JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Iman Adalah Soal Makan Dan Minum

AddThis Social Bookmark Button

Ada sebuah cerita yang terkenal. Saat itu adalah saat perang dunia, dimana di sisi komunis berusaha memasukkan dogma ke jiwa anak-anak negerinya. Atas perintah Stalin, sang arsitek atheisma di Rusia, semua orang tua diharuskan mendorong anak-anaknya untuk tidak percaya akan adanya Tuhan. Tidak luput juga guru, yang punya peranan strategis untuk memasukkan pemahaman kepada siswa tentunya.

“Anak-anak, silahkan kalian semua berlutut di depan kelas”, perintah guru kelas. Dan semua anak pun maju, lalu diikat matanya dengan penutup mata, dan mulai berlutut secara teratur.

“Nah, silahkan kalian meminta kepada Tuhan agar diberikan roti saat ini juga. Boleh dengan berkata dalam hati atau pun mengeluarkan suara...”

Setelah dirasa cukup, mereka pun diminta melepaskan ikatan penutup matanya. Lalu diminta melihat apakah di depannya sudah ada roti sesuai yang diminta ke Tuhan atau belum. Dan memang tidak ada roti di depan anak-anak itu. Lalu setelah itu, mereka diminta menutup matanya kembali, dan dipersilahkan untuk meminta roti kepada Stalin dan pemerintah agar diberi roti saat itu juga. Di saat anak-anak sedang berdoa dan meinta roti tadi, maka beberapa guru menaruh roti di depan masing-masing anak tadi. Dan begitulah, begitu mereka melepaskan penutup matanya, kini mereka melihat bahwa di depan mereka sudah tersedia roti.

Maka guru pun membantu anak-anak untuk meyimpulkan sendiri, bahwa ternyata Tuhan itu tidak ada, Tuhan itu tidak layak untuk diikuti, karena tidak bisa memberi roti yang mereka minta. Tuhan ternyata hanyalah khayalan orang-orang pihak sekutu. Dan yang layak diikuti, dianut, dan dihormati adalah stalin.... Dia yang nyata, dia yang bisa memberi roti secara real. Nah, maka jangan mengikuti Tuhan yang ternyata tidak ada, ikutilah Stalin....

Kisah di atas menarik untuk kita renungkan. Di jaman modern ini, iman bagi sebagian orang mungkin juga terasa abstrak, sulit untuk diyakini, terlebih jika dihadapkan dengan keadaan yang tidak mendukung. Misalnya saat sedang dirundung kelaparan, penderitaan, keputusasaan. Sedang mungkin di sisi lain, terlihat orang yang tidak beriman tetapi mengapa terlihat sangat makmur, berlebih, dan bisa bersenang-senang. Sama seperti kisah di atas tadi, manusia dihadapkan pada problem real sehari-hari, yang kadang menyulitkan dan butuh kekuatan, tetapi di sisi lain, penguatan itu kadang dirasa tidak real, tidak sesuai yang diminta.

Tetapi memang itulah iman. Iman tidak kasat mata, tidak seperti seorang majikan yang bisa terlihat memberi makan, tidak langsung terasa di fisik kita, dan penuh misteri. Justru karena itulah, maka yang dibutuhkan adalah sebuah keyakinan kuat. Apapun keadaan kita, entah sedang dirundung duka, entah sedang berlimpah ruah materi dan kesenangan, jika tanpa iman tidak akan menghilangkan rasa haus kita. Haus akan kedamaian jiwa, haus akan kepenuhan oleh rasa mengasihi dan dikasihi. Dan kenyataannya, yang bisa memberi jaminan akan kepenuhan akan rasa haus jiwa tadi hanyalah Tuhan, yang memang tidak kasat mata. Keyakinanlah yang justru memberi kepastian. Bukan roti, bukan kesenangan, bukan penderitaan, karena itu semua tidaklah kekal dan abadi. Roti hanya akan memberikan kepenuhan di perut sangat sebentar, kesenangan tidaklah mungkin berlangsung lama, bahkan detik berikutnya bisa berganti dengan penderitaan.

Maka memang benar, iman adalah soal makan dan minum, tetapi bukan terlebih makan dan minum roti / air bagi tubuh kita, tetapi makan dan minum yang bisa memberikan rasa kenyang bagi jiwa kita. Dan jika iman sudah bisa memberikan rasa kenyang di jiwa kita, maka soal roti dan minuman di dunia akan mengikuti.  Mari makan dan minum  dari Dia, sumber makanan dan minuman rohani... Amin. (Set).

 

Add comment


Security code
Refresh