JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Saatnya Untuk Menyangkal Diri

AddThis Social Bookmark Button

Saatnya Untuk Menyangkal Diri

 

"Setiap orang yang ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya.”

(Luk 9 : 23)

 

Suatu saat saya beruntung bisa mendengarkan sharing dari seorang Bapa Uskup. Beliau bercerita tentang suka dukanya yang ia alami, mulai dari masa kecil hingga dewasa, termasuk lika-likunya selama dalam masa pendidikan calon imam. Yang menarik perhatian saya adalah saat beliau menceritakan, betapa dulu di asrama saat-saat tertentu yang sudah dijadwalkan, mereka semua yang tinggal di asrama keluar dari kamar, kemudian bersimpuh di depan pintu masing-masing, sambil membawa cambuk. Untuk apakah cambuk itu?

 

Ternyata cambuk yang sudah dimodifikasi (dengan diberi pemberat atau apapun itu, yang dianggap pas oleh pemiliknya untuk mendatangkan ‘kesakitan’ saat dilecutkan ke kulit tubuh) itu digunakan untuk mencambuki punggung masing-masing. Tentu saja dengan kaos / bajunya sudah dilepas. Dan bisa dibayangkan bukan, apa yang akan dirasakan? Kesakitan.... Itu yang jelas. Tetapi apa tujuan dari rasa sakit itu sebenarnya?

 

Bukan rasa sakit itu yang utama. Rasa sakit yang beliau dapatkan ditujukan agar mengingatkan kembali akan kelemahan tubuh manusia terhadap godaan duniawi. Bukan main... Apakah di jaman sekarang ini masih ada yang melakukan hal itu ya? Lalu apakah itu bisa dikatakan tidak bersikap manusiawi terhadap diri sendiri, yang ditakdirkan memang punya banyak kelemahan? Yang jelas itu hanyalah satu metode yang dipakai sebagai penyadar diri disaat jiwa mulai goyah akan kenikmatan indrawi, dan mungkin termasuk juga ‘kenikmatan jiwa’.

 

Sebagai manusia yang berwujud dari daging, tubuh kita memang sangat mudah untuk meminta ini dan itu. Hari ini ingin makan daging, besok lagi, lalu setelah beberapa hari ingin makan yang lainnya. Setelah itu, ingin yang lain lagi, begitu seterusnya tidak pernah berakhir. Bahkan menjadi tidak masuk akal. Tubuh butuhnya makanan yang seimbang, tetapi akhirnya bukan itu yang penting. Kita sering kali memakan berdasar apa yang kita rasa nikmat. Tubuh hanya butuh waktu istirahat secukupnya, tetapi terkadang kita tidur atau santai-santai berlebihan, karena menganggapnya sebagai sebuah kenikmatan. Dan tentunya masih banyak lagi contoh lainnya yang akan memperlihatkan dengan jelas, betapa sebenarnya kita sangat lemah akan godaan, betapa kita sibuk kian kemari hanya untuk memenuhi hasrat yang sebenarnya tidak akan terpuaskan. Maka memang harus ada yang mengingatkan tubuh ini. Jika tubuh nyamannya dengan kenikmatan dan menjauhi kesakitan, maka ingatkan dia dengan rasa sakit yang disengaja. Tubuh memang lemah.... Mengapa kita mau diperbudak oleh yang lemah ini?

 

Selain sering jatuh dalam goda kenikmatan indrawi, sering kali kita juga jatuh dalam jerat kenikmatan jiwa yang semu. Misalnya, kita ingin mengabdikan diri ke pelayanan (ke gereja, lingkungan, masyarakat sekitar, sekolah, dll), tetapi di satu sisi kita sangat menantikan sanjungan. Atau mungkin kita juga ingin populer dengan kebaikan kita, ingin diketahui banyak orang bahwa kita penderma, pendoa, dan bijaksana. Godaan ini yang susah untuk disadari jeratannya. Ia bersembunyi dalam topeng yang berwajah putih dan manis. Dan pemenuhan kenikmatan jiwa semu seperti ini juga sama saja. Tidak akan ada habisnya. Lalu siapakah yang bisa mengingatkan?

 

Kembali, mungkin justru hanya rasa sakit itu yang mampu mengingatkan. Saat tubuh menuntut ini dan itu untuk kesenangan dan kenikmatan, lawanlah ia dengan rasa sakit, minimal dengan tidak menurutinya. Dan jika membutuhkan penyadar, mungkin masih ada manfaatnya metode cambuk tadi. Ingin makan yang nikmat, maka cambuklah ia dengan makan seadanya, bahkan dengan pantang dan puasa jika perlu. Mungkin harus dengan mencambuk diri sendiri kita baru sadar dan bisa melawan segala goda. Mungkin dengan cambuk kita baru bisa menyangkal diri kita, menyangkal segala keinginan indrawi maupun segala hasrat dan nafsu akan hal duniawi ini. Dan sekaranglah masa yang tepat. Mari berpantang dan berpuasa, mari belajar menyangkal diri kita sendiri. Mari bebaskan diri dari jeratan duniawi itu. ......(Set, Masa Prapaskah 2013)