JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Terlalu Bermurah Hati Pada Diri Sendiri

AddThis Social Bookmark Button

Sore itu saya bersama beberapa rekan mengunjungi seorang sahabat yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit.  Seperti biasa, sebelum berangkat kami diskusi terlebih dahulu tentang bingkisan yang mau dibawa buat sahabat tadi. Maksudnya, sebisa mungkin bingkisan tadi tidak bertentangan dengan kondisi badan sahabat yang sedang sakit tadi. Jangan sampai, misalnya membawakan makanan, ternyata makanan tadi justru memperparah sakitnya. Biarpun, sudah menjadi rahasia umum juga bahwa setiap kita semua berkunjung ke rumah sakit dan membawa makanan atau buah-buahan, biasanya yang akan memakannya bukan yang sednag sakit, tetapi yang menungguinya.

Akhirnya kami pun memutuskan membelikannya buah-buahan, biarpun sahabat saya yang sedang sakit itu tidak terlalu suka dengan buah-buahan. Dan begitulah, kami sampai ke ranjang pesakitan. Suasanapun menjadi ramai dengan perbincangan. Dari masalah pekerjaan, hingga keluhan rasa sakit, dan diakhiri keluhan tentang menu makanan yang harus disantap sahabat yang sakit tadi. Katanya pengen cepat-cepat keluar agar bisa makan enak... Padahal, dia berada di rumah sakit tersebut justru karena pola makannya yang kurang sehat tadi. Maunya hanya makan yang enak-enak saja. Nah, yang enak ini identik dengan  makanan yang nikmat, yang tentu saja lebih didominasi lemak dan daging-dagingan.

Beberapa tahun lalu, saya juga harus menyaksikan rekan dekat saya meninggal gara-gara pola makan yang tidak sehat juga. Di samping itu, sebetulnya saya pribadi juga pernah mengalami hal yang sama, bahkan untuk hal-hal tertentu sampai sekarang. Misalnya, saya tidak bisa lepas dari yang namanya sambal, padahal dulu pernah sakit parah pencernaan gara-gara sambal tadi. Tetapi memang begitulah. Terkadang sebagai manusia kita memang tidak bisa lepas dari kecanduan-kecanduan kecil seperti contoh di atas. Herannya, kecanduan itu biasanya berupa kecanduan terhadap diri kita sendiri.  Kita menjadi sangat suka memberi kepada diri sendiri, atau sangat bermurah hati terhadap diri sendiri.

Sangat bermurah hati kepada diri sendiri, misalnya kepada tubuh kita, ternyata hanya membawa kita pada penderitaan. Jika terlalu banyak, penderitaan fisiklah akibatnya. Entah berupa sakit ringan ataupun berat. Jika sudah sakit fisik, jika tidak bisa menerima diri, maka berlanjut juga ke penderitaan psikis.  Misalnya tadi, sudah jelas sakit karena kebanyakan kolesterol, tetapi saat masih berbaring di ranjang pesakitanpun yang direncanakan pengen cepat sembuh agar bisa makan enak lagi. Nah, kalau seperti ini namanya sudah benar-benar terbelit oleh rasa haus tubuh sendiri.

 

Mungkin akan berbeda jika hobi memberi tadi kita arahkan bukan ke diri sendiri, tetapi ke orang lain. Mungkin sikap seperti inilah yang dilakukan oleh para biarawan ataupun para dermawan. Disaat banyak orang hobi bermurah kepada diri sendiri, beberapa orang ini hobi memberi ke orang lain. Jika kita hobi memberi ke orang lain, misalnya memberi makanan kepada kaum miskin, maka kita bisa melihat dan merasakan betapa bahagia, betapa bersyukurnya, dan betapa nikmatnya kaum miskin tadi saat menerima / menyantap makanan yang diterimanya. Biarpun mungkin tidak begitu mewah yang kita berikan. Nah, lama kelamaan pastinya akan tumbuh rasa empati. Maka dengan sendirinya kita akan bisa mengendalikan rasa haus perut dan tubuh kita sendiri, karena ternyata ada yang lebih membutuhkan, dan betapa lebih membahagiakannya saat melihat orang lain bahagia.

Maka, jika sekarang sebagai orang yang relatif mampu/berada dan kita dirundung berbagai penyakit tubuh, mungkin kita perlu bertanya dalam hati. Apakah penyebab dari sakit ini? Jangan-jangan karena kita terlalu bermurah hati terhadap diri sendiri, dan sangat pelit terhadap orang?

 

Add comment


Security code
Refresh