JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Biaya Yang Harus Dikeluarkan Untuk Bahagia

AddThis Social Bookmark Button

“Kapan Anda akan merasa bahagia?”

“Tunggu  5 tahun lagi, saat itu saya pasti bahagia....”

“Kenapa?”
“Yaaa... Karena target saya, 5 tahun lagi karir saya sudah naik. Kira-kira ya jadi asisten managerlah, sehingga sudah bisa beli rumah, mobil dan lain-lain. Hmmm... Ga sabar saya...”

 

Tidak salah memang. Jawaban seperti itu sangat wajar, apalagi di jaman yang mengkondisikan seperti sekarang ini. Semua dinilai dan dipandang berdasar apa yang dimiliki dan apa yang tidak. Keluarga, masyarakat ikut andil dalam membentuk pemahaman bahwa eksis tidaknya pribadi seseorang karena materi. Jadi, ya memang seperti itu. Banyak yang merasa eksis, banyak yang merasa akan bisa bahagia, jika sudah punya ini dan itu, jika bisa berpenampilan seperti ini dan itu. Soo... Jika sekarang belum punya itu semua, maka ya belum bisa berkata bahagia. Ga enak banget ya kalau seperti itu.... Kapan saya bisa bahagia? Seperti mahal banget, dan entah kapan bisa meraihnya....

 

Dalam kenyataannya, banyak yang belum menyadari bahwa pemahaman seperti itu tidak seratus persen benar juga. Coba kalau kita amati, banyak juga tuh orang yang sudah punya ini dan itu tetapi terlihat murung terus, didera stress terus menerus, dan jauh untuk dikatakan bahagia. Betul tidak? Mungkin ya karena memang bahagia itu tidak identik dengan kepuasan karena memiliki ini dan itu. Terlebih, rasa puas akan materi itu sendiri tidaklah kekal. Hari ini puas, hari ini ceria, bahagia karena habis dibelikan HP terbaru, yang teman-teman belum punya misalnya. Rasa gairah itu ga akan lama bertahan. Nanti beberapa hari sudah berkurang gairahnya, apalagi jika ternyata teman-teman juga mulai banyak yang punya. Jadi... Singkat sekali bukan bahagia tadi? Trus, kasihan sekali dong yang tidak pernah bisa beli ini dan itu.... Di sisi lain, jika kita amati dengan hati, tidak sedikit juga teman, tetangga, atau orang lain yang hidupnya sederhana, atau kekurangan malah, tetapi terlihat mukanya tenang, nyaman, dan bahagia. Jadi, apa resep bahagia mereka itu ya?

 

Sederhana. Resepnya bukan lebih ke materi ternyata. Sama sekali tidak butuh uang, karena memang sudah diberikan secara gratis oleh Tuhan. Tinggal kita mau menyadari dan menikmatinya tidak. Itu saja... Mungin perlu sekali-kali kita data, apa saja anugerah gratis yang bisa membuat kita bahagia itu. Mari kita list:

  1. Keluarga. Ini adalah yang bisa membuat kita bahagia. Kemanapun orang pergi, sepahit apapun pengalamannya dengan keluarga, toh suatu saat yang dirindukan adalah keluarga kembali. Suatu saat akan merasa nyaman dan bahagia kembali jika bisa berkumpul dengan keluarga sendiri. Betul bukan?Apalagi yang dari awal dianugerahi keluarga yang harmonis, maka akan semakin mengiyakan, bahwa keluarga adalah anugerah yang bisa membuat kita bahagia. Dan itu gratis.
  2. Sahabat/teman. Siapakah yang bisa membuat kita tertawa terbahak-bahak? Biasanya sahabat dan teman-teman kita bukan? Dan sekali lagi, mereka adalah anugerah cuma-cuma...
  3. Cinta / Kasih. Apakah yang bisa mendinginkan perasaan, melembutkan amarah, menurunkan stress, dan lain-lain? Cinta... Itu jawabannya. Entah itu cinta dari kekasih, dari ibu bapak, dari teman, dan sebagainya. Tidak ada cinta yang bisa dibeli bukan? Ya karena memang sudah ditentukan dari sononya, bahwa cinta itu anugerah gratis yang bisa dipakai semua orang untuk bahagia.
  4. Pelukan, senyuman manis, tidur lelap, kenangan indah masa kecil, dan lain sebagainya (dari ibu, bapak, sahabat, kakak adik, dll), itu semua yang bisa menghangatkan hati kita. Itu semua yang membahagiakan hari-hari kita bukan? Dan sekali lagi, itu gratis....

 

Maka, sejatinya tidak alasan lagi bagi kita semua untuk tidak bahagia. Mari kita ambil semua anugerah gratis itu. Mungkin syarat tambahannya hanyalah satu, sebelum mengambilnya, mari kita terlebih dahulu memberinya. Mari kita beri senyum manis kita, peluk hangat kita, persaudaraan kita, dan semuanya kepada orang-orang di sekitar kita, kepada kakak adik kita, bapak ibu, sahabat dan rekan, bahkan ke semua burung-burung di angkasa, ke semua bunga-bunga dan tanaman.... Mari kita beri secara suka rela, maka kita pun akan mendapat secara gratis dan berlebih.  Yuk kita mulai dari diri sendiri, mulai detik ini... (Set)

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh