JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Nutrisi Batin

Nutrisi Batin Harian adalah ulasan sederhana tentang bacaan kitab suci harian yang berdasarkan kalender liturgi katolik. Dengan membaca dan  merenungkan secara rutin sajian ini, minimal kita sudah secara tidak langsung membaca bacaan kitab suci setiap hari. Harapannya, semoga bisa menjadi nutrisi bagi batin kita yang memang harus kita siram setiap hari. Tuhan Memberkati kita semua...

Cara Tuhan Menyembuhkan

Cara Tuhan Menyembuhkan

Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah” (Luk 13 : 13)

 

Begitu turun dari ojek, rasa asing langsung menyergapku. Kulihat sekelilingku… Hmmm, banyak sekali yang datang. Entah darimana saja asal mereka. Yang jelas, masih dengan satu tujuan, memohon sentuhan kasih dan kalau berkenan, berkah penyembuhanNya. Ahh… Masih 3 jam lagi acaranya. Kulangkahkan kaki ke tempat yang jualan kaos rohani, sekaligus berteduh dari rintik hujan. Udara dingin biara ini semakin terasa di kulitku. Puas melihat kaos bertema Yesus, Maria dan tulisan-tulisan religius, aku pun bergegas mengisi satu kursi kosong, di sebelah seorang bapak-bapak yang terlihat kedinginan.

Ketika Dunia Dipenuhi Apatisme

Ketika Dunia Dipenuhi Apatisme

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

(Mat  22 : 39)

 


………. Selama tujuh menit kemudian, orang-orang yang lewat di sekitar tempat kejadian dengan cuek terus melenggang dan kemudian Yue dilindas lagi oleh sebuah truk. Seorang pemulung kemudian menariknya ke tepi jalan dan ibu si bayi ikut menolong.

Kematian Yue mengundang reaksi di dunia maya.  “Aku berharap malaikat kecil ini, yang dibuang oleh masyarakat, jadi alarm tentang betapa pentingnya pendidikan moral,” tulis seorang blogger. “Semoga kamu bisa menemukan cinta di surga. Dunia ini disesaki dengan apatisme,” tulis blogger lainnya……
(Diambil dari: Balita Korban Tabrak Lari itu Meninggal, http://id.berita.yahoo.com)

 

Cuplikan di atas adalah berita yang kini lagi hangat. Bukan karangan atau trik untuk menarik media, tetapi tragedi  yang sungguh-sungguh terjadi. Benar-benar dunia yang dipenuhi apatisme terhadap kemanusiaan. Seorang bayi harus mengalami kejadian yang sangat memilukan. Di saat bayilah kita sebagai manusia sangat rapuh dan butuh perlindungan. Tetapi ternyata itu semua, di jaman yang katanya modern ini, tidak cukup untuk menarik simpati orang-orang dewasa sehingga harus meninggal terlindas 2 kali oleh truk. Inikah sifat asli manusia, yang katanya makhluk berakhlak itu?

 

 

Sungguh ironis. Nyawa manusia sepertinya mengalami penurunan penghargaan. Bahkan, jika mau jujur, terkadang malah diberlakukan lebih rendah dari nyawa hewan. Orang akan dengan mudah menolong, atau setidaknya mengambil  hewan  (misalnya ayam, anjing, domba, dll) yang tertabrak di tengah jalan ke tepi jalan, agar tidak terlindas lagi. Tapi ini berbeda ketika yang mengalami kecelakaan adalah seorang manusia. Jika tidak merasa kenal, kita mungkin cenderung untuk membiarkan orang yang tergeletak di tengah jalan, berharap akan ada orang lain yang akan membantunya. Banyak alasannya…. Entah karena terburu-buru, takut, atau tidak mau repot karena harus berurusan dengan rumah sakit dan kepolisian. Dan sikap seperti itu sekarang sepertinya sudah dianggap wajar.

 

Apakah memang dunia kini sudah dipenuhi sikap-sikap seperti itu? Kemanakah perginya nilai-nilai kasih, akal budi, dan rasa kemanusiaan yang merupakan anugerah khusus bagi kita semua? Jika memang sudah pergi dari jiwa kita, lalu apa bedanya kita dengan binatang? Bahkan binatang pun masih bisa bersimpati terhadap penderitaan sesamanya…

 

Mari kita renungkan secara mendalam. Memang mudah untuk mengatakan betapa biadabnya orang-orang yang membiarkan bayi tersebut terlindas. Tapi jangan-jangan kita sendiri juga tidak banyak berbeda dengan orang-orang itu, biar pun dalam kadar dan peristiwa yang berbeda. Semoga tidak…. Jika pun pernah mengalami, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Mari berharap, dengan memulai dari diri kita masing-masing, akan tercipta lagi dunia sekitar kita yang penuh dengan rasa haus akan cinta kasih terhadap sesama. Sebab jika tidak, sebetulnya kita juga tidak mengasihi diri kita sendiri. Dengan membiarkan hati tumpul terhadap kasih terhadap sesama, berarti kita juga membiarkan diri kita menjadi bukan manusia lagi…. Bahkan menjadi makhluk yang lebih rendah dari binatang.

 

Sebegitu nekadkah kita, berani melukai hati dan mensia-siakan segala pengorbananNya….? Ingat, kita diciptakan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna di antara segala ciptaanNya. (Set)

 

Bogor,  Minggu 23 Okt 2011

Tawanan Seonggok Tanah

Tawanan Seonggok Tanah

Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?.”

(Rm 7 : 24)

 

“Ayuk Dik…. Ga bayar juga ga papa…”, ajak mbak itu sambil tersenyum manis. Memang manis raut mukanya. Sekilas jika ketemu di jalan, aku ga akan menyangka bahwa dia penghuni malam di daerah terkenal itu. Sarkem, alias Pasar Kembang. Yang pernah ke Jogja atau orang yang tinggal di sana pasti paham apa makna dari Sarkem.

 

Sambil terus mendengarkan alunan campursari dari 2 pengamen yang standby di halaman rumah bordir itu, sejenak kutelusuri raut muka mbaknya. Dan aku membalas tersenyum malu. “Ahh… Kapan-kapan aja ya Mbak. Saya cuma mengantar temenku tadi kok…” Dia hanya terus tersenyum sambil berjalan mendekatiku dan duduk di sebelahku persis. Sejenak kuhirup parfum lembutnya, dengan mata tetap terpaku pada ayunan jari pengamen. Salah tingkah…. Kurasakan geseran lembut kulit tangannya di lenganku.  “Hmmm…. Namanya sapa Dik?” “Tinus Mbak…”, sambil kuayunkan tanganku menyambut uluran tangannya. “Napa ga mau sama Mbak? Jijik sama Mbak ya…?” Aku hanya gelagapan. Waktu itu aku baru menginjak semester pertama bangku kuliah. Ahhh… Tapi untunglah, rupanya dia mengerti kemudaanku. Sejenak memberi nafas padaku, kemudian entah kenapa kami mulai nyaman ngobrol. Atau lebih tepatnya, dia yang banyak bicara, dan aku hanya sesekali menimpali seperlunya.

 

Dengan lancar, seolah sudah lama mengenalku dan percaya kepadaku, mbak tadi mulai bercerita semua tentang dirinya. Dari cita-citanya yang pengen merasakan bangku SMA dan kuliah sepertiku, sampai detil kenapa sampai dia terjerumus dan terjun ke dunia malam. Aku waktu itu hanya seperti orang bloon. Bener-bener tidak tahu apa yang harus kuucapkan. Hanya dalam hati menyayangkan dirinya, di samping sedih mendengar kejadian yang membuatnya nekad melacurkan diri. “Kenapa ga berhenti Mbak?”, tanyaku lirih, takut menyinggung perasaannya. “Sudah kok Dik… Beberapa kali aku coba membuka warung, ikut kerja di salon, bahkan ke pabrik juga. Tapi ternyata sulit Dik… Aku tidak sabar. Uangnya kecil banget. Rupanya karena sudah terbiasa dapat uang mudah, aku jadi males untuk kerja halal…”. Aku pun terdiam. Dan kucoba hitung berapa uang yang ada di kantongku. Tipis… Ah ga papa. Nanti biar kukasih padanya….

