JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Aku Menghembuskannya

AddThis Social Bookmark Button

Sudah beberapa tahun tidak bertemu, sekali bertemu kok terasa asing ya... Itulah yang saya rasakan begitu berjumpa lagi dengan sahabat kental masa lalu, yang terpisah karena dia pindah ke kota besar. Bukan asing karena tidak lama tidak bertemu mungkin, tetapi lebih ke tolok ukur pembicaraan. Kalau dulu dia lebih santai, apa adanya, kok sekarang jadi terlihat begitu sibuk, penuh pikiran, dan apapun yang diobrolkan, ujung-ujungnya selalu soal pemasukan dapur alias duit. Jadi, biarpun cuma 2 jam mengobrol, hampir secara keseluruhan selalu dibumbui soal duit. Tidak seperti bayangan awal saya sebelum berjumpa. Dari rumah, saya sudah senyum-senyum sendiri karena membayangkan kami berdua mengobrolkan hal-hal lucu yang kami lakukan di masa lalu. Ternyata, setelah bertemu, bayangan awal itu sama sekali tidak terjadi...

Mungkin sebagai orang yang bekerja di kota besar, dimana lingkungan dan tempat kerja selalu dipenuhi iming-iming atau tuntutan hidup, hal seperti itu wajar. Saya juga tidak begitu ambil pusing, karena bukan hanya sahabat saya tadi yang berubah. Banyak teman bahkan saudara saya yang berubah setelah beberapa tahun bergelut dengan sibuknya tuntutan kota. Semua terasa sangat sibuk mencari pemasukan, bahkan libur pun pikiran selalu dipenuhi dengan duit. Pikiran sibuk mikir keluar duit berapa, lalu masih ada duit berapa, dan besuk harus cari tambahan lewat apa.... Jadinya fisik aja yang berlibur, tetapi jiwa tidak...

Saya jadi teringat dengan suguhan tayangan televisi akhir-akhir ini. Betapa tahun ini banyak sekali tokoh-tokoh yang dulu terlihat baik, eh sekarang setelah menjadi pejabat tahu-tahu kok ditangkap dan menjadi penghuni penjara. Saya bilang dulu baik, ya relatif juga, tetapi minimal terlihat baik karena beberapa berasal dari dunia akademis misalnya. Orang yang berkecimpung di dunia akademis (dosen misalnya), minimal punya pandangan hidup yang unik. Tidak begitu ngebet dan ngoyo soal materi. Tetapi begitu jadi pejabat dan disuguhi kesempatan, kok terlibat korupsi juga ya... Jadinya, materi yang dikumpulkan dengan penuh semangat selama jadi pejabat pun ludes disita. Bahkan mungkin juga materi yang dicari secara halal selama sebelum menjadi pejabat juga ikut disita. Jadinya seperti sia-sia. Ludes semua.... Yang tertinggal hanya keluarga yang tidak bisa lagi diurus tetapi harus ikut menanggung hukuman moral dari masyarakat, lalu nama baik yang hancur lebur, dan fisik maupun jiwa yang kini terkungkung jeruji besi penjara. Mengapa bisa seperti itu ya?

Ya menurut saya karena memang harus seperti itu. Jika kita terlalu disibukkan dengan materi, bahkan mengukur segala sesuatu (kebahagiaan, kesuksesan, kesenangan misalnya) dengan tolok ukur materi, maka memang akan sia-sia. Banyak bukti sebetulnya yang bisa kita lihat, tanpa harus ikut merasakan dulu baru bertobat. Tidak usah jauh-jauh, mungkin tetangga, saudara, bahkan diri kita juga pernah merasakan hal yang sama. Terlalu sibuk dengan tuntutan dunia, sehingga menghabiskan semua energi untuk mencari uang. Sebetulnya tidak salah juga, cuma memang sebagai manusia yang mudah tergoda, maka kita akan jatuh dalam godaan, dan mulai melupakan sumber kebahagiaan itu sendiri.

 

Mari kita renungkan dan refleksikan, betapa jika kita terlalu sibuk dengan tuntutan duniawi, betapapun kita mendapatkannya, pasti akan ada saja yang membuatnya hilang juga kalau kita lupa dengan yang utama. Lupa berdoa, lupa beramal, lupa bersyukur. Bahkan, mungkin merasa tidak lupa berdoa, rajin ke gereja / mesjid / dan lain-lain, tetapi dalam doanya hanya berpusat pada diri sendiri, yakni selalu meminta rejeki. Itu sama saja, kelihatannya berdoa, tetapi ujung-ujungnya hanya berujung ke rasa keegoisan semata.

Jika seperti itu, maka semua memang akan ludes dan sia-sia. Karena Tuhan sendiri sudah Berkata: “ Kamu mengharapkan banyak tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya”. Nah, itulah yang terjadi, dan akan menimpa kita semua, jika melupakan sumber kebahagiaan itu sendiri, yakni Dia Tuhan kita....  (Set)

 

Add comment


Security code
Refresh