JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Kegembiraan Sejati

AddThis Social Bookmark Button

Sore itu saya memaksakan diri untuk makan di sebuah warung tegal. Saya katakan memaksakan diri karena memang sebenarnya uang saya mepet banget, bahkan kalau tiba-tiba saja terjadi kenaikan harga menu dari biasanya, dipastikan saya tidak akan mampu membayarnya. Tapi sudahlah, karena memang kondisi badan yang sangat capai, haus, sekaligus lapar, saya beranikan diri masuk ke warteg itu. Toh, sudah langganan juga, kalau memang tidak cukup uangnya, didompet masih ada KTP dan STNK yang bisa ditinggal buat jaminan bukan? Hehehehe... Tragis banget ya...

Akhirnya sepiring nasi plus orek kentang dan berlauk sambal teri terhidang di depan saya. Setelah memberi pelumas kerongkongan dengan beberapa teguk teh tawar gratis yang disediakan, saya pun siap menyantap rejeki itu. Ahhh.... Terima kasih Tuhan, sepertinya akan menjadi makanan terlezat di akhir bulan pahit ini!

Tetapi baru mau menyendok nasi, tiba-tiba di belakang saya terdengar suara. “Om.... Permisi Om, minta sumbangannya untuk panti asuhan...”. Saya pun menoleh dan terlihat anak menyodorkan kotak sumbangan. Saya kurang memperhatikan tulisan yang tertera di kotak sumbangan itu. Yang jelas anak terlihat rapi, biarpun kelihatan capai juga. Saya pun langsung merogoh saku jean butut saya, siapa tahu ada recehan. Dan untunglah masih tersisa Rp 1000,- ... Lumayanlah. Akhirnya seribu perak itu saya berikan ke anak itu, sambil berhitung bahwa yang penting di dompet masih tersisa sepuluh ribu rupiah. Masih amanlah untuk membayar makanan saya.

Tetapi baru mau konsentrasi lagi ke piring saya, anak itu berkata lagi. “Om... Belikan makanan dong Om... Saya belum makan...” Secara reflek saya melihat gundukan uang yang ada di kotak sumbangan yang transparan itu, dan terlontarlah perkataan tegas dari mulut saya: “ Ahh... Kamu ini gimana sih? Sudah diberi uang tidak mengucapkan terima kasih, malah meminta lagi yang lain. Maaf ya, saya tidak punya uang lagi...”. Sambil geleng-geleng kepala saya tidak memperhatikan lagi anak tadi. Sekilas Ibu penjaga wartegnya juga memperhatikan dialog kami berdua.

Saya pun mencoba menikmati makanan yang sudah saya idam-idamkan tadi. Tetapi mau tidak mau saya teringat terus dengan permintaan anak tadi. Dan makanannya menjadi tidak seenak biasanya, karena perasaan hati menjadi tidak enak juga. “Ah, serba salah...”, kata saya dalam hati. Akhirnya pikiran saya pun menjadi sibuk memikirkan masalah tadi, antara pikiran mencoba cuek, membenarkan diri, dan perasaan bersalah bercampur aduk.

Entah mengapa, saya jadi teringat dengan sebuah nasehat, yang seharusnya saya ingat baik-baik dan saya tanam baik-baik dalam hati saya. Pengalaman yang baru saja saya alami sebetulnya bisa menjadi latihan dan test bagi pemahaman dan penghayatan saya tentang kegembiraan sejati. Pantas aja, dan saya mensyukurinya, bahwa saya terusik dengan keputusan saya tadi. Karena jika saya menginginkan kegembiraan sejati, kegembiraan yang tidak semu dan tidak sementara, seharusnya sikap saya berseberangan dengan keputusan saya terhadap anak tadi. Seharusnya, saat saya sedang serba kepepet alias terdesak berbagai kebutuhan badani (seperti merasa sangat lapar, haus, kelelahan, resah tidak punya uang, dll), dan tiba-tiba saja ada yang membutuhkan, selayaknya saya memberikannya dengan senang hati.

Dan bahkan, kalaupun anak tadi tidak berterima kasih lagi, misalnya langsung pergi dengan sumpah serapah, saya seharusnya tetap bisa bersyukur dan senang hati. Nah, jika saya bisa bersikap seperti itu, barulah saya bisa merasakan apa yang namanya kegembiraan sejati itu. Masalahnya, sangat sulit bukan? Dan saya masih jauh sekali. Memberi uang seribu dan tidak dibalas dengan terima kasih saja sudah menggerutu, apalagi jika sampai memberikan makanan yang sangat saya idam-idamkan itu? Ah, itulah, saya hanyalah manusia daging, dan tentu saja masih terbelenggu dengan kebutuhan daging. Tetapi, minimal saya diingatkan dengan peristiwa itu... Minimal saya masih ada waktu untuk berjuang. “Tuhan, Engkau memang Maha Dasyat. Ampuni saya, dan berilah setitik api keberanian untuk mengubah apa yang harus saya ubah tentang diri saya...”.  GBU.... (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh