JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Linkshare_88x31McroBtn
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah-kisah Inspiratif

Itu Tidak Penting

AddThis Social Bookmark Button

Seorang teman datang mendekat sambil bersungut-sungut. Makin kucellah penampilannya. Sudah badan bermandi keringat, rambut acak-acakan, muka apalagi..hehehhe.

“Males banget seh....! Dasar tidak tahu terima kasih....” katanya sambil menghempaskan pantat di kursi sebelahku.

“Memang kenapa Bro?”

“Tuh temanmu tuh! Sudah dibantu, tidak tahu diri lagi. Main perintah sana sini, setelah selesai malah sombong, seolah semua hasil kerjanya sendiri.... Dasar!!!”

Saya tersenyum geli mendengarnya. Bukan karena kejadian yang ia alami, tetapi lebih karena mimik mukanya yang kini tampak lebih bersemangat dan cerah saat mengeluarkan keluh kesahnya.

Dalam hati saya berpikir, sering kali saya juga mengalami hal itu. Bersungut-sungut dan menyesal telah membantu seseorang karena merasa tidak dihargai. Pernah saya sekali waktu (saat masih kuliah) memberi uang saku saya sebagian kepada seorang anak kecil lusuh karena merasa kasihan, katanya belum makan dari pagi. Tidak tahunya, 20 menit kemudian saya bertemu lagi anak tersebut di tempat permainan dingdong, sedang asik bermain game. Wahh, saat itu saya langsung spontan mengumpat. “Sialan... Tahu gitu tadi uangnya buat saya nambah lauk makan malam saja. Saya saja tidak pernah main game seperti itu!!”

Saya rasa kita banyak yang mengalami hal senada seperti di atas, entah di dalam kepanitiaan di tempat kerja, dalam perjalanan pulang, di kehidupan bertetangga, di awal bulan atau di akhir bulan saat kantong menipis, dan lain sebagainya. Saat mengalami kejadian saat itu, saya spontan merasa kesal, menyesal, dan suasana hati menjadi tidak nyaman. Padahal memang mengapa harus kesal dan sebagainya juga ya? Jika masih seperti itu, sepertinya motivasi tindakan saya yang belum benar. Jika ingin membantu, ya bantulah saja! Jika sudah selesai membantu, ya sudah cukup sampai di situ. Cukup!

Hehehe.... Cukup cukup cukup! Maksud saya adalah kalau mau membantu, ya bantulah dia. Tidak penting dia mau berterima kasih atau tidak, tidak penting dia mau membalas membantu kita kelak atau tidak, dan bahkan tidak penting dia memuji kita atau menyanjung. Itu tidak penting. Kenapa? Ya karena tujuan kita hanyalah membantu bukan? Bukan untuk mencari ucapan terima kasih, bukan untuk mengembangkan hidung kita dengan pujian dan sanjungan, bukan untuk kepuasan karena dinilai sebagai orang yang suka membantu, bukan untuk menaikkan harga diri kita. Maka jika sudah selesai membantu, tersenyumlah karena sudah membantu. Itu yang penting.

Jika kita masih mengharapkan ucapan terima kasih, pujian, balasan atau imbal balik dari orang yang kita bantu, sejatinya kita tidak membantu orang, tetapi hanya memanfaatkan orang lain untuk kepentingan diri kita sendiri. Bukan orang lain yang kita bantu, tetapi sejatinya diri kita sendiri. Dan parahnya kita menggunakan orang lain untuk tujuan itu (dengan ucapan terima kasih dan segala imbal balik). Itu semua pertanda bahwa kita belum bangga dan belum bisa bersyukur atas segala hal yang kita miliki. Sekarang mari kita teliti hati kita masing-masing, sudahkah saya tulus saat membantu orang lain?

Ada beberapa ungkapan hati Bunda Theresa  yang bisa kita renungkan.

 

“KEBAIKAN yang kamu lakukan bisa jadi dilupakan orang; Itu tidak penting; Lakukanlah KEBAIKAN.

Apa yang telah kau BANGUN mungkin akan roboh; Itu tidak penting; BANGUNLAH.

Orang-orang yang telah kau BANTU, mungkin tidak mengucapkan “terima kasih”; Itu tidak penting; BANTULAH mereka.

BERIKANLAH pada dunia yang TERBAIK dari mu; Mungkin mereka akan melemparimu dengan batu; Itu tidak penting; BERIKANLAH yang TERBAIK dari mu.”

 

Semoga ungkapan ketulusan dan kejernihan hati Bunda Theresa di atas bisa mengingatkan dan menginspirasi kita semua, bahwa sering kali kita jatuh ke dalam godaan ingin bermegah diri, ingin dipuji, ingin disanjung, ingin dihargai, ingin timbal balik saat membantu dan berbuat baik kepada orang lain. Itu semua bisa memperkeruh niat baik kita, padahal itu TIDAK PENTING.  (Set)

Add comment


Security code
Refresh