JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Mengapa Harus Memberi

AddThis Social Bookmark Button

Mengapa Harus Memberi

“……Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

(Kis 20:35)

 Dalam perjalanan ke kota Bogor dengan angkot, di tengah-tengah himpitan penuhnya penumpang dan cuaca panas, saya masih dikejutkan dengan suatu fakta. Di pertigaan jalan depan terminal Baranang Siang, naik seorang bapak-bapak yang berbaju kumal dan terlihat letih. Karena belakang sudah tidak bisa dijejali pantat lagi, dia akhirnya duduk di depan, mepet dengan sopir. Lalu sejenak kemudian dia mengobrol dengan sopir, dan ketahuan bahwa dia adalah seorang pengemis. “Lier oii…. Dah jam segini baru dapet 200 ribu…..” Katanya dengan suara yang tidak ditahan sehingga semua penumpang pun mendengar. Saya pun terhenyak…. “Hahhhh….. 200 ribu?” Saya pun menengok jam tangan penumpang di sebelah saya. Waduh, baru jam 2 siang sudah mendapat 200 ribu…. Alamak….

 

Maka dalam perjalanan selanjutnya, benak saya hanya dipenuhi kehidupan bapak tadi. Cukup bermodalkan tangan tengadah dan suara / wajah memelas, dan sedikit daya tahan menahan panas dan debu jalanan, dia bisa mengumpulkan rupiah segitu banyaknya. Jika diandaikan selama sebulan dia kerja hanya 20 hari, maka penghasilannya 4 juta rupiah minimal.

Itu jauh lebih tinggi dari upah buruh pabrik yang bekerja penuh di Bogor, juga lebih tinggi penghasilan rata-rata pegawai baru yang lulusan S1. Wahhh…. Ternyata begitu ya…. Sebuah fakta yang menarik. Saya sendiri waktu itu menjadi tersenyum, mengingat kadang saya juga menyempatkan diri memberi ke pengemis jika ada uang lebih. Padahal, belum tentu penghasilan saya segitu… J

Awalnya saya menjadi mengeluh dalam hati. “Wah, enak sekali pengemis itu ya…. Aku saja yang bekerja dan dulu disekolahkan dengan uang yang tidak sedikit, sekarang penghasilanku ya begini-begini saja…” Cuma lama-lama saya terdiam. Masak saya membandingkan diri dengan kehidupan orang lain… Memang saya mau menadahkan tangan sepanjang hidup saya? Sepanjang hidup menerima sesuatu dari orang lain? Apakah saya bisa hidup dan bahagia dengan cara seperti itu? Saya menjadi tersenyum dalam hati. Bapak itu barusan juga mengeluh. Cuma menadahkan tangan, menerima uang dari orang lain, jam segini sudah mendapat uang sejumlah 200 ribu, dan masih mengeluh…. Apakah dengan penghasilan lebih besar dari buruh dan dariku misalnya, pengemis itu hidupnya bahagia? Tidak ada yang bisa memastikan….

Jika direnungkan, kita semua cenderung memilih untuk menerima dibanding memberi. Sedari bayi, masa kecil, remaja, dan bahkan menginjak dewasa, sebagian besar dari kita masih menjadi orang-orang yang lebih banyak menerima. Saat bayi, kita menerima perhatian berlebih dari orang tua kita. Saat bisa berjalan pun, kita menerima bimbingan dan suapan nasi dari ibu kita. Saat sekolah, kita menerima uang jajan dan perhatian orang tua dan guru. Saat kuliah pun, kita masih menerima bantuan dari orang tua. Saat baru lulus, kita juga tidak bisa lepas dari kebiasaan menerima ini. Dan bahkan, saat sudah di dunia kerja pun, bisa-bisa kita hanya berfokus pada menerima, bukan memberi. Ahhh, gajian masih 2 minggu lagi…. Tidak terpikir, apa yang bisa saya beri selama 2 minggu ini.  Ahhh… Mengapa gaji saya hanya segini? Tidak terpikir, apa saja yang telah saya berikan ke perusahaan?

Kebiasaan menerima (bukan memberi) ini bisa melingkupi kita di dalam setiap aspek kehidupan. Dalam relasi suami-istri/pacaran misalnya. Saat sedang ada perselisihan dan merasa sedih atau disisihkan, yang terpikir adalah mengapa dia tidak memberi perhatian kepadaku? Mengapa aku dicuekin? Mengapa sekarang dia berubah terhadapku? Dan lain-lain tentunya. Kalau kita perhatikan, segala nada protes ini berpangkal pada kebiasaan kita menerima sesuatu dari orang lain. Kita seakan menjadi bahagia jika menerima perhatian dari orang lain. Tetapi rasa bahagia itu juga akan cepat menghilang saat kita tidak menerima lagi perhatian. Apakah kebahagiaan itu seperti itu? Terjadi dan diperoleh saat kita menerima sesuatu dari orang lain? Kalau sejatinya kebahagiaan seperti itu, alangkah sialnya kita, karena yang akan kita dapat hanyalah penderitaan. Setiap waktu kebahagiaan kita akan tercabut saat yang memberi sesuatu ke kita pergi. Lebih sial lagi, dunia akan dipenuhi oleh pengemis bukan?

Saya menjadi teringat kembali oleh cerahnya wajah keponakan saya saat dia diberi kesempatan memberi uang seribu kepada pengemis ibu-ibu (lihat kisahnya di: Anak ini yang empunya kerajaan surga). Betapa uang yang sebetulnya bisa untuk membeli permen karet kesukaannya itu ia pilih untuk diberikan ke orang lain, entah apa dasarnya. Yang jelas setelah memberi, dia sangat cerah dan ceria.Cerahnya wajah keponakan saya itu juga membuat cerah wajah mamanya, juga ke saya yang kebetulan mendengar kisahnya, dan semoga kepada kita semua. Cerahnya wajah keponakan saya itu juga yang kadang membuat batin saya tergerak untuk memberi sesuatu kepada orang yang lebih membutuhkan.Mungkin kita semua harus mencoba untuk menjadi seperti keponakan saya, belajar memberi sesuatu yang berharga kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Belajar memberi dan memberi…. Sudah terlalu banyak kita menerima sesuatu (dari orang tua, saudara, suami/istri, rekan, dan tentunya dari Tuhan sendiri). Saatnya sekarang kita memberi. Semoga kita semua beroleh wajah cerah…. Itulah wajah kebahagiaan. Amin….(Set)

Bogor, 23 Mei 2012