menurut cara pandang dunia, sebetulnya hanyalah suatu bentuk pengikatan batin. Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula ikatan yang tercipta. Terlalu banyak energi yang akan tersita pada apa yang dimiliki, dan akan selalu terus memenuhi segala olah pikir dan batin. Dan celakanya, seakan tiada ujungnya. Jika kita semakin larut dalam ikatan ini, batin akan tertutup akan keadaan sekitar. Yang ada adalah segala hal tentang kenikmatan dunia yang harus dinikmatinya. Dan jika sudah demikian, ukuran sukses di dunia, di mataNya hanyalah bukan apa-apa… Mungkin inilah yang dimaksud dengan perkataanNya: “Yang terdahulu (sukses, kaya, terpandang, terhormat, dll) akan menjadi yang terakhir masuk dalam hitunganNya”. Tentulah ini tidak berlaku untuk semua orang. Namun jika tidak hati-hati, kita pun akan termasuk yang terakhir menurut cara pandangNya.

 

Berbahagialah teman kakakku tadi. Ternyata ia tidak hanyut dalam ukuran sukses dunia dan menyadari bahwa ada ukuran sukses  yang tidak semu, yakni sukses menurut cara pandangNya. Bagaimana dengan kita sendiri…? (Set)

 

Bogor, Rabu  26 Okt 2011