JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Just Say Thanks

AddThis Social Bookmark Button

Kebiasaan 3S, itulah yang sedari kecil ditanamkan kepada saya. Senyum, sapa, salam! Anywhere, anytime. Dimanapun dan kapanpun, dengan siapapun... Bukan hanya didikan lingkungan keluarga, tetapi juga sekolah. Dan entah mengapa, bagi saya pribadi yang kurang bisa bicara banyak saat kecil dan remaja dulu, kebiasaan 3S ini sangat membantu, biarpun hanya satu yang bisa saya andalkan, yakni senyum, ditambah mengangguk. Itu saja...  

Nah, rupanya setelah berkembang mental saya, kebiasaan senyum itu akan bertambah manis dengan mampu berkata “terima kasih”. Bagi saya, senyum dan ucapan terima kasih itu adalah harta melimpah sekaligus takterbatas yang bisa saya berikan ke orang lain. Jangankan saat diberi, bahkan saat saya membeli sesuatu pun selalu saya akhiri dengan ucapan terima kasih. Dan saya yakin sekali, kebiasaan ini sangatlah wajar dan bukan hal yang luar biasa. Sedari kecil, semua teman saya melakukannya. Rasanya saat itu hampir semua melakukannya.

Kebiasaan ini tentu saja masih saya bawa hingga sekarang. Bukan saja karena sudah otomatis, tetapi dalam hati saya menyadari dan menyakini, dengan modal senyum dan selalu mengucapkan terima kasih itu, saya justru semakin diberi kelimpahan anugerah. Semoga dengan mengatakan hal ini, saya tidak terkesan sombong dan tinggi hati. Tentu saja saya juga sangat manusiawi, disaat sedang gundah, terkadang kebiasaan tadi juga terlupa.

Sebenarnya akhir-akhir ini banyak kejadian yang menggelitik saya, sehingga mau tidak mau saya merasa perlu bercerita tentang kebiasaan ini. Seperti biasa, perjalanan kaki saya sering tertuju ke KRL Bogor – Jakarta. Di sela-sela rasa capai, sebagai penumpang setia KRL saya berusaha menikmati perjalanan saya. Ada satu fenomena menarik hati saya. Adalah sewajarnya dan biasa, terlebih di Indonesia tercinta ini, jika penumpang pria lebih memperhatikan kebutuhan penumpang lain, misalnya penumpang wanita, ibu-ibu, bapak yang lebih berumur, anak kecil, dan lain sebagainya. Maka adalah sudah sepantasnya jika seorang pria yang mendapatkan tempat duduk di KRL, akan memberikannya kepada yang lebih membutuhkannya tadi, dan dia rela berdiri. Dan saya merasa ikut berbahagia saat melihat seseorang melakukannya. Itu juga mengingatkan dan menyadarkan saya, jika terkadang saya merasa terlalu capai dan merasa berhak untuk tetap duduk disaat ada yang membutuhkan. Maka sebiasa mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama. Memberikan tempat duduk saya. Dan hal itu lama-lama menjadi kebiasaan juga.

Tetapi ada sesuatu yang rasanya semakin menghilang.  Rasanya saya sudah jarang sekali mendengar langsung, atau hanya melihat, ada orang yang mengucapkan terima kasih saat diberikan/dipersilahkan tempat duduk. Bahkan sekadar senyum pun tidak. Jangankan mengucap terima kasih dan sekadar senyum, yang terjadi biasanya justru buru-buru setengah lari ke arah tempat duduk yang diberikan tadi. Seperti rebutan, takut keburu didudukin orang lain. Karena terlalu sering melihat kejadian seperti ini, saya yakin lama-lama ini juga menjadi kebiasaan. Atau jangan-jangan memang sudah?

Bukan berarti saya pribadi mengharapkan imbalan berupa ucapan terima kasih. Saya yakin, teman-teman yang lain juga tidak mengharapkan. Tetapi rasanya memang lain. Baru beberapa hari yang lalu, setelah berbulan-bulan lamanya, saya mengalami pengalaman yang berbeda. Seperti biasa, saat KRL mulai penuh dan saya berada dalam keadaan duduk, di stasiun depok baru ada seorang wanita yang masuk kereta. Berhubung tempat duduk penuh dan saya berada di dekatnya, saya mempersilahkannya untuk duduk. Saya sendiri tidak terlalu acuh atau mengharapkan imbalan apapun. Tetapi rupanya, setelah duduk, wanita tadi kembali menatap saya dan melemparkan senyum dan anggukan kepala. Dan ini tidak saya duga, karena memang tidak mengharapkan. Ahhh... Rasanya sangat damai dan bahagia. Rasa capai saya jadi hilang. Dan sebagai balasan rasa damai dan bahagia tadi, tentu saja saya membalas dengan senyum sembari pergi ke daerah dekat pintu (tempat favorit saya jika tidak duduk).

Justru terbalik jika dirasakan. Yang saya berikan hanyalah tempat duduk, tetapi yang saya dapatkan adalah rasa damai dan bahagia, bahkan rasa capai badan saya ikut menguap. Jika sudah begitu, bukankah saya yang seharusnya berterima kasih? Nah, itulah maksud saya. Terkadang, dengan hanya memberikan sebuah senyum, apalagi ucapan terima kasih, kita akan mendapatkan balasan yang jauh lebih berharga lagi. Bukan hanya sekali dua kali saya memperhatikan reaksi petugas parkir, saptam, kasir dan lain sebagainya saat seseorang mengucapkan terima kasih kepada mereka. Banyak dari mereka langsung terlihat cerah wajahnya. Mungkin rasa capai otomatis juga akan berkurang. Demikian juga sebaliknya, saat orang acuh memberi uang parkir sambil lalu, bahkan terkadang seperti melempar. Dan rasanya sekarang ini sikap seperti ini lebih sering kita jumpai. Satu hal yang akhir-akhir ini juga menguatkan saya. Betapa dengan modal ucapan terima kasih secara tulus ini membuat saya seperti dianggap saudara (anak) oleh beberapa keluarga di warung-warung yang sering saya singgahi. Bukan GR atau gede rasa, tetapi saya memang merasakannya. Apa sih yang bisa mengalahkan rasa damai dan bahagia saat dianggap sebagai anak dan saudara oleh orang lain? Bagi saya tidak ada. Dan sekali lagi, maka justru saya yang harus berterima kasih kepada mereka.... Bagaimana dengan saudara sendiri?  (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh