JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Kisah Bermakna

Persembahan Paling Berharga

AddThis Social Bookmark Button

 

Kasian ya….

Itulah ungkapan yang sering terlontar dari orang-orang yang mengenalnya (termasuk diriku tentunya). Beberapa bulan ini nama ibu itu sering menjadi bahan obrolan. Ibu itu kebetulan dulu hidup bergelimang harta benda. Semua ada baginya, seperti lengkap sudah segalanya. Namun tiba-tiba hanya dalam hitungan beberapa minggu, semuanya hilang musnah, entah kemana larinya harta-hartanya. Kata orang-orang yang mengenalnya seh katanya karena dibawa lari orang, alias tertipu. Tergiur oleh iming-iming mendapat bonus bulanan, dia terbujuk ikut invest di bisnis agrobisnis. Katanya mendapat sekian persen setiap bulannya. Dan memang, beberapa bulan pertama keuntungan langsung masuk rekening, tetapi begitu investnya ditambah lagi, tahu-tahu orang beserta perusahaannya menghilang. Dunia seperti menjadi terbalik baginya. Mau makan saja susah…. Beruntung dia masih punya suami yang tahan banting. Hanya saja, mungkin semua itu seperti mimpi bagi ibu itu. Ibu itu menjadi stress, uring-uringan ke keluarga dan tetangga, sering teriak histeris malam-malam, dan sekarang mengurung diri di dalam rumah. Biar pun dulunya terkenal sebagai orang yang pelit, tetapi kini orang-orang tetap saja merasa kasihan kepadanya (tentunya ada juga yang sebaliknya, senang melihat penderitaannya)…..

 

Rasa kehilangan yang amat menyiksa…. Itulah yang sering membuat orang menderita, bahkan tak jarang seperti kehilangan jiwanya, seperti ibu tadi. Banyak dari kita yang juga mengalaminya, biar pun mungkin dalam skala yang berbeda. Tapi saat kehilangan apa yang kita anggap sangat bernilai dalam diri kita, dunia menjadi terasa gelap dan menyiksa. Misalnya saja kehilangan  dicampakkan pacar, suami, istri, anak satu-satunya, dll. Ini seperti yang dialami rekan saya.

Lima tahun pernikahan dan belum dikaruniani anak. Berbagai usaha dan doa pun telah dilaksanakan. Dan akhiranya, di tahun ke-enam diberi momongan, lalu dibesarkan dengan penuh kasih dan cinta. Hingga saat masuk SD, semua seperti terbalik kembali. Anaknya tertabrak saat menyeberang jalan mau jajan di sekolahnya, dan diminta kembali oleh Tuhan…. Sungguh, batas antara diberi dan kehilangan menjadi sangat tipis, seperti perasaan bahagia dan putus asa yang bisa saja sesaat berubah. Butuh waktu, energy, dan proses yang sangat lama bagi rekan tadi untuk bangkit kembali. Dan pengalaman serupa bisa saja menghampiri kita bukan? Tidak ada yang menjamin bahwa apa yang kita miliki akan abadi / langgeng. Dan saya yakin, justru rasa kehilangan itu yang suatu saat akan kita hadapi….

 

Yang perlu kita renungkan sebetulnya mengapa sebagian besar dari kita merasa takut dan tidak siap saat harus kehilangan sesuatu, terlebih jika itu adalah hal/barang yang sangat berharga dalam hidup kita. Jawabannya tentu relative dan subyektif, tergantung pada pribadi masing-masing. Tapi kalau kita mau mencermati secara seksama, lingkungan sekitar memang sangat mempengaruhi pandangan kita. Lihat di sekeliling kita, betapa kita setiap hari seakan disedot dan dihanyutkan oleh arus konsumerisme dan hedonisme (mencari kenikmatan duniawi), sebagai efek dari kemajuan jaman. Arus ini begitu menggoda, dan sekali kita membiarkan (bahkan kadang dengan senang hati dan suka rela) diri terjun ke dalamnya,kita akan sulit berenang ke tepi. Kita akan disibukkan oleh hasrat dan keinginan-keinginan sesaat (seperti ganti HP, mobil, rumah, perhiasan, mempercantik diri berlebihan, ingin dihormati, dll), dan berusaha meraihnya siang malam, seakan yakin, jika sudah meraih akan bahagia. Jika tidak berhasil, hidup menjadi terasa gersang dan tidak tenang. Hmmm…. Itulah yang namanya arus konsumerisme dan hedonism. Begitu terbawa arusnya, kita seakan menempel dan lekat kepadanya. Kita sesaat bangga dan bahagia dengan apa yang dapat diraih, dan begitu rusak atau hilang, dengan cepat rasa bangga dan bahagia tadi menjadi rasa kehilangan, sedih, merana, bahkan kadang menjadi hilang jati diri. Hidup kita seakan hilang, bersama hilangnya sesuatu yang kita anggap berharga tadi……

