JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Sumber Masalah Atau Korban?

AddThis Social Bookmark Button

“Ahh.... Alangkah indahnya hari ini Bro...”

“Kenapa? Bukannya di luar malah mendung?”

“Ah, kayak ga tahu saja! Ya tentu indahlah, kan Si Biang Kerok ga masuk kerja. Jadi damai sentausalah kantor kita....”

Wah, saya baru sadar, ternyata memang meja di pojok ruangan kosong, pertanda bahwa yang biasa duduk di situ memang tidak masuk kerja. Saya pun mencoba tidak ambil peduli dan meneruskan mengerjakan tumpukan kertas di meja saya. Hingga waktu terus berjalan, dan rupanya memang suasana jadi berbeda. Jika biasanya selalu ada celotehan ga jelas, kini cenderung senyap. Semua menjadi sibuk dan konsent ke kerjaan masing-masing. Tetapi bagi saya pribadi, ada yang kurang, terlebih saat jam istirahat makan siang. Biasanya saya bisa tertawa mendengar candaan tidak bermutu, hari itu menjadi hambar.

Rupanya rasa hambar karena ketidakhadiran satu rekan di kantor tidak hanya saya yang merasakannya. Di balik mayoritas rekan yang senang karena ketidakhadiran satu rekan yang dicap biang kerok, beberapa justru kangen dengan kehadirannya. Tetapi memang begitulah. Bagi saya sangat wajar sekali, dimanapun kita berada, pasti ada satu dua orang yang unik tingkah lakunya. Unik ini di mata orang kebanyakan bisa berarti menyebalkan. Terlebih yang tidak begitu mengenalnya secara mendalam. Tetapi akan berbeda bagi orang yang mengenalnya secara lebih intim, apalagi jika mengetahui latar belakangnya.

Demikian juga yang saya alami. Kebetulan saya pernah diajak sharing oleh rekan yang dicap sebagai sumber masalah tadi. Kalau tidak salah sih pas ada acara gathering kantor. Nah, dari sharing itulah saya menjadi paham mengapa dia punya tingkah laku yang nyentrik dan unik, dan di mata kebanyakan orang menyebalkan. Rupanya masa lalunya bersama keluarganya yang membentuknya menjadi seperti itu. Bagi saya pribadi, beruntung dia bisa mengalihkan segala kesulitan hidupnya ke dalam tingkah laku yang unik seperti ini. Jika tidak, saya rasa justru dia tidak akan tahan dan menjadi stress, atau bisa juga lari ke hal yang lebih buruk, menjadi penjahat contohnya.

Pengalaman dengan satu rekan itu membuat saya menjadi lebih hati-hati dalam menghadapi dan menilai kepribadian seseorang. Tidak semua orang yang tingkah lakunya menyebalkan dan tidak sejalan dengan kebiasaan orang pada umumnya adalah orang yang jahat atau tidak baik. Seperti rekan saya tadi, bagi saya pribadi dia bukanlah si biang kerok atau si sumber masalah, tetapi justru dia adalah sebuah korban dari masa lalu, yang sebetulnya tidak diinginkan oleh semua orang. Maka cara pandang saya menjadi berbeda, dan saya rasa menjadi lebih adil dan manusiawi. Dari cara pandang seorang sumber masalah yang seharusnya dijauhi, menjadi cara pandang seorang korban yang seharusnya didekati dan dikasihi. Maka sangat kontras sekali bukan?

Saya rasa, di setiap kesempatan hidup kita semua pernah mengalami hal yang senada. Bisa saja suatu saat kita bertemu dengan tetangga yang menyebalkan, keponakan yang rewel, rekan kerja yang membuat tidka nyaman, bahkan, siapa tahu kita harus hidup serumah dengan orang yang tingkah lakunya membuat kita tidak kerasan? Misalnya orang tua kita, mertua kita, kakan adik kita, dan lain-lain. Tidak perlu gusar dan main hakim sendiri. Lihat lebih dalam, maka akan terlihat jelas bahwa seharusnya kita lebih perhatian ke mereka ini, karena mereka adalah korban dari masa lalu dengan keluarga atau lingkungan. Ataukah kita lebih memilih untuk menutup mata dan mengambil langkah termudah, yaitu menjauhi?

Sayang sekali kalau kita lebih memilih menghakimi dan menjauhi, karena sejatinya kita masing-masing adalah pribadi yang tidak sempurna juga, karena kita juga dipengaruhi oleh masa lalu dan lingkungan. Bukankah setiap orang pasti berdosa? Tetapi apakah Tuhan, Yang Maha Sempurna, juga hanya memilih dan mengasihi orang yang baik-baik saja? Bukankah Dia justru datang untuk merangkul kita-kita yang penuh kekurangan dan dosa ini, agar kembali lurus dan berjalan bersamaNya? Maka, jika Dia yang Maha Sempurna saja mau merangkul kita (yang mungkin di mata Tuhan kita ini sumber dosa), masak kita yang penuh kekurangan ini tidak mau merangkul rekan kita yang manusia biasa juga? Yukkk.... Kita lebih fair kepada semua orang.  GBU.... (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh