JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Tak Lekang Oleh Waktu

AddThis Social Bookmark Button

Hmmm…. Kayak judul lagu ya. Tak lekang oleh waktu, alias immortal!

Itulah yang saya maksud dengan rasa kita saat kita jatuh, benar-benar jatuh terjerembab dalam cinta sejati. Kata orang cinta pertama termasuk di antaranya…. Mungkin ada benarnya juga ya. Banyak yang sharing, bahwa setelah berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing pun, sampai dewasa dan berkeluarga dan punya anak, mereka tetap mencintai dengan tulus cinta pertamanya. Tentu saja mencintainya dengan kadar keadaan sekarang. Tetap mendoakan dan berharap kebaikan selalu menyertai dia dan keluarganya. Artinya sudah tidak ada unsur ingin memiliki dan menguasai. Bahkan, jika pun mantan cinta pertama ini telah berbuat kesalahan, tetap saja banyak yang tidak merasa terlukai. Memaklumi dan memaafkan tanpa perlu diminta. Benar ga ya seperti itu? Hmmm….. Saya pribadi merasa ikut berbahagia ketika sepasang suami istri bercerita bahwa salah seorang atau keduanya merupakan cinta pertama masing-masing. Wahhh…. Rasanya pasti beda, karena semua proses pembelajaran mencintainya dilakukan bersama-sama. Mulai dari kurang pengalaman dalam ber-relasi, hingga proses saling memaafkan saat ada perselisihan. Pasti ikatan di antaranya relative lebih kuat…. Hmmmm, ini pendapat pribadi seh…… J

 

Saya pribadi berusaha seperti itu. Tetap mendoakan dan berharap yang terbaik. Bagaimana jika sebaliknya? Jika ada cinta sejati yang tak lekang oleh waktu, apakah ada benci yang immortal juga? Benci seumur-umur, plus dengan sumpah yang menyertainya… J “Sumpah! Saya ga akan mau dang a akan bisa memaafkan dia! Saya benar-benar benci kepadanya!” Menurut saya mungkin ada juga yang punya prinsip seperti itu. Bukan maunya tentu, tetapi bisa saja terjadi karena suatu keadaan. Apakah Anda pernah mengalaminya? Atau mungkin melihat orang lain yang mengalaminya?

 

Pernah suatu saat saya melihat dua orang yang sebetulnya bertetangga, bahkan bersaudara jauh. Tetapi saya tidak menyangka bahwa mereka bersaudara, karena ketika melihat relasinya, seperti Tom and Jerry. Jika ada perbedaan pendapat, entah dimanapun dan kapan pun, permalasalahannya merembet kemana-mana. Sepertinya mereka pernah berselisih paham sedemikian parahnya hingga menimbulkan dendam kesumat. Jangankan ada penyulutnya, tidak ada pun bisa dicari-cari. Jika yang satu berpendapat ini, maka yang lain akan berpendapat sebaliknya. Kadang sampai heran dan tak habis pikir, kok bisa-bisanya ya seperti itu. Setiap saat jika bertemu maka mukanya menjadi tidak ramah. Jika memungkinkan tidak perlu bertutur kata. Ya jadinya repot, karena rumahnya saja dekat, maka mau tidak mau yang harus bertemu terus kan? Hingga saya pindah, saya kurang yakin apakah mereka bisa rukun dan saling memaafkan. Entah sampai kapan…. Jangan-jangan malah dibawa sampai ke anak cucu ya…

 

Coba sejenak kita bayangkan…. Jika suatu saat kita akan dikunjungi untuk terakhir kalinya, yakni saat tubuh kita akan segera menyatu dengan tanah, mungkin kita bisa tersenyum dan tentram ya, saat cinta sejati kita datang dan mendoakan kita. Arwah kita mungkin bisa pergi dengan tenang. Tetapi jika kita masih diliputi benci sejati tadi, gimana ya? Andai orang yang kita benci datang ke pemakaman kita, bisa-bisa mayat kita menjadi galak ya….hehehehe…. Mungkin juga menyesal, belum sempat membalas dendam kesumatnya, eh malah sudah mati duluan. Bahkan, mungkin tidak peduli jika sebenarnya orang yang kita benci tadi datang memang dengan tulus ingin mendoakan kita. Mungkin saja dia sudah berproses untuk belajar memaafkan dan menghilangkan rasa bencinya. Tetapi kita yang sudah mati tetap nekat membawa rasa benci kita….. Jika sudah seperti itu, bisakah kita bisa pergi dengan tenang? Jika pun bisa pergi, adakah rumah nyaman yang bersedia menerima kemuraman kita?

 

Gambaran saya tentang cinta sejati tentang relasi cowok – cewek tadi mungkin bisa kurang tepat, karena cinta sejati memang sangat sulit dijumpai. Cinta sejati menawarkan pemberian seutuhnya, setotalnya, tanpa hasrat memiliki dan menguasai. Tetapi yang saya yakin, jika kita dilingkupi kebencian, terlebih kebencian selama hidup kita, maka matilah kita…. Benar-benar kematian yang dimulai sejak kita hidup. Rasa benci dan sejenisnya adalah akar dan wujud lain dari dosa. Dengan memelihara kebencian, sebetulnya kita memelihara dosa dalam diri. Inilah mengapa kita dianjurkan untuk sesegera mungkin mohon ampun kepadaNya jika jatuh ke dalam dosa.  Mengapa?

 

Sekali berbuat dosa, ada sesuatu yang akan mengusik batin kita. Batin menjadi tidak tenang, menjalani hidup dengan rasa was-was. Jika kita pendam lama-lama, semakin menumpuklah tabungan dosa kita. Mungkin dosa yang pertama sudah mulai agak terlupakan. Tetapi efek dari pembiaran dosa tadi adalah semakin tumpulnya hati nurani kita, karena memang rasa terusik dan tidak tenang saat berbuat dosa itu adalah hati nurani kita. Jika terbiasa cuek terhadapnya, ya sudah….. Makin lama makin tak kenal. Tak kenal maka tak sayang…. Tak sayang hati nurani, berarti tak sayang kebenaran…. Dan sejatinya, jika pun kita bisa sedikit demi sedikit memendam hati nurani tadi sesuai berjalannya waktu, tetapi dosa tadi tidaklah luntur dan hilang. Ia tetaplah melekat dan menenggelamkan kita. Tidak seperti rasa ‘cinta kepada pasangan’ atau benci kepada seseorang  yang mungkin bisa terkikis sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu, dosa tidak bisa luntur apalagi hilang, jika kita tidak bertobat. Yaa…. Dosalah yang tidak lekang oleh waktu. Karena itulah Ia datang ke kita semua dengan darahnya, dengan ‘kematianNya’, agar kita tergugah untuk bangkit dari kematian oleh dosa bersamaNya.

Ayuk bertobat….. Dan mengikuti jalanNya, karena hanya Dialah yang punya kewenangan mencabut dan menghapus dosa, karena kasihNya kepada kita juga tak lekang oleh waktu….(Set)

Add comment


Security code
Refresh