JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Selesailah Sudah

AddThis Social Bookmark Button

Selain libur pendek, ditambah dengan tiap hari pergi ke gereja, sebenarnya apa ya makna Hari Paskah itu? Apalagi menarik saat mengetahui bahwa banyak rekan kristiani yang mengatakan Paskah adalah hari raya paling berkesan.  Secara umum, mungkin jawaban yang paling familiar adalah memperingati kebangkitan Tuhan Yesus, dan mencoba memaknai kebangkitan itu dalam kehidupan pribadi masing-masing. Misalnya bangkit dari kubangan dosa, dengan jalan pertobatan. Tentu hal ini juga saya coba pahami. Tetapi adakah makna lain arti Paskah, yang lebih mengena bagi hidup kita masing-masing di tiap tahunnya? Jika memang pertobatan, pertobatan yang sejauh mana? Apakah pertobatan yang kurang lebih sama dengan yang tahun lalu-lalu?

 

Sore itu, biarpun panas dan kantuk, saya mencoba mengikuti sebisanya jalannya perayaan Jumat Agung. Seperti biasanya, maka ada pembacaan injil yang dibawakan dengan menyanyi. Lengkaplah rasa kantuknya.... Karena makin lama. Kurang lebih 40 menit untuk mendengarkan nyanyian bacaan firman itu. Saat mendengarkan, saya mencoba mengandaikan bagaimana jika saya berada di sana, 2013 tahun yang lalu, di antara kerumunan orang-orang yang mengadili Tuhan Yesus. Apakah saya akan diam saja? Atau pura-pura tidak kenal Dia seperti Petrus? Atau ambil amannya saja seperti Pilatus? Atau ikut arus teriak-teriak bersama orang-orang? Atau berani menawarkan diri seperti Simon yang ikut memanggul salib? Kuatkah saya melihat tetesan darah akibat mahkota duri dan lecutan cambuk? Jika tidak kuat dan kasihan, lalu apa tindakan saya? Saya jadi bingung memikirkan semua itu... Efek positifnya, rasa kantuk saya menjadi hilang.

Saya pantasnya berperan sebagai apa ya disana? Dan sampailah bacaan di bukit Golgota, dimana Yesus disalibkan bersama dua penjahat. Nah, disitu saya mencoba mengandaikan bagaimana jika saya menjadi penjahat, karena saya tentu masih berbuat dosa hingga saat ini. Tetapi ada dua penjahat disana. Apakah saya seperti penjahat yang meminta Yesus membebaskan saya, sambil mengolok-olok Dia? Atau saya masih ada sedikit kebaikan dan keberanian, bersikap seperti penjahat satunya, yang mengatakan bahwa dia memang pantas dihukum salib karena dipenuhi dosa, sedang Tuhan Yesus tidak seharusnya disalib? Bahkan, dia tidak berani meminta diselamatkan, dia hanya meminta supaya Tuhan Yesus mengingatnya saat Yesus masuk surga nanti? Wah, penjahat yang satu ini benar-benar menyadari kesalahan, dan sangat rendah hati. Sepertinya saya juga tidak seberani dia deh. Sekarang saja saya kerjaannya meminta dan meminta dalam setiap doa, persis seperti penjahat yang pertama tadi. Rupanya kerendahan hati dan pertobatan penjahat tadi mengetuk pintu hati Yesus. Hanya meminta diingat, tetapi Yesus justru menjanjikan bahwa dia akan masuk surga bersamaNya. Mungkin itu yang namanya pertobatan sejati. Menyadari segala dosa, sehingga bahkan tidak berani meminta ampun, hanya berani meminta diingat. Tidak meminta Tuhan mengampuni, hanya berani memohon Tuhan mengingatnya dari surga. Dan ternyata Tuhan memberi lebih dari sekedar mengingat.... Saya jadi malu selalu memohon ampun, tetapi lagi-lagi kembali jatuh dalam dosa yang sama. Saya pun tersenyum kecut.

 

Saya makin terlarut dalam kebingungan dan rasa kekerdilan/tidak percaya diri, ketika pemeran Tuhan Yesus berkata: “Selesailah sudah...” Dan sesudah itu Tuhan Yesus menyerahkan segalanya kepada Bapa. Setelah itu, untuk memastikan kematian Tuhan Yesus dan dua penjahat itu, kepala serdadu memerintahkan kedua kaki penjahat dipatahkan. Wahhhh... Mengerikan sekali! Mengapa tidak ditikam saja, biar cepat matinya? Berarti dua penjahat tadi harus mati pelan-pelan karena hanya dipatahkan kakinya. Bahkan orang yang sudah bertobat pun harus mengalami penderitaan seperti itu. Dan Tuhan Yesus, Dia bahkan tidak bertobat tentunya karena memang tidak bersalah. Tetapi Dia juga harus mengalami penderitaan yang jauh melampaui dua penjahat itu. Dan Tuhan Yesus mengatakan itu: “Selesailah sudah”. Dia sudah menyelesaikan tugasnya. Kembali saya menjadi kagum dengan daya tahan Yesus yang saat itu menempatkan diri sebagai manusia, yang harus menerima penderitaan fisik dan psikis yang luar biasa, padahal tidak bersalah.  Bukan hanya daya tahan, tetapi juga ketekunan menjalani detik demi detik rasa sakit di tubuh dan jiwaNya. Kembali ini membuat saya tertunduk. Saya memang bukan apa-apa jika membayangkan penderitaan itu. Bahkan, saya juga bukan apa-apa jika dibandingkan dengan penjahat tadi. Penjahat yang bertobat tadi rela menderita dipatahkan kakinya. Sedang saya? Inginnya, jika sudah berkata bertobat ya diampuni, dan kalau bisa tidak menderita lagi... Yah, begitulah!

 

Akhirnya perayaan Paskah pun selesai... Selesai dalam arti peringatannya. Tetapi saya masih dalam kebingungan, dan berharap minimal Paskah kali ini memberi ‘sesuatu’ kepada daya juang hidup saya. Mungkin saya kurang bertekun dalam memerangi kelemahan dosa saya. Mungkin saya tergoda untuk cepat takluk dalam genggaman dosa, sehingga yang tersisa adalah kekerdilan. Mungkin jika nanti saya lebih bertekun saat harus mengalami cobaan (biarpun tentunya tidak akan setangguh Dia, dan tidak ada apa-apanya biarpun dibandingkan penjahat yang disalib bersamaNya), saya diberi sedikit kebahagiaan karena bisa berkata: “Selesailah sudah cobaan ini...” Pantaskah saya berkata seperti itu? Itu tidak penting, karena memang saya belum terbukti mampu bertekun dalam cobaan dan penderitaan... Dan itu berarti PR di tahun ini. Siapa tahu saya boleh berucap: “Selesailah sudah...” untuk kerikil-kerikil  kecil yang mampu saya lewati. Selamat Paskah 2013 .... (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh