JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Olimpiade Karakter

AddThis Social Bookmark Button

Jika ditanya apakah punya kenangan baik tentang masa sekolah dulu, maka tidak sedikit dari kita akan mengingat akan kebaikan bapak ibu guru semasa SD, SMP atau SMA dulu. Entah kebaikan kecil yang langsung kita rasakan, atau hanya terkesan akan sikap santun dan teladan yang mereka berikan. Jika berlanjut ke perguruan tinggi, maka kesan keteladanan ini biasanya kurang terasa, karena sistem pembelajarannya memang berbeda. Seingat saya, dosen hanya menyampaikan materi lewat powerpoint, setelah itu selesai. Ini tentu berbeda saat di SMA, SMP, dan SD. Di perguruan tinggi cenderung tidak ada proses sapaan dan obrolan yang berisi tentang kehidupan.

Kembali akan kenangan tentang guru kita di masa lampau tadi, kenangan itu menandakan bahwa pendidikan di masa lalu ada kelebihannya tersendiri. Di balik metodenya monoton, tetapi ada kepedulian dari guru jaman dahulu. Mereka sebagai guru cenderung ada panggilan untuk mendidik. Mendidik berarti bicara tentang aklak, bicara tentang mengembangkan karakter anak. Bagaimana dengan keadaan pendidikan sekarang ini?

Sangat menarik untuk mencermati pendidikan karakter ini, terlebih sekarang pemerintah terlihat tergopoh-gopoh, terbangun dari tidur, dan menyadari pentingnya pendidikan karakter ini. Maka lahirlah kurikulum 2013, yang dalam proses pembelajaranya dirancang untuk menghasilkan output siswa yang memiliki karakter sesuai tuntutan kompetensi global. Sekitar 30 tahun lagi, di saat Indonesia merdeka ke 100 tahun, tuntutan global yang harus dihadapi anak-anak remaja sekarang ini adalah tuntutan adanya kemampuan di bidang komunikasi, sikap toleran, kerja sama, cinta lingkungan, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, apakah semua elemen bersikap seia sekata? Bukan hanya sekolah, tetapi masyarakat, dalam hal ini keluarga? Atau, jangan-jangan pemerintah sendiri belum siap dalam pelaksanaannya?

Belum lama ini, kami menerima undangan dan tawaran dari beberapa lembaga yang konsent khusus di bidang persiapan olimpiade mata pelajaran. Intinya, mereka bersedia melatih anak-anak tertentu yang bertalenta tinggi di bidang mata pelajaran, agar meraih prestasi saat ada lomba olimpiade. Dan rupanya, pemerintah sendiri juga getol dengan program olimpiade seperti ini, karena dilihat mengharumkan nama bangsa juga. Tentu, dalam tawarannya ke sekolah, sekolah juga diimingi tentang nama baik yang akan dirasakan jika siswanya menang dalam persaingan ini.

Bagi saya pribadi, program ini seperti sebuah ironi, apalagi jika yang menyelenggarakan pemerintah sendiri. Dari tujuannya, sudah jelas yang hendak dicapai mati-matian adalah prestasi segelintir siswa yang sangat cerdas, agar meraih prestasi mengagumkan, dan berimbas kebanggaan bahwa Indonesia siswanya cerdas-cerdas, buktinya juara olimpiade. Padahal, jika dihitung, tentu prestasi itu tidak mencerminkan keadaan seluruh siswa se-Indonesia bukan? Hanya segelintir siswa, dari puluhan juta. Dalam prosesnya sendiri, siswa yang terpilih tadi akan didrill mati-matian untuk berkutat berbulan-bulan dengan satu bidang mata pelajaran, dan ditanamkan semangat untuk bersaing. Jadi bisa saja setahun atau dua tahun hidupnya hanya berkutat dengan soal-soal satu mata pelajaran. Tentu tidak akan sempat merasakan pengalaman bagaimana membangun kerjasama dan komunikasi dalam berorganisasi seperti teman-temannya di OSIS misalnya. Atau sekedar camping bersama teman-teman ekskul pecinta alam, agar lebih dekat dengan alam misalnya. Maka, jika keberhasilan satu dua siswa dalam ajang olimpiade lalu menjadi acuan keberhasilan pendidikan seluruh negeri, maka sekali lagi perlu dipertanyakan. Repotnya, banyak juga keluarga yang akhirnya terbawa oleh arus ini.

 

Maka, perlu kita refleksikan lagi, apakah kita akan mengikuti arus ini. Jika iya, maka sekali lagi kita hanya akan membawa generasi muda ini ke arah yang salah. Sekali lagi, ke depannya, orang yang sukses dan bahagia adalah orang yang mampu bekerja sama (bukan bersaing), mampu berkomunikasi (bukan sibuk dengan dunianya sendiri), toleran dengan sesama dan alam (bukan fanatik dengan keyakinan dan kemampuannya sendiri), dan lain sebagainya. Jika hanya berorientasi kepada prestasi seperti halnya juara olimpiade mata pelajaran tadi, maka bangsa ini akan kembali terpuruk. Lihat saja, berapa persen juara olimpiade yang kembali ke Indonesia dan berkomitmen membangun bangsa ini. Dan berapapun juaranya, bangsa ini tidak akan maju karenanya. Lebih baik, mari kita konsentrasi kepada tujuan pendidikan itu sendiri, yakni membangun karakter. Daripada kuatir anak tidak masuk rangking tiga besar, lebih kuatirlah jika anak kita tidak bisa antri misalnya. Daripada kuatir anak tidak membawa piala, lebih kuatirlah jika anak tidak bisa menyapa orang lain, bahkan terkesan tidak sopan. Sekali lagi, sudah jaminan global, bahwa generasi yang akan menuai sukses dan kebahagiaan adalah generasi yang berkarakter. Maka, daripada sibuk dengan olimpiade mata pelajaran, mari kita bekerja sama untuk olimpiade karakter... (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh