JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Seharusnya

AddThis Social Bookmark Button

Seharusnya. Ini adalah sebuah kata yang sering saya dengar sedari kecil. Kalau di desa saya, mereka mengatakan ‘pokoknya’. Kalau kata seharusnya atau pokoknya ini sudah keluar dari mulut seseorang, berarti selesai sudah. Tidak boleh ada pertanyaan lagi, tidak boleh ada perdebatan lagi. Kalau dipaksakan bisa berakhir dengan pertengkaran dan perkelahian.

 

Mungkin bagi yang mengatakannya merasa lega. Tetapi lawan bicaranya tidaklah demikian, masih menyisakan pertanyaan dan ketidakberdayaan. Dan sekarangpun ternyata saya masih sering mendengar kata seharusnya ini.

 

Salah seorang tetangga saya yang baru saja bangkrut usahanya mengatakan begini: “ Seharusnya tidak berakhir seperti ini... Saya kan sudah percaya penuh kepada rekanan saya, dan sudah hitam di atas putih. Tetapi mengapa dia masih tega-teganya menipu saya?”

Atau belum lama ini ada orang tua yang berkata: “Seharusnya anak saya bisa lulus UN dengan nilai baik, tetapi kok malah tidak lulus? Padahal anak saya sudah belajar mati-matian, bahkan sampai ikut les di lembaga khusus persiapan UN.... Kami harus bagaimana lagi?”

 

Begitulah. Banyak yang mengatakan seharusnya begini, seharusnya begitu, seharusnya tidak begini kejadiannya, dan lain sebagainya. Kesimpulan saya, banyak di antara kita yang secara langsung ataupun tidak memaksakan sesuatu kepada seseorang, pada suatu keadaan, bahkan memaksakan masa depan seperti yang kita inginkan. Seakan-akan, jika sudah punya keinginan dan rencana, sesuatu pasti terkabul atau terjadi. Padahal kenyataannya, tidak ada sesuatu yang pasti bukan? Tidak peduli sematang apa rencana dan pelaksanaannya, tidak ada yang bisa memastikan hasilnya. Tidak ada yang bisa meramalkan atau memperkirakan secara mutlak. Karena memang pada dasarnya, tidak ada yang pasti. Maka kata seharusnya atau pokoknya ini adalah kata yang kurang bagus bagi saya pribadi, dan jika terus diucapkan dan diyakini, akan menimbulkan kesombongan dan keangkuhan. Kita hanyalah titik kecil yang tidak berdaya. Hanya Dia yang bisa membuat segala sesuatu terjadi. Dan itu bisa sesuai harapan kita, bisa juga tidak. Maka mari kita renungkan, seberapa sering kita mengucapkan kata-kata yang sering berakhir dengan kekecewaan ini.... (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh