JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Amarah

AddThis Social Bookmark Button

Pagi ini saya terburu-buru mengemudikan motor butut saya dalam perjalanan ke kantor karena bangun kesiangan. Di tengah perjalanan, motor saya pelankan karena ada kemacetan. Selidik punya selidik, ternyata sumbernya adalah pertengkaran dua orang di tengah jalan, padahal saya perhatikan kendaraan masing-masing juga tidak ada yag parah. Artinya tidak mungkin tabrakan, mungkin hanya tidak sengaja menyerempet. Tetapi akibatnya bukan main, suara pertengkarannya begitu menggelegar, saling tuding, ditambah celotehan dari pengendara lain yang tidak senang terkena dampak macetnya.

Saya pun pelan-pelan melewatinya melalui pinggir jalan. Ah, beruntung juga saya memakai motor. Sambil menarik gas motor lagi, saya tersenyum sendiri saat ingat pengalaman yang serupa dua orang tadi.

Saat itu hari mulai gelap, saya dalam perjalanan pulang dari menjemput istri di stasiun kereta Bojong Gede dengan mengendarai kendaraan roda empat. Karena lebatnya hujan, plus belum terampil menyetir, mesin mobil tiba-tiba mati saat ban terperosok ke dalam lubang besar yang tidak terlihat karena tergenang air hujan. Saya pun lupa injak rem kaki atau rem tangan. Jadilah kendaraan yang au melewati lubang jadi mundur lagi. Saya tidak begitu ambil peduli, dan mesin pun saya nyalakan lagi. Tetapi kira-kira 20 m menempuh perjalanan, tiba-tiba saya disalib sebuah motor dan langsung berhenti di depan saya, sambil tangan bapak pengendaranya menuding-nuding kami berdua. Tentu saja sambil dibarengi muntahan kata-kata kasar dari mulut, yang untungnya tidak terdengar dari dalam mobil. Mungkin suara bapaknya sangat keras, sampai seorang tukang parkir di pinggir jalan pun mendatangi. Saya pun memanggil tukang parkir itu, minta tolong agar menyampaikan ke bapaknya minggir dulu, memberi kesempatan saya untuk memarkir mobil di pinggir jalan.

Begitu sudah terparkir, saya pun menghampiri bapak tadi, sambil siap meminta maaf karena saya yakin ada apa-apa. Begitu sampai di depannya (yang masih berkata-kata kurang jelas dan berwajah merah padam), saya pun inisiatif menyalami sambil menanyakan apakah saya ada yang salah. Maka bapak itu pun langsung menyemprotkan berpuluh kata, yang intinya tidak terima bahwa mobil saya mundur dan mengenai motornya.

Saya pun jadi paham. Dengan tenang saya pun meminta maaf dan mengutarakan kejadiannya, plus berterus terang tidak sengaja tadi mesin mati, plus lagi saya belum terampil menyetir. Maka dia pun kembali menyemprotkan kata-kata, sambil mengatakan dia juga punya mobil. Waduh... Kok sampai situ ya... Saya pun tersenyum dalam hati saja. Dan mengajak bapaknya untuk check motornya, apakah ada yang baret atau rusak, dan jika iya, tentu saja saya juga akan bertanggung jawab. Dan herannya, lama-lama suara bapaknya menjadi pelan. Mungkin karena saya juga tenang saja, dan minta maaf jika kecelakaan tidak sengaja tadi menyinggungnya, sambil menepuk-nepuk pundaknya. Karena malah kasihan, sudah berumur dan marah-marah, sampai seperti kesulitan mengambil nafas.

Rupanya tidak terjadi apa-apa dengan motornya. Maka saya pun kembali meminta maaf dan menanyakan apakah masih ada yang perlu saya pertanggungjawabkan. Dan bapak itu pun menjadi tenang dan mengatakan tidak apa-apa. Begitulah... Rupanya amarah mudah sekali naik ke ubun-ubun kita,  dan langsung merangsang mulut untuk mengeluarkan kata-kata keras. Bahkan, jika memungkinkan pasti berlanjut juga dengan main tangan (seperti dua orang yang bertengkar di tengah jalan tadi). Beruntung waktu itu saya merasa biasa saja, bahkan sangat tenang dan mengalah, yang saya yakin malah membuat bapaknya sungkan. Apalagi usianya juga jauh lebih berumur. Yang satu menggebu-gebu, tetapi yang satunya tenang. Jadinya semua tenang. Tidak tahu apa yang terjadi kalau saya juga melakukan hal yang sama, langsung defensif alias membela diri. Waktu itu saat bapaknya sudah pergi dan kami juga mau jalan, orang-orang yang menonton di situ justru tersenyum, dan ada yang menyeletuk: “Wah, Mas kok bisa tenang banget gitu sih?” Saya pun hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih, dan minta maaf jika membuat mereka tidak nyaman. (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh