JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

The True Loser

AddThis Social Bookmark Button

Memang sejak pertama mengenalkan diri ke keluargaku, dia agak ragu-ragu dengan pilihan tempatnya. Biar pun rumahnya didapat dengan harga yang lumayan murah, dia ragu dengan kenyamanan masyarakatnya. Kebetulan lingkungan yang kami tempati memang bukan di perumahan, tetapi di perkampungan. Artinya kami harus membaur dengan masyarakat setempat yang tentunya sudah lebih dahulu tinggal di situ. Sebenarnya hal yang wajar dan manusiawi juga jika merasa kawatir, mengingat perbedaan pola hidup yang ada. Tetapi aku sendiri sudah menjalaninya, dan sampai saat kini tidak ada masalah. Semua berjalan normal. Memang harus ada penyesuaian di sana-sini, tetapi masih dalam kadar normal.

Waktu terus berjalan, bulan demi bulan. Rupanya kekawatirannya di awal pelan-pelan mulai menjadi kenyataan. Entah siapa yang salah, tetapi satu dua kejadian mulai membuat tidak nyaman keluarganya. Dari sedikit beselisih paham dengan tetangga, atau tersinggung oleh nasehat pak RT, atau juga berbagai kabar burung yang didengarnya. Intinya sudah tidak betah lagi tinggal di kampung itu. Dan benar, sebulan kemudian dia pamitan ke keluargaku hendak pindah. Saat kutanya mau pindah rumah mana, ternyata hanya pindah ke kontrakan. Aku pun terdiam. Sudah punya rumah, malah memilih meninggalkannya untuk mengontrak rumah orang. Sungguh repot sekali. Selain barang bawaan yang begitu banyak, juga harus mengurus perpindahan sekolah anak-anak, dan tentunya harus ada penyesuaian lagi dengan tempat yang baru nanti.

Padahal, belum tentu di tempat yang baru akan menemui keadaan yang lebih cocok. Dan terlebih sebetulnya para tetangga juga menyayangkan kepindahannya. Ini menandakan bahwa sebetulnya hubungan dengan tetangga tidaklah separah yang dia rasakan. Sedikit salah paham adalah hal yang wajar.

Ini seperti yang kualami dahulu. Saat kerja pertama kali, baru 3 minggu kerja sudah memutuskan untuk berhenti. Alasannya saat itu terasa sangat masuk akal bagiku. Tidak cocok dengan kehidupan rekan-rekan sekantor. Belum masih ditambah termakan omongan salah seorang rekan yang mengatakan bahwa aku tidak cocok bekerja di situ. Sayang katanya.... Aku pun mulai galau. Merasa tidak enjoy, dan sekarang ditambah ‘nasehat’ yang seakan bagus dan memihakku. Akhirnya aku pun keluar dari pekerjaan. Konyolnya aku mengundurkan diri dalam keadaan belum ada cadangan, artinya setelah itu justru menjadi pengangguran. Siapa yang rugi kalau begitu? Sudah jelas bukan....

Banyak hal berikutnya yang mempunyai efek senada yang di atas. Sering kali aku, Anda, atau kita semua membuat pilihan yang hanya berdasarkan perasaan. Aku merasa begini, aku merasa begitu, sehingga aku memutuskan untuk begini dan begitu.... Aku sangat tidak respek lagi dengan atasanku, maka aku memutuskan untuk resign. Aku sangat benci dengan tetanggaku, maka aku memutuskan untuk pindah rumah dan membawa kebencian ini seumur hidup. Aku merasa pernah difitnah oleh temanku, maka aku berjanji untuk tidak menemui, menyapa, dan tidak akan sekali pun mengampuninya. Aku sudah membuat ide yang cemerlang, dan aku merasa ideku diambil alih oleh rekan kerjaku, maka aku layak merasa dunia ini tidak adil, Tuhan tidak adil. Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang dapat mengubah-ubah, mengaduk-aduk perasaan kita. Setelah terlarut dalam perasaan-perasaan itu (yang sebagian besar berupa perasaan negatif terhadap orang lain), seakan kita yakin dan dibenarkan untuk membuat keputusan yang terkadang jelas siapa yang akan dirugikan. Yaaa.... Tidak bukan dan tidak lain, yang rugi adalah kita sendiri. Tidak ada yang dimenangkan dalam hal ini, tetapi yang jelas akan ada pihak yang kalah. Siapa itu? Jelas juga, kita yang kalah.

Sering kita terjebak dalam kisaran perasaan ini. Padahal yang namanya perasaan sangatlah subyektif dan bersifat tidak kekal. Subyektif  karena cenderung menilai dari sudut pandang diri sendiri, dan cenderung menghakimi orang lain. Tidak kekal karena perasaan sendiri sangat rentan untuk berubah. Hari ini nyaman, besok belum tentu merasa nyaman. Benci saat ini, belum tentu esok masih benci saat mengetahui kebenarannya. Maka jika hanya memutuskan sesuatu berdasarkan perasaan saja, akan akan mudah menjadi orang yang selalu menderita, atau dengan kata lain orang yang selalu kalah. Apalagi jika perasaannya sangat dipengaruhi oleh penilaian orang lain. Bisa-bisa kita melakukan sesuatu dalam hidup kita tergantung pada orang lain. Mau begini tidak jadi, kuatir nanti dinilai jelek oleh orang lain. Sebaliknya, kadang melakukan itu karena akan membuat orang lain senang, biar pun sebenarnya diri sendiri tidak suka. Jika sudah begini, namanya tidak merdeka, hidup berada dalam bayang-bayang orang lain. Bagaimana hal itu bisa dikatakan hidup? Dan tentu saja orang seperti ini tidak akan menemukan kebahagiaan. Apa pun yang dilakukan bukan karena dia ingin.The true loser in life....

Lalu bagaimana caranya agar tidak selalu kalah dalam hidup ini? Menurut saya seh simpel saja. Cukup bersyukur atas segala keadaan kita.Dengan bersyukur, kita akan dipenuhi rasa kepenuhan selalu. Melihat diri sebagai diberkati, melihat kelebihan dan kekurangan orang lain juga sebagai yang diberkati. Tidak akan ada yang merasa berkekurangan jika semua mampu bersyukur setiap saat. Kita berusaha seoptimal mungkin dalam segala hal, selebihnya yakin bahwa akan ada yang menyelesaikan, yakni Tuhan sendiri. (Set)

Add comment


Security code
Refresh