 

Kurang lebih 30 menit berlalu, dan temenku pun muncul dari pintu. Kulihat sejenak rambut acak-acakannya. Terus terang aku tertarik untuk mengamati raut mukanya, ingin tahu bagaimana orang yang sudah terpuaskan itu. Ahh… Ternyata biasa saja. Kusut malah…. Dan aku pun pamit kepada mbaknya tadi. Sambil tersenyum, kucoba sisipkan uang di tangannya. Tapi karena bersikeras menolak, akhirnya kukembalikan lagi ke kantong. Seiring menjauhnya motor, kulambaikan tanganku kepadanya, sambil berharap dalam hati,semoga kelak ada pria baik-baik yang akan mengangkatnya dari lumpur dunia malam.

 

Sesampai di kost, tak kuhiraukan lagi ocehan kesal dari temenku. Yang ada di bayanganku kala itu hanyalah sosok mbak tadi. Waktu itu aku berpikir, seandainya dia mau berhenti, aku pun bersedia menjadi pacarnya. Hmmm… Pikiran itu memang bener-bener mampir di otakku. Walau pun agak panas juga, saat temenku bilang ingin memakainya jika nanti punya uang lagi. Ahhh…. Aku juga menyesalkan perbuatan temenku. Saat kutanya, dia juga sebenernya ingin berhenti, tapi tidak tahu kenapa sangat susah. Bahkan sempat suatu saat rela tidak makan, karena uangnya dipakai ke Sarkem. Dan akhirnya, aku juga yang ga tega, terpaksa mentraktirnya berkali-kali.

 

Entah bagaimana kini keadaan dua orang tadi. Di satu pihak, ada yang terjerumus dalam dunia malam, dan akhirnya tidak bisa melepaskan diri dari kemudahan yang sudah didapat. Bisa dibilang, sudah menjadi tawanan dari keinginan kemudahan mencari uang dll, mungkin juga tawanan dari kenikmatan tubuh yang diperoleh. Tapi lebih parah lagi adalah temenku, yang akhirnya kutinggalkan, dia kurasa sudah menjadi budak dari nafsu tubuhnya. Yang namanya nafsu pastinya tidak akan ada akhirnya, selain nanti jika sang tubuh sudah kembali menjadi tanah.

 

Jika tidak hati-hati, kita pun yang merasa diri baik, sebetulnya juga sangat mudah untuk menjadi hamba dari keinginan tubuh lemah kita ini. Kita mudah (mungkin tidak disadari juga) mengumbar mulut kita dengan kata-kata kotor, membiarkan mata memandang segala sesuatu yang ‘kotor’, menjamah sesuatu yang bukan milik kita, melangkah ke jalan kegelapan yang bukan jalurNya, dan lain-lain. Jika sudah seperti itu, sama saja kita membiarkan segala pemberianNya yang suci dan berharga ini (ingat tubuh kita adalah bagian dari citra Allah) jatuh ke dalam tawanan seonggok daging, yang suatu saat akan busuk dan menjadi tanah. Tegakah kita menyerahkan hidup kita ke suatu materi yang tidak berharga itu?

 

Tubuh kita, entah kita baik atau tidak, memang suatu saat akan menjadi tanah. Tetapi roh kitalah nanti yang akan berjalan sesuai hidup kita kini, ke rumah Bapa atau harus menjadi tawanan seumur jaman ke dalam genggaman setan. Yaa… Mari kita pilih jalan mana yang harus ditempuh. (Set)

 

Bogor, Jumat  21 Okt 2011

Ketika Harus Kembali PadaNya

Ketika Harus Kembali PadaNya

Mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

(Luk 13 : 9)

 

