JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kumpulan Refleksi

Mulai Membangun Rumah

AddThis Social Bookmark Button

“Begini Pak…. Saya sering diberi penglihatan yang aneh-aneh. Kadang saya melihat dinding yang luas dan berwarna putih. Kadang juga hanya bisa melihat kabut putih dimana-mana. Itu membuat saya bingung…..” Itu adalah salah satu keluhan atau uneg-uneg dalam hati seorang bapak-bapak yang usianya sudah senja.

Rekan saya yang seorang konselor dengan sabar terus mendengarkan, tanpa menyela sedikitpun. Setelah semua diceritakan, termasuk perasaan yang menyertainya, rekan saya baru menjawab. “Tidak apa-apa Pak…. Itu wajar kok. Penglihatan dan rasa sepi atau takut meninggal yang sering hinggap di Bapak menurut saya adalah sebuah pertanda. Bapak diingatkan untuk bersyukur atas segala yang sudah diberikan Tuhan hingga usia Bapak yang ketujuh puluh ini. Sungguh luar biasa Bapak bisa menikmati hidup hingga usia 70-an. Kita tidak tahu kapan kita akan kembali dipanggil olehNya. Bapak juga tidak tahu….. Bisa 10 tahun lagi, 5 tahun, setahun, atau bahkan besok pagi. Demikian juga dengan saya. Nah kita semua, khususnya Bapak diingatkan kembali olehNya melalui penglihatan-penglihatan tadi agar mempersiapkan baik-baik jika sewaktu-waktu kita dipanggil. Kita persiapkan segala bekalnya ya Pak…. “ Rekan saya tadi secara pelan-pelan memberi masukan kepada bapak tadi, agar memulai kembali berbuat kebaikan selagi masih bisa. Dengan berbuat baik, maka kemungkinan timbulnya penglihatan dan segala perasaan bingung, takut, kesepian akan kecil, karena batin menjadi tenang dan bahagia. Setelahnya, bapak tadi diberi pemahaman baru tentang pentingnya berbuat kebajikan selama hidup di otak bawah sadarnya melalui hipnotis.

 

Saya yang memperoleh sharing rekan saya tadi menjadi ikut merenung. Beruntung bapak tadi masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Coba jika tidak….. Beruntung juga dia bertemu dengan rekan saya yang seorang konselor itu. Nah, masalahnya kan tidak semua dari kita punya kesempatan yang sama bukan? Siapa tahu, besok pagi saya atau siapa pun, pagi-pagi sudah tidak bisa bangun dan tidak diberikan waktu lagi untuk bernafas…. Tidak ada yang tahu bukan? Semua memang misteri….

 

Saat kejadian itu, hari-hari saya sedang tersita oleh semangat untuk mempercantik rumah saya yang sederhana sebisa mungkin. Sederhana dan kecil, atau menurut saya minimalis karena memang tidak ada apa-apanya… Tetapi paling tidak, lebih besar dari rumah masa depan saya yang 2 x 1 itu. Rumah tipe 2 x 1 itu adalah gurauan saya (mungkin saudara semua juga) tentang masa depan kita. Berapa pun tipe, megah, dan luas rumah kita saat kini, suatu saat kita hanya perlu 2 x 1 meter, itu pun berimpitan dengan rumah tetangga. Yaa…. Suatu saat kita hanya perlu seluas itu, yaitu saat kita dikubur. Itu pasti terjadi suatu saat…. Kapan? Tidak ada yang tahu pasti.

 

Di usia yang sudah melaju ke pertengahan usia hidup rata-rata seperti ini, saya hanya mampu membeli rumah dengan perabotan ala kadarnya. Butuh waktu dan energy untuk mengisi dan mempercantiknya, entah kapan terwujud. Saya menjadi termenung…. Untuk rumah yang berwujud jelas, bisa diraba, dan dipandangi seperti ini saja sulit. Lalu bagaimana dengan rumah saya jika suatu saat saya dipanggil oleh Tuhan? Dengan usia yang tidak muda lagi seperti ini, sudahkah saya mulai mencicilnya pelan-pelan? Apakah segala pikiran, sikap, tingkah laku, dan perbuatan saya sedari kecil sudah cukup untuk sekedar membuat satu fondasi di dunia baru setelah saya mati nanti? Apakah umur saya kemudian masih cukup untuk membuat kolom-kolom, balok-balok, jendela, atap, dan perabotannya?

 

Memang tidak ada yang tahu pasti, apakah wujud dunia baru kita nanti saat sudah meninggal. Apakah neraka itu pastinya? Apakah surga itu sejatinya? Semua akan menjawab sesuai keyakinan yang dianutnya masing-masing. Entah apa keyakinan dan agamanya, tidak perlu diperdebatkan…. Yang jelas kita semua akan meninggal. Saya pribadi sebetulnya percaya bahwa saat tiba waktunya saya berpulang, telah disediakan rumah bagi saya. Ini sesuai dengan yang dijanjikan olehNya….

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

(Yoh 14 : 2)

Tetapi ada satu hal lain yang saya juga yakin. Tidak mungkin jika saya akan mendapat tempat tinggal saya kelak, dengan tanpa berbuat apa-apa. Untuk mendapat rumah mungil yang sekarang saya tempati saja butuh usaha keras. Apalagi untuk tempat tinggal abadi yang tidak akan lapuk, dan tentunya dipenuhi berkah dan kebahagiaan…. Lalu apa yang harus saya perbuat untuk mempersiapkannya?

 

Saya kira kita semua sudah tahu. Kita harus mencicilnya dengan mengikuti jalanNya. Karena jalanNya adalah jalan kebenaran dan kebaikan, yang tentunya kita diajak untuk berpikir, berucap, bersikap, dan berbuat yang benar dan berujung pada kebaikan. Bahkan, jika yakin benar, Dia sudah berfirman bahwa Dia sendiri sudah mempersiapkan tempat tinggal di sana, khusus bagi kita satu persatu. Hanya, kita perlu mempersiapkan dan membenahi diri kita agar pantas mengetuk pintu, pantas mendapat kuncinya, dan layak untuk menempatinya bukan? Semoga kita semua masih diberi waktu untuk mulai membangun rumah abadi kita masing-masing. Tidak perlu menunggu esok. Mari mulai dari sekarang, semoga Dia berkenan.  Amin….(Set)


Add comment


Security code
Refresh