JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Nutrisi Batin Harian adalah ulasan sederhana tentang bacaan kitab suci harian yang berdasarkan kalender liturgi katolik. Dengan membaca dan  merenungkan secara rutin sajian ini, minimal kita sudah secara tidak langsung membaca bacaan kitab suci setiap hari. Harapannya, semoga bisa menjadi nutrisi bagi batin kita yang memang harus kita siram setiap hari. Tuhan Memberkati kita semua...

Kuingin Dipeluk Simbok Lagi

Kuingin Dipeluk Simbok Lagi

Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.”

(Luk 12 : 43)

 

Baru lima tahun kutinggalkan kampung halamanku, tetapi seakan sudah lama sekali aku pergi. Rerimbunan pohon bambu di kiri-kanan jalan yang dulu menjadi tempat favoritku kini sudah hilang, berganti dengan bangunan rumah-rumah baru. Hamparan sawah menghijau kini telah hilang. Ahh…. Malam penuh kerlip kunang-kunang yang selalu kurindu di rantau bakal ga bisa kunikmati lagi.

 

Dengan gemetar, kupandangi pintu reyot rumahku. Ya Tuhan… Hanya kereyotan rumahkulah yang ternyata tidak berubah. Simbok…. Ini anakmu pulang Mbok. Sepi… Kubuka pintu depan, dan bau tanah lantai rumah terasa segar menusuk hidungku. Pasti simbok sedang ke sawah…  Maafkan aku Mbok, anak yang tidak berbakti. Pergi tanpa pesan, hanya meninggalkan aib buatmu. Kubaringkan tubuhku di dipan sebelah tungku. Dan bayang-bayang hidupku di rantau kembali hinggap…

 

 

Hanya bermodal tekad dan rasa malu, kudatangi ibu kota. Tidak punya ijazah dan kenalan, hanya mengandalkan otot badan yang sehari-hari akrab dengan cangkul, akhirnya aku jatuh ke dalam jaringan preman jalanan. Berbagai pengalaman kelam pun kualami. Hingga akhirnya aku kena penyakit yang memalukan yang hampir merenggut nyawaku. Di saat terbaring lemah hampir mati itulah aku teringat simbok.

 

Aku tidak mau mati sendirian saat itu, jika pun mati, aku ingin dipeluk simbok. Dan entah kenapa, aku yang bertahun-tahun berkubang dosa, merasa takut sekali untuk mati. Aku tidak mau masuk neraka. Tidak mau…. Karena aku yakin, aku bakalan tidak ketemu simbok jika kesana. Kuyakin simbok masuk surge nantinya. Aku tidak punya apa-apa. Aku hanya punya simbok.Aku tidak mau di alam mati pun tidak bersama simbok. Kumohon-mohon kepada Tuhan saat itu, agar aku diberi kesempatan sekali lagi. Dan hanya semangat itulah yang membuatku bertahan.  Setelah sembuh aku pun nekad pulang, tidak pedui dengan penerimaan orang sekampung yang dulu memukuliku karena maling TV. Tetapi bagaimana dengan simbok…? Maukah ia memaafkan dan menerimaku lagi…?

 

“Lee…. Toleeee, bangun Le..!!”. Agak kaget aku terbangun. Rupanya sudah menginjak petang. “Ahh… Pakde…. Maafkan aku Pakde…”, hanya kata itu yang bisa terucap, sambil kusujud di kakinya. Pakde hanya mengusap kepalaku. “Simbok mana Pakde…?”  Aku jadi teringat dengan tujuanku pulang. Pakde hanya terdiam… Dan tanpa banyak kata, Pakde berjalan ke belakang rumah. Dan aku terhenyak, kulihat gundukan tanah yang masih merah… “Ahh… Pakde..?”, tanyaku sambil memandangnya dalam keremangan petang. Aku terduduk lemas di tanah begitu kulihat pakde mengangguk. Tetesan air mata yang 5 tahun ini seperti hilang, kini tertumpah deras di pusaran simbok. Tak kuhiraukan lagi ajakan pakde untuk masuk rumah. Dan malam itu, malam pertama aku ingin kembali lagi ke pelukan simbok, kuhabiskan malam sampai pagi menjelang dengan terpekur di samping pusaran simbok.

