JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Kita Sendirilah Penyebabnya

AddThis Social Bookmark Button

Saya ingat pengalaman masa SMA dulu, dimana suatu saat saya selalu menjawab pertanyaan orang lain dengan jawaban: “Saya mengantuk karena kurang tidur. Jadwal asrama saya terlalu padat.” Saat itu, entah mengapa setiap ada kesempatan rasanya hanya ingin tidur. Tidak hanya saat pelajaran di kelas, bahkan saat istirahat pun saya gunakan untuk tidur.

 

Apakah jawaban saya itu tepat 100% ? Dengan keyakinan, saya pun memutuskan keluar dari kehidupan asrama dan memilih untuk kost di luar. Tetapi rupanya masalah saya itu tidak terjawab dan tidak terselesaikan dengan keluarnya saya dari asrama. Biarpun sudah kost dan sudah seharusnya punya jadwal yang relatif lebih longgar karena tidak ada aturan, penyakit mengantuk setiap saat itu tetap mendera hidup saya. Ternyata tidak seperti pemikiran dan kesimpulan saya. Bukan karena sistem dan jadwal asrama yang padat yang membuat saya selalu mengantuk!

 

Kini setelah dewasa dan berkecimpung di dunia pendidikan, kesulitan-kesulitan serupa seperti yang saya alami dahulu saat-saat masih di SMA pun sering saya jumpai. Baik yang dialami anak didik, orang tua siswa, rekan-rekan seperjuangan, atau bahkan diri saya sendiri. Bahkan kesimpulan yang diambil pun mirip dengan kesimpulan yang saya pilih dulu. Banyak yang yakin bahwa penyebab-penyebab dari berbagai persoalan dan kesulitan, bahkan rasa stress dan penderitaan yang dialami adalah karena perlakuan, sikap, keadaan dari luar diri kita.

 

Banyak sekali anak didik saya yang terlihat selalu menunjukkan gejala murung dan muram, suka membantah, gampang marah dan tersinggung, dan lain sebagainya. Saat ditanya, rata-rata menjawab penyebabnya adalah keadaan rumah (orang tua) yang tidak nyaman karena sering diwarnai dengan pertengkaran, atau stress karena terkungkung dengan rasa bosan, tidak bisa refreshing dengan bebas, terbebani dengan tugas-tugas dan tuntutan dari orang tua, dan lain sebagainya. Tetapi sebaliknya, banyak juga orang tua yang merasa pusing dan menyalahkan kelakuan anaknya, atau stress karena keadaan bisnis yang sedang terpuruk dan sebagainya.

 

Begitulah, rasanya jadi seperti spiral yang kusut. Semua jadinya saling menyalahkan bukan? Seakan yakin bahwa semua penyebab dari suasana hati kita adalah faktor di luar diri kita. Padahal jika kita renungkan baik-baik, bukan orang lain dan lingkungan yang menjadi penyebabnya. Seperti yang saya alami dulu, biarpun saya sudah keluar dari asrama, setelah beberapa saat hidup di kost, kebiasaan selalu mengantuk itu tetap tidak bisa saya lepas. Dan kembali saya harus berjuang mencari penyebab aslinya. Dan kesimpulan saya saat itu, bukan lingkunganlah penyebabnya. Demikian juga dengan berbagai pengalaman kehidupan saya setelahnya, bukan orang lain dan lingkungan eksternal saya penyebabnya. Saya bisa terkena stress dan penderitaan batin, ataupun sebaliknya, rasa senang dan bahagia  setiap saat, ya karena saya memutuskan untuk merasakan itu. Biarpun lingkungan dan orang lain di sekitar saya berbuat apapun sesuai keinginan mereka, jika saya memutuskan untuk tidak terpengaruh, ya saya akan baik-baik saja bukan? Dan bahkan, pernah suatu saat saya dimarahi habis-habisan, ternyata kalau saya memutuskan untuk tenang dan tidak terpancing, saya baik-baik saja. Tetap tenang dan senang, dan mengerjakan segala sesuatu setelah dimarahi dengan baik. Jadi, sepertinya semua tergantung kemampuan saya untuk mengolah dan mengendalikan diri saya sendiri. Dan seharusnya memang seperti itu bukan? Saya sendiri tuan atas diri saya.   (Set)

 

 

Add comment


Security code
Refresh