JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Berlimpah Tapi Kering

AddThis Social Bookmark Button

Berlimpah Tapi Kering

“Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

(Luk 12 : 15)

 

“Hebat sekali Bapak itu ya….”.

Waktu itu aku mengiyakan saja perkataan temen-temen di sebelahku. Kebetulan temen-temen satu kostku sedang main ke rumahku, di bawah lereng Merapi. Dan kegiatan makan salak kami di pinggir jalan terhenti sejenak karena melihat seorang bapak tetangga rumah yang sedang membawa sekarung salak di atas kepalanya. Memang hebat, dengan usia mendekat 70-an, masih kuat menahan beban seberat itu. Aku saja yang kala itu masih muda, merasakan sendiri beratnya sekarung salak dari kebunku.

 

Beberapa tahun berlalu,  keadaan  pun masih tetap sama. Dengan usia yang semakin tua dan kulit badan yang semakin mengering, bapak itu tetap bekerja keras setiap hari, biar pun sebenarnya segala kebutuhan sudah tercukupi. Bahkan bisa dibilang terlalu bekerja keras, atau istilah orang kampung ‘ngoyo’, artian mati-matian. Dan kekaguman orang-orang pun berubah menjadi sindiran-sindiran. “Ahh… itu seh namanya ga ingat usia dan nasib anak cucu! Masak semua kebun dan sawah dikerjakan sendiri semua, anak cucu tidak diberi kesempatan…. Kasihan anak, mantu, dan cucu-cucunya ya….” Akhirnya perkataan-perkataan seperti itulah yang muncul saat topic pembicaraan mengarah ke bapak tadi.

 

Dan tibalah saat tubuh hendak kembali ke hakekatnya, seonggok tanah. Di saat sakit mulai mendera, justru jerih payah dari kerja keras sebelumnya menjadi seakan hambar. Sebanyak apapun harta, toh suatu saat perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan. Dan di ranjang pesakitan, hanya kesepian yang setia menemani. Hanya sesekali anak dan cucunya menengok ke rumah sakit. Ini berbeda sekali dengan pasien sebelahnya. Banyak sekali yang datang menjenguk, membawa oleh-oleh dan menghibur. Dan setiap malam, dengan setia keluarga menemani. “Ahhh…. Kemana keluargaku? Kemana semua tetanggaku? Mengapa tidak ada yang peduli kepadaku….? Ya Tuhan…. Apa yang terjadi padaku?” Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang sekarang setia berputar di kepalanya.

 

Ya….. Banyak dari kita yang tidak sadar mana yang mendasar dan mana yang tidak. Di saat desakan kebutuhan menghimpit, kita akan mudah sekali terjerumus dalam suatu kelekatan materi. Hidup kita akan selalu dipenuhi keinginan dan upaya mencarinya. Jika sudah seperti ini, maka segala hati dan pikiran akan terfokus ke satu hal tadi. Maka hal-hal di luar itu menjadi tidak penting dan serasa tidak dibutuhkan. Padahal hidup kita tidak mungkin bergantung pada materi atau apapun yang bersifat duniawi, sebab semuanya akan berubah. Bahkan diri kita juga cepat berubah. Akan menjadi sia-sia jika kita bergantung pada sesuatu yang mudah berubah. Maka masuk akal dan sepantasnya jika kita hanya bergantung pada sesuatu yang kekal dan abadi, yaitu Tuhan sendiri. Dialah pegangan yang akan membuat batin kita berlimpah kebahagiaan. Tidak seperti harta, yang terlihat berlimpah, tetapi sebetulnya menguras dan membuat kering batin kita. (Set)

 

Bogor, Senin 17 Okt 2011