JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Penipu-penipu Ulung

AddThis Social Bookmark Button

 

Pernahkan Anda tertipu? Atau malah pernah menipu seseorang?

Beberapa tahun yang lalu saya pernah bekerja di sebuah distributor alat-alat kesehatan, dimana modus penjualannya melalui undian. Intinya orang-orang yang berpotensi mampu secara ekonomi akan diundang  (melalui surat yang diberi stempel instansi / bank sehingga meyakinkan) untuk datang ke tempat pameran (biasanya di mall), begitu sampai di sana akan disambut dengan ramah dan dianjurkan untuk mengambil hadiah. Hadiahnya bisa berupa peralatan yang dipajang di situ, tetap membayar tetapi diskonnya habis-habisan. Syaratnya cuma satu, yakni mengambil undian dan jika sudah mengambil tidak boleh dibatalkan. Nahhh..Harapannya kan tentu dapat TV, kulkas, dan sebagainya, yang berguna di rumah. Tetapi biasanya, yang didapat ya hanya satu item / jenis alat yang kurang dibutuhkan. Jadinya ya mau ga mau harus tetap membayar (biar pun sudah didiskon) biarpun sebetulnya tidak merasa membutuhkan. Saya yakin Anda pernah melihat modus atau model penjualan seperti ini, karena tersebar di seluruh mall.

 

Saat itu saya memperhatikan ekspresi rekan-rekan kerja saya, tetapi khususnya konsumen yang datang. Dari sisi penjual, tentu ekspresi gembira karena komisi akan naik seiring jumlah barang yang mampu dijual. Tetapi dari sisi konsumen, yang pasti rata-rata menunjukkan muka sangat kecewa, jengkel (karena merasa tertipu), tetapi juga sekaligus tidak berdaya. Saya yang saat itu berada dalam satu ruangan hanya mampu bertahan beberapa minggu.

Bukan karena tidak sanggup membujuk konsumen, tetapi lebih karena tidak tega melihat ekspresi kekecewaan dan ketidakberdayaan konsumen yang merasa jatuh dalam jebakan dan tertipu mentah-mentah. Dan apalagi, ketika saya renungkan, saya termasuk penipunya…. (di mata konsumen). AKhirnya saya berhenti…. Dan sejenak tenang biar pun korbannya adalah cacing-cacing di perut saya yang harus kelaparan lagi karena dompet tuannya menipis…. J

 

Menipu dan ditipu…. Itu selalu ada dan menghinggapi kita semua. Yaa… Kita semua, tanpa terkecuali. Baru-baru ini saya baru menyadari bahwa saya tidak perlu menuduh orang lain sebagai penipu, karena pada dasarnya saya sama saja. Saya adalah penipu! Hmmm…. Ini maksud saya:

 

Saya, kata lainnya adalah aku. Kata ‘aku’ ini yang selama ini menjerumuskan saya, mungkin Anda juga. Kita selalu mengatakan ‘aku’ dalam setiap kesempatan, dari pagi hingga malam, saat bersama teman, atau bahkan saat sendirian termenung di dalam kamar. Yang paling sering adalah kalimat : ‘HP ini milikku. Motor ini milikku. Akun facebookku Set…. ‘ Dan masih banyak kata / kalimat lainnya yang mengandung kata aku / milikku. Pernah saya merasa akun facebook saya dihack orang. Saat itu saya langsung panic, aduhhh….jangan-jangan nanti dipakai orang untuk iseng-iseng…. Saya pun menjadi tidak tenang, seakan saya sama dengan akun facebook tadi…. Hmmm, inilah penipu pertama bagi saya. Ini milikku…!  Kata milikku ini terlalu sering hinggap di kepala dan hati, sehingga lambat laun memasuki jiwa, dan menyihir kesadaran saya: “Saya adalah HP, saya adalah motor, saya adalah akun facebook, saya adalah….” Dan begitu HP/motor/akun facebook/pacar/suami/istri/anak/tangan/muka mulus/rambut/kulit putih saya hilang, rusak, atau menjadi jelek, saya menjadi uring-uringan, sedih, kecewa, frustasi, dan lain sebagainya. Kata ‘aku/milikku’ ini benar-benar penipu yang lihai. Mari kita renungkan, berapa banyak dari kita yang mengalami luka batin (duka mendalam) karena mengartikan kita masing-masing sebagai ‘aku/milikku’ ini. Bahkan, persepsi ‘aku/milikku’ inilah yang menipu bangsa kita menuju perpecahan dan perang. Jika tidak percaya, mari kita cermati tayangan TV nasional dan Koran-koran nasional. Isinya adalah pertentangan, perkelahian, perang karena mengatakan ‘Ini tanahku / ini rumahku / ini agamaku / ini istriku….dll’

 

Celakanya, kata aku  dan milikku ini tidak hanya berkenaan dengan benda saja, tetapi juga menyangkut perasaan. Mari kita ingat kembali apa yang kita ucapkan ketika kita mendapat HP baru / pacar baru / mobil / dll…. Biasanya yang terucap adalah aku senang, aku bahagia, aku nyaman, dll. Sekarang mari kita ingat apa yang terucap (di bibir atau di dalam hati) saat kita kehilangan sesuatu (motor, mobil, pacar. Suami, istri, tubuh yang semakin kurus, terkena kanker, rambut rontok, dll). Biasanya yang terucap adalah aku sedih sekali, aku tak berdaya, aku jelek, aku pecundang, aku hancur, dll. Kita menjadi merana dan larut dalam duka mendalam. Padahal sebelumnya mungkin saja kita merasa sehat, senang, bahagia, nyaman, dll. Ternyata perasaan sama saja. Dia adalah penipu ulung lainnya. Banyak dari kita yang menggantungkan seluruh hidup untuk mengejar perasaan ini, padahal dalam kenyataannya perasaan sendiri tidak dapat diandalkan karena rentan dan mudah berubah. Masak kita mau bergantung pada sesuatu yang mudah berubah dan rapuh seperti itu? …. J Tapi sekali lagi, kita hanya terbuat dari daging yang sangat mudah masuk dalam perangkap tipuan ini.

 

Lanjut! Kata aku / milikku dan segala perasaan yang mengikutinya juga memunculkan penipu ulung selanjutnya, yaitu yang dinamakan hasrat atau keinginan  / ambisi. Saat mobil kita hilang, muncullah perasaan sedih, kemudian timbul keinginan memilikinya kembali. Dan saat keinginan tadi tidak tercapai, tidak jarang yang menghalalkan segala cara dan masuk ke dalam dunia kejahatan. Itu baru contoh kehilangan sesuatu berupa barang. Ini juga bisa terjadi saat kita kehilangan pacar, suami, istri, wajah ganteng/cantik kita, rumah, dll. JIka tidak bisa dikendalikan, tipuan hasrat ini akan menggerus hidup kita habis-habisan…. Kita sepertinya hidup, tetapi sejatinya menjadi budaknya. Siapakah yang mau hidup menjadi budak? Hmmm….. Penipu-penipu ini memang sangat ulung dan unggul. Semakin maju dunia ini, semakin besarlah penipu ini….. Tetapi syukurlah, kita bisa terlepas pelan-pelan dari tipuan penipu ini, karena sebetulnya kita sendiri masing-masinglah penciptanya. Bener bukan? Semua tergantung kita….. Mari kita lepaskan ikatan menghanyutkan persepsi ‘keakuan’ dan hasrat kita masing-masing. Tidak ada yang menjadi milikku…. Semua hanyalah titipanNya. (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh