JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Tidak Berkekurangan Kebaikan

AddThis Social Bookmark Button

Namanya sederhana, Pak Rahmat. Belum terlalu berumur, tetapi terlihat lebih matang dibanding laju usianya. Ini tampak dari kesederhanaan dan kewibawaan yang melekat kepadanya. Bukan hanya sederhana dalam hal penampilan, tetapi terlebih dalam bersikap. Seperti yang Pak Rahmat lakukan saat saya berkunjung di rumahnya.

 

“Siang Pak. Maaf apakah lagi kosong ya? Kalau kosong, saya minta tolong untuk membersihkan kebun saya. Tetapi kalau sedang ada pekerjaan lain, besok-besok saja juga tidak apa-apa Pak.” Kata saya di ruang tamunya.

“Oh baik Mas, terima kasih atas kepercayaannya.... Kebetulan sekali saya sedang kosong. Akan saya usahakan secepatnya. Kapan saya bisa memulai?” Dia pun menjawab saya dengan lugas, sambil mempersilahkan saya meminum teh. Saya sendiri sebenarnya merasa sungkan untuk memintanya bekerja. Serasa menyuruh orang yang seharusnya dihormati. Tetapi apa mau dikata, memang begitulah pekerjaannya. Bekerja apa saja, saat ada yang membutuhkan.

Begitulah. Setelah pulang dan sejenak bersembunyi dari teriknya matahari tengah hari, saya kembali mengingat-ingat obrolan kami tadi. Biarpun rumahnya sederhana, saya merasa betah berada di dalamnya. Mungkin karena pengaruh kenyamanan hati pemiliknya. Beberapa minggu kemudian kekaguman saya kepada Pak Rahmat semakin bertambah. Rupanya bukan hanya saya yang hormat kepadanya, tetapi hampir semua warga kampung juga merasakan hal yang sama. Semua warga meminta kesediaan Pak Rahmat untuk menjadi imam (penatua/yang dituakan di kampung). Tetapi rupanya Pak Rahmat bersikap di luar dugaan saya. Dengan meminta maaf, dia terpaksa menolak penghormatan itu. Saya sempat merasa heran, biarpun kemudian baru bisa memahami sikap itu. Rupanya dia merasa ada yang lebih pantas dan berhak. Dan benar, jabatan imam kampung pun jatuh ke seorang bapak, yang kebetulan lulusan pesantren. Ini berbeda dengan Pak Rahmat yang tidak pernah menempuh pendidikan formal. Mungkin hanya kehidupan sehari-harilah yang menjadi gurunya.

Belasan tahun saya merantau, akhirnya saya berkesempatan menemui Pak Rahmat kembali. Tetap suasana sejuk yang saya rasakan. “Yah, beginilah Mas. Kita hidup di dunia ini hanya sekedar mampir ngombe (minum). Maka saya harus siap-siap untuk mencari jalan agar bisa selamat sampai tujuan, yaitu Yang Memberi Hidup ke kita. Saya selalu mencari Dia setiap hari....”kata Pak Rahmat sambil mencecap kopi hitamnya. Saya hanya mengangguk, mencoba memahami prinsip yang rata-rata dianut oleh orang kampung. Hidup hanya mampir ngombe. Hanya berhenti sejenak, dan kemudian berjalan mencari Tuhan.

Ini berbeda sekali dengan kehidupan di kota. Di saat mulai tenggelam dalam rutinitas pekerjaan yang super sibuk, betapa kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk mencari ini dan itu. Banyak sekali yang kita cari, sampai tiada hari tanpa kelelahan fisik maupun psikis. Begitu sibuknya, hingga kadang lupa bahwa kita hanyalah sejenak mampir ngombe di dunia ini. Beda dengan Pak Rahmat. Hanya satu yang dia cari, yakni mencari Tuhan. Titik. Satu tujuan, dan dijalani dengan sederhana dan iklas. Lalu apakah itu membuatnya berkekurangan? Tidak tahu juga. Mungkin iya jika dipandang dari kacamata mata kita. Tetapi rupanya prinsip itulah yang justru mencukupkan semuanya bagi dia dan keluarganya. Biarpun tidak punya tanah, anak-anaknya bisa merasakan pendidikan formal, makan cukup, dan terlebih, mereka semua berlimpah kebaikan. Seperti tidak pernah berkekurangan. Hidup tentram, nyaman, dan bahagia. Apa seh yang masih kurang jika dibandingkan dengan semua itu?

Mungkin perlu kita renungkan juga prinsip hidup kita. Apa seh sebenarnya yang kita inginkan selama ini? Ingin hidup penuh berkah dan kebaikan? Ingin hidup nyaman dan bahagia sejati? Jika iya, jangan bersibuk diri dulu mencari sesuatu yang kadang tidak jelas ujung pangkalnya. Cukup satu saja, carilah Tuhan terus menerus dalam setiap langkah hidup kita....   (Set).

Add comment


Security code
Refresh