JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah-kisah Inspiratif

Mencinta Hingga Terluka

AddThis Social Bookmark Button


Pagi ini, dalam perjalanan ke Jakarta dengan kereta api, aku menemui seorang ibu-ibu pengemis. Kulit keriput dan baju lusuh yang ia kenakan mengingatkanku tentang cerita Bunda Theresa dan kedermawanan seorang pengemis.

 

Suatu hari, Bunda Theresa berkeliling dari gang ke gang di kampung-kampung Calcuta. Ia mendengar seseorang memanggilnya.

“Bunda Theresa!” teriak orang itu, yang ternyata seorang pengemis. Ia menggelesorkan kaki cacatnya mendekat ke Bunda Teresa.

“Ini untukmu Bunda…. Aku memberikannya padamu,” kata pengemis itu sambil memberikan semangkuk uang receh rupee hasil jerih payahnya seharian itu.

                Bunda Theresa  sejenak tertegung, lalu berkata secara halus. “Mengapa Bu? Bukankah ini untuk makan Ibu hari ini? Nanti Ibu gimana? Untuk Ibu sendiri saja ya…. Maaf.”

                Pengemis itu memandang Bunda Theresa dengan mata berkaca-kaca. Dia sedih sekali. Dia memang belum makan pagi.

Bunda Theresa memperhatikan baju lusuh yang dipakai pengemis itu. Dilihatnya juga kulit keriput membalut tulang yang kini berlutut di depannya. Bunda Theresa kemudian mendekat.

 


                “Tapi Bunda……,” bujuk pengemis itu. “Ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Aku mohon terimalah Bunda… Tolong berikan uang ini kepadanya,” kata pengemis itu dengan mata penuh harap.

                Bunda Theresa tersenyum dan berkaca-kaca matanya. Bunda tidak berani menolak. “Baik Ibu, uang ini aku terima. Terima kasih…..,” ucap Bunda Theresa, sambil menepuk bahu pengemis itu, tanda menghargai jerih payahnya.

                Bunda pelan-pelan berlalu… Suatu pesan dia tangkap dari hadiah sang pengemis itu. Betapa ia memberikan seluruh hartanya hari itu (yang hanya cukup untuk makan) dengan penuh kerelaan dan dengan segenap cinta beserta harapan tulusnya demi orang lain. Betapa pengemis itu sangat ber-empati dengan orang lain yang lebih menderita, sampai ia sendiri melupakan deritanya. Pengemis itu tidak menghiraukan keringat, keletihan, dan luka goresan di kakinya akibat panas jalan dan terjal bebatuan saat menggelesot. Ia memberikannya secara total, untuk kebahagiaan orang lain. Dan ketika itu dikabulkan Bunda Theresa, betapa pengemis itu menjadi sangat bahagia…..

 

Pasti ada sesuatu yang menggerakkan hati pengemis itu. Dan itu adalah cinta sejati…. Cinta sejati mencurahkan segalanya untuk orang lain, hingga kadang seolah ‘mengabaikan’ diri sendiri. Tetapi ternyata tidak, yang ‘diabaikan’ hanyalah kebutuhan raga, tetapi kebutuhan batin menjadi terpenuhi. Badan boleh lapar dan luka, tetapi menjadi tidak penting ketika batin bahagia ketika bisa membantu dan berguna bagi orang lain. Itu mungkin yang namanya mencinta hingga terluka…..

 

Sampai dimanakah cinta kita? Apakah kita mencinta istri/suami/orang tua/pacar dan lain-lain dengan sepenuh hati, hingga kita bisa tidak merasakan luka kita, ataukah cinta kita ternyata sebatas cinta diri saja? Seakan mencinta orang lain, padahal segalanya hanya untuk kebahagiaan kita? Kalau belum, mari kita belajar seperti pengemis tadi, berani untuk belajar MENCINTA HINGGA TERLUKA…..(Set)

 

Add comment


Security code
Refresh