 

Selain godaan arus jaman, sebetulnya kalau kita tengok ke belakang, rasa takut dan stress saat kehilangan sesuatu ini juga karena budaya yang ditanamkan dalam keluarga kita masing-masing. Dari kecil bisa saja dalam keluarga tidak dibiasakan budaya memberi. Memberi dan kehilangan sebetulnya sama-sama menjadi tidak memiliki, tetapi berbeda efek batinnya. Dengan kebiasaan memberi, kita belajar untuk ber-empati dan bersimpati kepada orang lain, belajar berbagi dengan orang lain secara suka rela, dan tidak terfokus pada diri sendiri. Dengan demikian, pemahaman akan materi atau apapun dalam hidup kita menjadi lain. Kebahagiaan kita tidak terletak  (tidak melekat) pada sesuatu yang kita miliki…. Mari kita teliti batin kita masing-masing, bahkan hingga saat ini pun mungkin kita masih merasa berat untuk berbagi. Jangankan untuk orang lain yang menderita (pengemis, para yatim piatu, dll), bahkan untuk Tuhan sendiri (saat persembahan di gereja) banyak dari kita yang harus berhitung bukan? Bagaimana jadinya jika suatu saat kita harus kehilangan anak tercinta, suami/istri terkasih, atau bahkan nyawa kita?

 

Saya merasa sangat kagum dengan kisah yang dialami Bapa Abraham, yakni saat ia diminta mengorbankan anaknya terkasih (Ishak) kepada Tuhan. Bukan hanya akan kehilangan anak tunggalnya, tetapi yang namanya mengorbankan artinya ya menyembelihnya. Bayangkan, ia harus menyembelih anak terkasihnya sebagai persembahan….. Sungguh cobaan yang sangat berat. Hebatnya, Bapa Abraham mentaatinya dan bersiap menyembelih Ishak. Dan saat akan kejadian, ternyata Tuhan menggantinya dengan persembahan seekor domba. Ternyata Tuhan mengujinya hingga detik-detik terakhir….

 

Mungkin kini saatnya bagi kita untuk menyadari kembali. Apa seh yang sebetulnya menjadi hak kita sepenuhnya, sehingga kadang kita takut kehilangan sesuatu, melebihi takut kita akan Tuhan? Segala sesuatu yang ada di diri kita hanyalah alat yang Ia pinjamkan ke kita, agar kita pakai untuk meneruskan karya berbuat baik kepada orang lain. Dan ternyata bukan hanya Bapa Abraham yang rela kehilangan sesuatu yang sangat dikasihi, tetapi malah mengorbankannya. Ada satu lagi yang patut kita ingat baik-baik, yaitu Bapa sendiri yang mengorbankan anakNya terkasih untuk keselamatan kita, Tuhan Yesus….. Bapa mengorbankan anakNya di kayu salib, karena satu alasannya: Dia tidak mau kehilangan kita semua….. Untuk itu, sungguh tidak pantas jika kita hanya berkutat / terpaku pada rasa takut kehilangan sesuatu. Justru kini saatnya bagi kita untuk memberikan persembahan terbaik yang bisa kita lakukan untuk Dia…. Mari saling mendoakan. Amin…. (Set).

 

 

Add comment


Security code
Refresh