“Thanks ya Dit….. Aku sekarang merasa sangat lega. Kalau tidak ada kamu, entah apa jadinya tadi…”, kata Cicil sambil membereskan tumpukan kertas dan tisu yang berserakan di meja kerjanya. Dibantunya Cicil mengambil tisu-tisu yang sebagian masih terasa basah oleh air mata. Sejenak mereka berjalan ke pintu keluar. Diliriknya Cicil yang sedang tersita oleh HP di telinganya. Hmm….. Magrib. Berarti kurang lebih 2 jam sudah ia mendengarkan segala keluh kesah rekan kerjanya itu. “Mari Pak….. Maaf membuat Bapak menunggu ya…”, kata Adit kepada Pak Sapto,  saptam yang kadang ngobrol dan pinjam uang, atau lebih tepatnya diberinya uang (karena selalu tidak teganya setiap melihat Pak Sapto harus mengembalikan uang dengan mencicil). Setelah pamit ke Cicil yang masih menunggu jemputan James tunangannya, dibelokkannya langkah kakinya ke Bahari, warteg langganan sekaligus tempatnya berlabuh setiap sore.

 

 

“Ehh…. Nak Adit. Biasa Nak…?” Adit hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ke Bu Atmi, pemilik warteg yang sudah hafal betul menu kesukaannya. Entah kenapa, segala urusan kantor dan kesepiannya jadi terlupakan jika duduk di warteg itu. Seperti biasa, dimatikannya dulu HP bututnya. Lumayan, 1 – 2 jam bebas menikmati suasana favoritnya. Hanya duduk, makan, ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok. Bebas dari segala urusan kantor, dan terlebih, sejenak mengistirahatkan gendang telinganya. Entah berapa jam dalam sehari dia harus rela mendengarkan berbagai jenis cerita dari rekan, bawahan, bahkan sampai boss. Dari cerita rutin sehari-hari tentang lika-liku rumah tangga, cerita yang membahagiakan, dan lebih seringnya cerita tentang kesedihan dan sejenisnya.  Seperti Cicil tadi. Sudah berapa kali cerita sedih sejenis (tentang ketidakharmonisan hubungannya dengan James) yang ditumpahkan ke telingannya. Mungkin jika dikumpulkan, tetesan air matanya Cicil sudah seember…. Hmmm, kadang membantunya menghilangkan kegalauannya tentang kangker yang semakin menggerogotinya. Dan hingga saat ini, alhamdullilah tiada yang tahu. Hanya Bu Atmi saja yang tahu. Itu pun sudah ia wanti-wanti, jangan sampai cerita ke siapa pun. Selain karena urusan memilih menu yang pas  dan aman buatnya, Adit sendiri merasa nyaman dengan Bu Atmi. Sudah 6 tahun lebih dia kenal Bu Atmi dan keluarganya, dan semua menganggapnya sebagai anak. “Ahh, entah apa jadinya aku di ibu kota ini jika tak ada mereka”, batin Adit sambil meneguk tetesan kopi terakhirnya.

 

Dibawanya piring dan gelas kotor ke belakang. “Sudah, letakkan saja Nak Adit, nanti biar Yanti saja yang nyuci..”, dinikmatinya elusan tangan lembut Bu Atmi di bahunya. “Sana, mandi trus tidur di sini saja. Udah kemaleman, baju dan celana yang kemarin sudah ibu cuci dan setrika. Tadi harus dengerin curhat rekan lagi…?” “Iya Bu…”, jawab Adit sambil menghela nafas. “Ahhh… Nak Adit juga harus ingat kesehatan sendiri ya…” Adit hanya tersenyum. “Ma kasih ya Bu. Adit  udah merasa sehat lagi kok kalau udah di sini” Dan sekali lagi, elusan lembut di rambut kepalanya yang perlahan mulai rontok  oleh kangker membuat hatinya nyaman dan penuh kebahagiaan.

Elusan tulus dan sederhana yang tidak bisa dirasakannya sedari kecil. Entah kemana sosok seorang ibu yang melahirkannya. Dua puluh tahun lebih hidupnya, dari kecil hingga menjelang dewasa, dihabiskannya hari ke hari dengan kerinduan sekaligus kebencian dengan sosok wanita. Sudah tak terhitung berapa wanita terlena oleh raut muka dan sifat dingin kerasnya bagai batu. Dan mereka hanya menjadi korban balas dendamnya kepada sosok seorang ibu.  Ahh… Tak terhitung juga semua dosanya. Tapi kini semua sudah berlalu. Ternyata semua yang dulu dilakukannya tidak membuatnya puas dan lega. Justru rasa sepi dan berdosa selalu menghantuinya.

 

Semua memang sudah berubah. Ternyata sosok ibu jugalah yang mampu mengikis keras hati batunya. Yaa… Bu Atmilah yang memberikannya rasa berharga dan dikasihi. Cukup dengan merasakan elusan tangan dan sapaannya, rasanya hari esok menjadi menyenangkan untuk dilalui. Hari-hari menjadi sangat berbeda. Mungkin itu pulalah yang membuat semua orang nyaman curhat kepadanya, selain karena keterbatasannya yang lebih fasih dan sabar mendengarkan dari pada harus bicara. Cukup setia diam, sesekali terpaksa memberi saran di akhir cerita. Dan ternyata, tanpa disadarinya, rupanya memang hanya itulah yang menonjol darinya. Sekali lagi, itu juga cukup memberinya rasa berharga. Ya… Ternyata dia juga berguna bagi orang lain, setelah sekian lama dulu hanya menjadi sumber penderitaan bagi orang lain.

 

Suasana khas warteg mulai sepi. Dibaringkannya tubuh kurusnya di dipan, setelah membuang bungkus obat terakhirnya. Dan seperti biasa, disempatkannya menumpahkan segala risau ke satu Sosok yang mau setia mendengarkannya. Hanya satu, tapi cukuplah baginya. “Terima kasih Tuhan masih mau mendengarkan anakMu yang penuh dosa ini. Ampunilah segala kilaf yang dulu kuperbuat. Terima kasih atas 6 tahun yang sangat berharga bagiku ini. Terima kasih akhirnya Kau beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika memang berkenan, berilah aku satu hari lagi. Akan kulalui satu hari itu dengan penuh syukur…. Berkatilah Bu Atmi dan keluarganya. Berkatilah juga ibu yang melahirkanku, dimanapun dia berada. Mohon ampun jika kuhabiskan waktuku hanya untuk membencinya. Dan lindungilah aku di alam tidurku. Biarkanlah kuletakkan semua bebanku ke pundakMu….” Dan keheningan malam pun mulai menemaninya ke alam mimpi.

 

“Nak Adit…. Bangun Nak. Ini Ibu Nak….” Sejenak, elusan lembut dirasakannya di kepala. Tapi kini terasa jauh, seakan tidak menyentuh kulit kepalanya. “Ohhh… Inikah ibuku..? Benarkah Tuhan? Benarkah kauberi aku kesempatan merasakan elusan tangan ibuku? Tapi kenapa ada suara menangis Tuhan? Masih adakah orang yang mau menangis untukku? Apakah ibu menangis untukku Tuhan?…. Terima kasih Tuhan, aku sudah lega dan rela sekarang…” Dan dilihatnya seorang sosok ibu, disertai beberapa rekan kantornya, mengerumuni sesosok laki-laki tampan kurus yang terbaring di dipan sederhana. “Ahh… Itu kan Bu Atmi, yang sedang menangis tersedu dan memanggil namanya. Dan itu kenapa mereka semua pada menangis. Siapakah sosok yang mereka tangisi? Kenapa muka yang terbaring itu mirip denganku…??? Apakah itu aku? Ya Tuhan, apakah kini memang sudah saatnya Tuhan?” Dilihatnya sebuah senyum di sosok yang terbujur kaku itu, dan legalah hatinya. Yaa… Ternyata bisa kuakhiri perjalanan seluruh hidupku, juga masa gelap laluku, dengan sebuah senyum, disertai tangisan beberapa orang yang kukenal selama 6 tahun ini. Yaaa… Kulihat mereka semua kini membaik. Cicil dengan tunangannya, Pak Sapto bersama istrinya, Pak Andi bossnya, yang tak sungkan cerita tentang selingkuhannya, kini pun terlihat mesra dan sayang dengan istrinya.

 

“Yaa…. Ternyata aku berguna juga. Terima kasih atas kesempatan yang Kau berikan Tuhan. Kini terserah padaMu, mau dibawa kemana diriku. Kuserahkan diriku kembali seutuhnya, semoga masih pantas menjadi anakMu….” (Set)

 

Bogor, Sabtu 22 Okt 2011

Datang Membawa Pertentangan

Datang Membawa Pertentangan

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.”

