JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Who Can Follow Him?

AddThis Social Bookmark Button

" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

(Mat 19:21)

 

Saat membaca kutipan ini, dalam hati saya sanksi, masih adakah orang di jaman sekarang ini yang mau mengikuti saran itu? Jika mau sempurna, juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin, kemudian ikutlah Aku.... Berat sekali untuk dilaksanakan. Tidak membunuh, menghormati orang tua, tidak menyembah berhala, tidak bersaksi dusta, dll, ternyata belum cukup. Tuhan masih menyarankan itu: Lepas semua harta bendamu! Tinggalkan semua materi yang kau kumpulkan detik demi detik selama ini! Ayo ikut dengan-Ku...! Jika begitu adanya, masih adakah orang yang sempurna saat ini?

 

Jangankan menjual seluruh harta untuk kaum papa, kadang memberi rb 1000,- untuk pengemis di pinggir jalan yang kita lalui saja berat hati. Entah dengan alasan takut ga mendidik, atau pura-pura tidak melihat, dan segudang alasan lainnya. Belum lagi kalau ingat sulitnya saat tanggal tua... J

 

Biar pun sulit menemukan orang seperti itu, yang sempurna di mata-Nya, tetapi beberapa kisah di bawah ini mungkin bisa menjadi permenungan kita bersama. Siapa sajakah mereka?

 

Rabeder Si Pencari Kebahagiaan Sejati

Rabeder tumbuh miskin dan berpikir bahwa hidup akan indah jika ia punya uang. Tapi ketika dia menjadi kaya, Karl menemukan bahwa ia tidak bahagia, sehingga ia memutuskan untuk memberikan semua kekayaannya: “. Ide saya adalah untuk tidak memiliki semuanya. “Uang adalah kontraproduktif – mencegah kebahagiaan yang akan datang.”

Pada blok yang sudah dijual, adalah villa mewah dengan pemandangan danau di Pegunungan Alpen,42-hektar real estate di Prancis, enam glider, dan perabot interior dan bisnis aksesoris yang membuatnya sangat kaya.

Sebaliknya, dia akan pindah dari istana mewahnya di Alpen ke sebuah pondok kayu kecil di pegunungan atau gubuk sederhana di Innsbruck. seluruh kekayaannya disalurkan ke organisasi amal di amreika Tengah dan Amerika Latin, tetapi ia bahkan tidak ikut campur dalam pemanfaatannya.

 

Miliarder tunawisma

 

Ternyata tidak semua miliuner memiliki mobil dan rumah mewah. Bahkan, ada miliuner yang tunawisma. Kedengarannya memang agak janggal, tetapi itu adalah sebagian fakta yang terungkap dari sosok pebisnis dunia asal Prancis, Nicolas Berggruen (50).

 

Berbeda dengan kalangan miliuner lainnya, pemilik usaha waralaba dunia Burger King ini sama sekali tidak memiliki rumah dan mobil mewah. Hidupnya dalam arti harfiah benar-benar nomaden. Karena tunawisma, dia pun tidur dari satu hotel ke hotel lain seraya menjalankan bisnisnya yang tersebar di berbagai negara. Dia tidak tertarik untuk membeli rumah atau mobil di setiap negara tempat bisnisnya itu berada. Padahal dia sangat kaya, apa pun dapat dibelinya. “Memiliki harta benda bukan lagi hal yang menarik buat saya”, ujar Berggruen seperti dilansir Daily Mail baru-baru ini.

 

Saat ini kekayaannya ditaksir bernilai 1,5 miliar poundsterling. Namun, hal itu tidak membuatnya kemaruk harta. Bahkan, dia berjanji, pada akhir hayatnya nanti, ia akan menyumbangkan kekayaannya untuk lembaga amal dunia.“Apa pun yang saya punyai di dunia ini hanya sementara”, kata Berggruen yang sosoknya lebih dikenal sebagaidermawan daripada sebagai pengusaha itu. Dia meyakini, saat manusia mati, yang akan dikenang bukan hartanya, tetapi tindak-tanduk selama hidup

Saya sendiri tidak begitu yakin apakah kedua orang di atas, dan mungkin beberapa orang lainnya yang bersikap ekstrim seperti mereka memang sempurna, karena kita tidak tahu apa motivasi mereka sebenarnya. Apakah tindakan menjual harta itu karena keinginan batin untuk mengikuti jalan Tuhan, atau karena untuk pemenuhan kebutuhan pribadi (misalnya perasaan ingin lepas dari beban, atau lepas dari kejenuhan dan kebosanan, atau bahkan untuk kebahagiaan yang nota bene adalah kebahagiaannya sendiri)? Tidak ada yang tahu pasti bukan?Bahkan bisa saja mereka saat ini juga mengalami pergolakan batin tentang tindakan ekstrim yang telah mereka lakukan. Tetapi tetap saja mereka sungguh luar biasa. Mereka bisa menjadi sumber inspirasi banyak orang. Dan disaat kita semua yakin bahwa sangat sulitlah untuk menjadi sempurna, mungkin mereka mengajarkan kita bahwa usaha ke sanalah yang terpenting. Memang sulit untuk sempurna, memang sulit untuk berbuat baik, memang berat untuk mengikuti jalan kebenaran, tetapi yang terpenting adalah usaha kita, bahwa dari hari ke hari segala pikiran, sikap, dan tindakan kita selayaknya mengarah kesana. Bukan menjadi sempurna yang terutamanya, tetapi proses dan usaha menjadi sempurna.... Mungkin itu yang pantas kita lakukan setiap harinya.

 

Dalam hati saya masih penasaran.... Apakah ada orang yang bisa benar-benar 100 % mengikuti jalanNya itu? Apakah para rohaniwan yang saya lihat sehari-hari? Bukankah sekarang semakin jarang saya lihat para rohaniwan yang terlihat berkesusahan dalam hal kebutuhan dasar? Setahu saya, justru makin banyak rohaniwan (tidak peduli dari agama apapun) yang sekarang makin gemuk, makin perlente, dan bahkan sarana transportasinya pun bermobil.... Biar pun bukan milik pribadi, bukankah fasilitas penggunaannya sendiri merupakan kenikmatan tersendiri? Jadi siapakah yang benar-benar bisa lepas dari lengketnya lem harta kekayaan ini? Hmmm..... Mungkinkah para pertapa yang memang mengabdikan hidupnya untuk berdoa bagi seluruh umat manusia? Yahhh.... Akhirnya hanya mereka sendiri dan tentunya Tuhan yang tahu. Semua tergantung pada motivasinya sendiri-sendiri. Yang jelas, mari kita terapkan inspirasi yang telah mereka berikan. Sedikit demi sedikit, berharap dengan rahmatNya kita semakin mendekati citraNya. Biar pun berat.... Karena semakin kita berkutat dengan materi, semakin beratlah beban hidup kita. Maka memang wajar (menurut saya pribadi) dan manusiawi saat ada rasa enggan di hati kita masing-masing. Dan itu sudah pernah dialami oleh seorang anak muda  kurang lebih 2000 tahun yang lalu....

 

“Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” (Mat 19:22)

 

Apakah kita termasuk seperti orang muda yang sedih itu? Hanya kita yang tahu.... (Set)