JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Menuntut Terlalu Banyak

AddThis Social Bookmark Button

Dengan percaya diri saya memasuki ruang test itu. “Ah, saya kan sudah terbiasa mengerjakan, bahkan membuat soal, tidak perlu takut. Saya pasti bisa....”, kata saya dalam hati. Saya pun dengan tenang mengikuti instruksi operator test, berhubung testnya menggunakan multimedia. Dan tibalah juga saat untuk mengerjakan 60 soal sesuai bidang yang saya ambil.

 

“Alamak... Waduh, soal nomer pertama saja sudah saya lewati. Gawat.... Ternyata soalnya tidak segampang yang saya kira, atau lebih tepatnya, ternyata pengetahuan dan pemahaman saya tentang soal-soal itu masih kurang. Hah.... Kenapa bisa begini ya?” Dan akhirnya waktu 120 menit yang disediakan harus saya habiskan, itupun tidak semua soal bisa saya pastikan benar. Ternyata, otak saya tidak secerdas yang saya kira.... J

 

Setelah saya keluar ruang test, saya mencoba menenangkan diri dengan duduk dan diam. Agak shock juga saya. Bukan terlebih kuatir soal hasil testnya nanti, tetapi terkaget-kaget dengan perasaan saya. Benar-benar luar biasa. Setelah sekian lama tidak ditest oleh orang lain, tetapi justru membuat soal dan mengetest orang lain, rupanya saya menjadi terlena. Ternyata tidak enak ya ditest. Apa yang dimata saya seharusnya bisa, ternyata saat test hal yang mudah tidaklah selalu menjadi mudah. Terbiasa membuat soal, ternyata menghadapi soal orang lain menjadi bingung. Apakah ini terjadi karena saya semakin menua? Atau karena otak saya sudah lama tidak diasah? Atau jangan-jangan karena kesombongan saya? Dan ada satu hal lagi yang membuat saya menjadi gelisah dan sedikit menyesal.... Saya merasa lupa diri, dan kadang tidak tahu diri terhadap orang lain.

 

Mengapa? Yaa.... Saya merasa tidak tahu diri, karena setelah kejadian itu saya sadar bahwa selama ini sering menuntut orang lain untuk bisa mengerjakan sesuatu secara sempurna dan sebaik-baiknya. Menuntut yang terbaik itu baik, hanya saja kalau terlalu menuntut tanpa melihat proses dan kemampuan, itu yang tidak bijak. Seharusnya terbaik menurut kemampuan setiap orang, bukan terbaik menurut pandangan saya. Itu yang sering terlupakan. Mungkin bukan hanya saya, tetapi banyak dari kita yang melakukannya, menuntut orang lain (bisa anak-anak kita,siswa/murid kita, suami/istri kita, saudara kita, dll) untuk mati-matian mengerjakan sesuatu dengan tolok ukur kita, bukan mereka.

Sebagai orang tua misalnya, terkadang kita menuntut anak kita untuk menghabiskan seluruh energi dan waktu, bahkan hidupnya hanya untuk nilai yang dicantumkan ke lembaran raport. Dari pagi subuh sudah dipaksa bangun, pulang sekolah otak sudah jenuh masih harus kursus / les private sampai malam, sampai rumah persiapan buat pelajaran besok. Itupun kalau nilai jelek masih kita marahi, bahkan kadang lupa bahwa kita dulu saat jadi anak juga punya keterbatasan (nilai tidak selalu bagus), lupa juga bahwa apa yang ada dalam anak kita adalah andil kita (masalah kecerdasan misalnya). Tentunya masih banyak contoh lainnya di sekitar kita yang bisa kita lihat. Kita terkadang menuntut terlalu banyak dari orang lain, dan tidak sadar bahwa mereka dianugerahi kelebihan masing-masing yang mungkin tidak sesuai dengan bayangan dan permintaan kita. Mereka unik dan berharga....  (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh