JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Pencitraan

AddThis Social Bookmark Button

Menarik saat mengikuti berita politik Indonesia akhir-akhir ini. Baik sebelum maupun sesudah proses pesta demokrasi, timbul intrik-intrik dari tokoh politik, belum ditambah oleh tim suksesnya. Bahkan, jika dulu hanya dihuni oleh kalangan politikus, akhir-akhir ini tim sukses juga diisi oleh kalangan artis. Begitu hebatnya daya tarik hingar bingar dunia perpolitikan ini. Seperti istilah ada gula ada semut, pastilah ada sesuatu disana. Sebagai bumbu ke arah kesuksesan, maka tak jarang timbul saling lontar sanggahan dan serangan ke lawan politik. Nah, biasanya saat saling serang ini selalu muncul istilah-istilah yang digunakan untuk menjatuhkan lawan. Jika pihak lawan melakukan kesalahan, maka langsung diserang dengan mudah. Tetapi saat lawan melakukan hal yang bagus pun, tidak selalu dipuji, bahkan dicurigai. Maka muncullah istilah pencitraan.

 

Istilah pencitraan ini biasanya ditujukan kepada pimpinan, bisa presiden ataupun pejabat lainnya. Tentu yang melontarkan adalah pihak yang berseberangan. Entah benar atau tidak, sebenarnya jika dicermati, kita semua pasti tergoda untuk melakukan pencitraan dalam kehidupan kita masing-masing. Tentu dengan level kita masing-masing. Pencitraan artinya mengambil sebuah keputusan atau kebijakan dengan berlandaskan atas pertimbangan akan disukai oleh orang atau tidak. “Jika memutuskan hal ini, apakah efeknya bagi diriku? Apakah diriku akan dipuji dan makin disukai orang-orang? Apakah posisiku makin aman atau malah berbahaya?” Nah, jika begitu, maka kebijakan yang dibuat pastilah salah, karena tidak berlandaskan kebenaran dan hanya demi kepentingan pribadi.

 

Dalam lingkup yang lebih sempit, misalnya pertemanan atau hubungan saudara, kecenderungan ini juga sangat mungkin terjadi. Akan lebih mudah bagi kita untuk mengutarakan pendapat yang sekiranya menyenangkan hati teman bukan? Bahkan, biarpun tahu bahwa pendapat itu salah, kita sering muter-muter bicaranya agar tidak menyakiti orang lain. Kalau bisa, bahkan lebih baik diam. Ini terjadi karena cenderung menggantungkan diri kepada penilaian orang lain. Mau bicara, mau berbuat, bahkan mau berpenampilan, apapun berkerut dahi dahulu, memikirkan efeknya kira-kira akan disukai teman-teman, pasangan, keluarga, masyarakat atau tidak. Nah, ini sekali lagi adalah salah satu contoh pencitraan. Repotnya, pencitraannya dimata manusia yang sangat subyektif dan sangat mudah mudah berubah. Jika menuruti pendapat orang lain, maka hidup kita akan sangat sibuk sekali, sangat melelahkan, dan sebenarnya tragis, karena sejatinya kita hanya menjadi robot bagi orang lain.

 

Bagi umat kristiani, mungkin perlu kita renungkan. Apakah setiap pikiran, sikap, dan perbuatan kita setiap hari, dari pagi hingga malam berlandaskan kepada kebenaran? Atau hanya berpusat kepada ego kita? Ataukah kita masih diliputi kebingungan dan gamang karena belum yakin dengan kebenaran yang seharusnya kita pegang? Dimanakah kebenaran kagi kita yang katanya kristiani ini?  Padahal sebetulnya Tuhan sudah memberi petunjuk yang jelas. Dari awal, Tuhan sudah membentuk kita secitra denganNya. Secara fisik saja dikehendaki agar sesuai citraNya, maka sudah jelas, selayaknya demikian juga dalam berpikir, bersikap, dan berbuat kita berupaya agar sesuai Tuhan sendiri. Dengan kata lain, jikapun melakukan pencitraan, sebagai manusia yang penuh kelemahan, pencitraan yang kita lakukan adalah pencitraan di mata Tuhan. Kira-kira Tuhan berkenan tidak dengan segala pikiran, sikap, dan perbuatan kita. Tetapi begitulah, kita justru jatuh ke dalam godaan pencitraan di mata manusia.

 

Sebagai pegangan apakah keputusan dan kebijakan kita sudah berlandaskan kebenaran Tuhan sendiri, kita tinggal sesuaikan dengan perintahNya yang tersurat jelas di kitab suci. Jika kita renungkan, disana Tuhan Yesus memberi contoh yang sangat jelas. Segala perkataan dan perbuatan Yesus sama sekali tidak ada unsur pencitraan diri. Yang terjadi, justru segala perkataan dan perbuatannya menimbulkan pergolakan dan kebencian di mata banyak orang, khususnya orang farisi dan ahli-ahli taurat. Tetapi Dia tidak peduli karena Dia hanya mekakukan apa yang harus dilakukan oleh anak Allah. Bukankah kita sebagai umat kristiani adalah anak Allah juga? Maka, beranikah kita berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai citra Allah sendiri? Ataukah kita masih tidak tahu terima kasih, membuang-buang rahmat kehidupan hanya untuk menjadi robot bagi orang lain?  (Set)

 

 

Add comment


Security code
Refresh