JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Duduk Dalam Kumpulan Pencemooh

AddThis Social Bookmark Button

Kisah di bawah ini diceritakan oleh teman saya, yang kebetulan saat itu sedang menghadiri hajatan pernikahan. Karena datangnya termasuk awal, maka sesuai harapan dia bisa menunggu hajatan dimulai dengan duduk manis di kursi bagian agak depan, bersama teman-temannya yang datang bersamanya.

“Eh, kira-kira yang datang siapa saja ya? Masak teman sekantor hanya kita berempat gini yang datang seh? Benar-benar pada keterlaluan deh...” kata temen saya waktu.

“Setahuku seh tadi yang tempat duduk kantornyanya di samping kirimu mau datang....” celetuk salah seorang teman menyahut, sambil mata berkedip. Mendengar jawaban itu, sontak pembicaraan menjadi ramai. Mereka pun membicarakan salah seorang rekan kantor yang kebetulan punya sifat kecewekan, biarpun sebenarnya berpostur cowok. Dan yang sewot adalah teman saya.

“Iya tuh, ngapain seh kamu ga ngajak dia? Kan enak tuh, jadi makin ramai di jalan. Melambai gitu loh...!”

Mereka pun terus tertawa, seakan bahan obrolan itu memang sangat lucu dan pantas untuk ditertawakan. Teman saya menjadi tidak berkutik. Malas menanggapi tetapi tidak berdaya. Untuk menghela panasnya udara dan mengalihkan pembicaraan, dia pun mengarahkan pandangan ke sekeliling. Dan saat menoleh ke belakang, sangat kagetlah dia. Ternyata sosok yang dibicarakan tadi tepat persis berada di belakang kursi mereka. Hanya berselisih satu baris. Menyadari bahwa dia pasti mendengar segala obrolan tadi, teman saya menjadi merah padam. Malu bukan main... Dan sosok itu hanya menatap senetral mungkin, biarpun kini sudah tidak dihiasi senyuman di bibir, seperti saat biasanya bertemu dan ber-say hello di kantor.

Teman saya pun segera memberitahu tiga temannya agar segera menghentikan obrolan itu. Mereka pun awalnya salah tingkah, tetapi bisa segera menutupi rasa bersalahnya. Hanya teman saya yang sepanjang acara itu menjadi gelisah dan menyesal bukan main. Sepanjang perjalanan pulang pun dia tetap tidak bisa tenang, apalagi saat hari berikutnya bertemu di kantor. Segala kebaikan dan bantuan yang ia terima selama ini ternyata ia balas dengan sesuatu yang sangat tidak pantas. Membicarakan dan mencemooh kekurangan orang yang selama ini bersikap baik kepadanya.

Saya yang mendengar ceritanya menjadi paham, betapa malu dan menyesalnya teman saya saat itu. Bahkan, biarpun dia saat itu tidak berkomentar saat tiga temannya mentertawakan, dia tetaplah berada di situ. Dan dia tidak membelanya juga. Hanya diam.

Begitulah... Akhirnya hubungan teman saya dengan rekan sekantornya itu menjadi kurang baik. Bukan hanya itu, rasa bersalahnya itu juga terus mengusiknya. Dia menyesali situasi, mengapa hal itu harus terjadi, mengapa dia harus datang dan berkumpul bersama tiga temannya, mengapa dia tidak sekurang-kurangnya membelanya saat yang lain memperolok dia, dan akhirnya mengapa dia tidak bisa cuek seperti tiga temannya itu. Apapun sesalnya, semua sudah terjadi. Akhirnya hanya permintaan maaf yang bisa melegakan hatinya. Itupun setelah melalui pergulatan batin yang lumayan lama.

Sebenarnya, pengalaman yang dialami salah seorang teman saya tadi pernah saya alami juga. Mungkin saudara-saudara juga. Entah hanya sekedar ikut mendengarkan di dalam kerumunan saat bahan obrolan isinya memperolok, mencemooh, menggosip, membicarakan kekurangan orang lain, atau bahkan memfitnah. Atau mungkin, besar juga kemungkinan kita juga terlarut dan ikut manambahi disana-sini, sehingga obrolan menjadi semakin menarik dan menghibur. Dan sampai tahap itu, jadilah semua melupakan bahwa dibalik tertawa riangnya kita, ada satu sosok yang menjadi korban. Masih beruntung jika tidak tertangkap basah oleh yang bersangkutan bukan? Biarpun tidak tertangkap basah, bukankah itu memang tidak seharusnya? Bukankah orang yang mempunyai kekurangan seharusnya kita bantu? Dan bukankah kita semua tidak ada yang sempurna? Siapakah kita, sehingga merasa pantas mentertawakan orang lain?

Maka, jika kita tidak ingin menyesal karena terseret dalam arus mencemooh, langkah terbaik adalah menghindari pencemooh. Janganlah berkumpul dan duduk-duduk bersenda gurau dengan para pencemooh, karena jika kita berada di dalamnya, kita juga akan penjadi pencemooh. Sangatlah sulit bagi kita untuk bertahan di situ, seperti saat bunga mawar yang akan sulit berbunga jika berada di kerumunan ilalang... Maka hanya kita sendiri yang bisa menjaga diri agar bisa menjadi mawar, bukan ilalang....Set)

Add comment


Security code
Refresh