 

Dan aku akan menepati janjiku. Janjiku kepada Tuhan, juga janjiku kepada simbok. Aku harus bertobat. Aku harus berbuat baik seperti simbok. Semoga dengan begitu, aku masih diberi kesempatan olehNya, dan nanti boleh ke pelukan simbok lagi jika kumati.

 

Janji itu yang kuhidupi sampai kini. Karena aku juga tidak tahu, kapan waktuku akan diambil olehNya. Aku tidak mau jika saatnya mati, aku tidak siap lagi seperti yang dulu…. (Set)

 

Bogor, Rabu 19 Okt 2011

Salam Sejahtera Saudaraku

Salam Sejahtera Saudaraku

“Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.”

(Luk 10 : 6)

 

“Inilah saatnya…. “, kata Rano dalam hati. Lima tahun bergelut dengan buku di bangku kuliah dan diakhiri dengan berpuluh-puluh email lamaran ke berbagai perusahaan. Dan kini adalah awal baru baginya. Masuk kerja hari pertama . Beberapa strategi menghadapi suasana tempat kerja baru yang ia browsing semalam sudah ia pelajari baik-baik. Dan satu senjata yang menjadi andalannya membuat Rano yakin sekali.

 

Salam…. Ya, itulah andalannya selama ini. Sederhana memang, hanya bermodal kata: “Selamat pagi, selamat siang, salam sejahtera,permisi, punten, dll”,  atau bahkan hanya sekedar senyum dan menganggukkan kepala. Sejak peristiwa kerusuhan Mei 1998, Rano semakin menghidupi kebiasaan salam itu. Terlebih, salam itulah yang menyelamatkan dia beserta seluruh anggota keluarganya dari amukan massa. Seluruh tetangga melindunginya saat itu, dan mengatakan bahwa keluarganya adalah saudara mereka. Dan itu semua hanya karena kebiasaan memberi salam saat bertemu dengan warga sekitar. Bahkan saam itu juga yang membantunya mengatasi segala kecemasan saat wawancara kerja.

 

Dan kini, dengan diantar oleh manajernya, Rano dengan penuh keyakinan berjalan dan masuk ke ruang kerjanya. Ada sekitar 15 orang di situ. Dan tidak menunggu diperintah, salam itu juga yang ia lemparkan dengan penuh ketulusan. Tidak peduli apakah akan dibalas atau tidak. Karena sesuatu yang dijiwai ketulusan tidak berharap akan balasan.

 

Hari ini kita disadarkan, bahwa rupanya strategi andalan Rano tadi sudah diberikan oleh Yesus. Berarti sudah berumur sekitar 2000 tahun. Sungguh, jika dilihat dari usianya saja, sebetulnya kebiasaan salam memang sangat wajar dan pantas jika dijadikan andalan, terutamanya dalam pergaulan sehari-hari. Beberapa hal mungkin menjadi kendala bagi kita. Misalnya kita tidak terbiasa sehingga merasa kaku dan sungkan. Ya ini hanya masalah kebiasaan saja. Atau mungkin kita juga pernah mengalami, salam yang kita lontarkan tidak dibalas, bahkan mungkin dijawab sambil membuang muka. Jika itu yang terjadi, itu bukan masalah sebenarnya. Yang penting haruslah kita memberi salam dengan penuh ketulusan dan niat baik. Karena salam yang diucapkan dengan kesungguhan hati akan membangkitkan simpati, dan terlebih, menjadi sebuah doa tulus kita bagi orang lain. Siapakah yang tidak mau didoakan? Hmmm… J Dengan semakin sering memberii salam (artinya mendoakan yang kita salami), sadar atau tidak sadar, kita akan semakin sering juga diberi salam. Artinya kita akan saling mendoakan…. Dan indahnya, tanpa peduli apapun status, suku, agama, dll…. Dan Yesus sendiri berkata, jika tidak layak menerima salam kita, salam itu pun akan kembali ke kita.

 

Mari kita saling memberi salam… “Salam Sejahtera Saudaraku…” (Set)

 

Bogor, Selasa 18 Okt 2011

Berlimpah Tapi Kering

Berlimpah Tapi Kering

“Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

(Luk 12 : 15)

 

“Hebat sekali Bapak itu ya….”.

Waktu itu aku mengiyakan saja perkataan temen-temen di sebelahku. Kebetulan temen-temen satu kostku sedang main ke rumahku, di bawah lereng Merapi. Dan kegiatan makan salak kami di pinggir jalan terhenti sejenak karena melihat seorang bapak tetangga rumah yang sedang membawa sekarung salak di atas kepalanya. Memang hebat, dengan usia mendekat 70-an, masih kuat menahan beban seberat itu. Aku saja yang kala itu masih muda, merasakan sendiri beratnya sekarung salak dari kebunku.

 

Beberapa tahun berlalu,  keadaan  pun masih tetap sama. Dengan usia yang semakin tua dan kulit badan yang semakin mengering, bapak itu tetap bekerja keras setiap hari, biar pun sebenarnya segala kebutuhan sudah tercukupi. Bahkan bisa dibilang terlalu bekerja keras, atau istilah orang kampung ‘ngoyo’, artian mati-matian. Dan kekaguman orang-orang pun berubah menjadi sindiran-sindiran. “Ahh… itu seh namanya ga ingat usia dan nasib anak cucu! Masak semua kebun dan sawah dikerjakan sendiri semua, anak cucu tidak diberi kesempatan…. Kasihan anak, mantu, dan cucu-cucunya ya….” Akhirnya perkataan-perkataan seperti itulah yang muncul saat topic pembicaraan mengarah ke bapak tadi.

 

Dan tibalah saat tubuh hendak kembali ke hakekatnya, seonggok tanah. Di saat sakit mulai mendera, justru jerih payah dari kerja keras sebelumnya menjadi seakan hambar. Sebanyak apapun harta, toh suatu saat perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan. Dan di ranjang pesakitan, hanya kesepian yang setia menemani. Hanya sesekali anak dan cucunya menengok ke rumah sakit. Ini berbeda sekali dengan pasien sebelahnya. Banyak sekali yang datang menjenguk, membawa oleh-oleh dan menghibur. Dan setiap malam, dengan setia keluarga menemani. “Ahhh…. Kemana keluargaku? Kemana semua tetanggaku? Mengapa tidak ada yang peduli kepadaku….? Ya Tuhan…. Apa yang terjadi padaku?” Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang sekarang setia berputar di kepalanya.

 

Ya….. Banyak dari kita yang tidak sadar mana yang mendasar dan mana yang tidak. Di saat desakan kebutuhan menghimpit, kita akan mudah sekali terjerumus dalam suatu kelekatan materi. Hidup kita akan selalu dipenuhi keinginan dan upaya mencarinya. Jika sudah seperti ini, maka segala hati dan pikiran akan terfokus ke satu hal tadi. Maka hal-hal di luar itu menjadi tidak penting dan serasa tidak dibutuhkan. Padahal hidup kita tidak mungkin bergantung pada materi atau apapun yang bersifat duniawi, sebab semuanya akan berubah. Bahkan diri kita juga cepat berubah. Akan menjadi sia-sia jika kita bergantung pada sesuatu yang mudah berubah. Maka masuk akal dan sepantasnya jika kita hanya bergantung pada sesuatu yang kekal dan abadi, yaitu Tuhan sendiri. Dialah pegangan yang akan membuat batin kita berlimpah kebahagiaan. Tidak seperti harta, yang terlihat berlimpah, tetapi sebetulnya menguras dan membuat kering batin kita. (Set)

 

Bogor, Senin 17 Okt 2011