(Luk 12 : 51)


“Udahhh… Gampang pokoknya. Ntar biar saya aja Pak yang bilang ke tokonya. Saya udah biasa kok Pak… TST.” Aku hanya terdiam waktu itu. Yah… Beginilah resiko kerja di proyek. Segala sesuatu terasa kabur. Mana yang salah mana yang benar menjadi beda tipisnya. Semua penuh trik. Dari barang-barang kecil seperti paku sampai pasir, semen, tulangan dan lain-lain dimark-up semua. Aku yang hanya dibagian administrasi hanya pasrah menerima lembar-lembar kwitansi yang kadang tidak jelas asalnya.

 

Serba salah. Ini sudah kontraktor ketiga buatku. Dua sebelumnya sudah kutinggalkan, dengan alasan kurangnya kenyamanan kerja, persis yang sekarang kuhadapi. Bukan berarti aku orang suci. Aku juga tahu semua butuh uang, termasuk istri dan kedua anakku. Tapi jika seperti ini terus, aku merasa berada dalam lingkaran perang batin. Mau diam, sama saja aku mengiyakan, padahal aku selalu menolak bagianku. Itu saja aku harus pasrah menerima pandangan sinis dari rekan-rekanku. Dan di akhir bulan, gantian aku yang kena getahnya. Biar pun hanya bagian administrasi, boss tidak mau tahu. Yang di depannyalah yang bakal kena semprot aduhai, tak tanggung-tanggung… Bikin kuping panas. Tetapi di sisi lain, mau menolak dan tegas berada di jalur seharusnya, aku yakin bakal dapat banyak musuh, seperti tempat kerjaku yang dulu. Masih untung jika cuma aku yang kena. Masalahnya jika sudah menyangkut perut anak istri, keluargaku pun tidak luput dari ancaman….

 

Dan selalu sama… Istriku ku pun menyerahkan semua kepadaku. Cuma tetap saja ada nada kecemasan di kata-katanya. “Berarti ada kemungkinan kita harus pindah lagi ya Mas…? Kasian anak-anak Mas, harus penyesuain lagi dengan lingkungan baru…”. Aku hanya terdiam. Apakah akan seperti ini terus nasib keluargaku? Harus bagaimana aku bersikap terhadap dunia real ini? Prinsip dan norma yang kupegang teguh, dan dulu yang mampu meluluhkan hati wanita yang kini menjadi istriku, kini mulai gamang untuk kupegang dan kubanggakan.

 

“Sudahlah Mas… Biar pun berat, tidak apa-apa. Aku selalu mendukungmu kok. Anak-anak juga mengerti. Coba kita tengok ke belakang, prinsip hidup kitalah yang mampu menguatkan kita. Biar pun Mas dipecat, nyatanya Mas diterima juga di tempat lain. Aku yakin, jika pun harus resign lagi, nanti pasti ada jalan. Kita pasrahkan saja kembali kepadaNya… Yuk, kita doa lagi yukkk…”, suara lembut istriku menyapaku. Hmm…. Suara titisan Bunda Maria, selalu mampu meluluhkan segala ketegangan dan kecemasanku. Segera kucium keningnya sambil berucap terima kasih.

 

Dan kembali aku dan istriku menyerahkan segalanya kepadaNya. Kuserahkan semua galau dan pertentangan di dalam hatiku. Yah… Aku harus tetap bangga dengan prinsipku, hidup di jalurNya. Percuma aku dan keluargaku ke gereja setiap minggu, jika apa yang sudah kuamini di rumahNya kuingkari di dunia kerja. Jika memang prinsip dan kebenaran membawa pertentangan batin, dan bahkan pertentangan dengan tempat kerjaku, kujalani saja dengan kepasrahan kepadaNya. Kuyakin Dia mengerti dan memahamiku, karena yang dialamiNya jauh lebih berat. Tidak hanya ditentang oleh sebagian besar orang, Dia malah sampai harus rela mati di kayu salib. Yaa… Ternyata salibku belumlah apa-apa…. God,  Please bless my beloved family. (Set)

 

Bogor, Kamis  20 Okt 2011