JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Kisah Bermakna

Siapa Bilang Selingkuh Itu Tidak Pakai Hati?

AddThis Social Bookmark Button

“Dasar tidak punya hati! Tidak punya perasaan! Bisa-bisanya mengkianati teman sendiri seh?”

Itu salah satu ungkapan yang sering muncul, sebagai protes kita terhadap perselingkuhan terhadap teman sendiri. Orang yang berani berselingkuh, apalagi berselingkuh dengan pasangan teman sendiri dianggap tidak berperasaan, tidak punya hati, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, benarkah tuduhan itu?

Menarik untuk direnungkan, karena bagi saya justru sebaliknya. Orang yang terjebak dalam perselingkuhan biasanya karena justru bermula dari sisi rasa. Perselingkuhan, sedangkal apapun, pasti dimulai oleh perasaan. Misalnya selingkuh karena tergoda oleh penampilan. Tentu saja kalau soal penampilan, pertama dari pandangan mata, kemudian timbul rasa suka (sebatas suka akan penampilannya). Sekali berarti soal rasa / perasaan. Lalu yang mendalam, pastinya sangat dipengaruhi oleh perasaan. Biasanya bermula dari permasalahan dengan pasangan, yang mungkin terasa buntu dibicarakan. Maka adalah sangat terbuka untuk mencari nasehat atau masukan dari orang lain di luar pasangannya. Jika curhat ke orang yang tepat tidak jadi masalah, yang repot adalah jika curhat kepada lawan jenis (siapapun itu, teman / sahabat / saudara). Jika curhat ini terus berlanjut secara terus menerus sehingga berkembang menjadi suatu kenyamanan, maka kuncinya adalah orang yang diajak curhat tadi. Mengapa?

Jelas, relasi yang dimulai dari curhat akan berlanjut ke kenyamanan, dan rasa nyaman ini sekali lagi adalah soal rasa dari hati kita. Maka jika yang diajak curhat tadi menanggapi dengan tanpa kontrol, sangat mudah untuk berlanjut ke tahap selanjutnya. Karena bagaimanapun, sangat mudah untuk masuk ke dalam hati orang yang sedang dirundung masalah, apalagi jika sedang mengalami permasalahan akut dengan pasangannya. Cukup mendengarkan dengan sabar, dan jika ada maksud, ditambah dengan memberi sekedar masukan yang sangat mungkin diikuti. Maka sekali lagi, orang yang pegang kendali adalah yang diajak curhat (biarpun yang salah langkah pertama kali adalah yang mengajak curhat, karena tidak bisa memilah siapa yang pantas dan aman dicurhati). Sampai batas mana ia akan berperan.... Cukup mendengarkan atau sampai menanggapi, atau  sampai menawarkan solusi sekaligus perlindungan? Jika akhirnya kenyamanan ini dirasakan berdua, maka rasa/hatilah yang bicara... Dan bisa ditebak, akan berakhir dengan perselingkuhan. Tidak peduli apakah salah satunya atau bahkan keduanya sudah punya pasangan masing-masing.

Mungkin inilah uniknya kita manusia. Saat kita merasa tidak nyaman, stress, lapar kasih sayang, dan lain sebagainya, maka secara naluri kita akan dituntun untuk mencari kenyamanan, perlindungan, kesenangan, dan lain sebagainya. Seperti kita lapar, maka secara naluri kita akan mencari makanan. Ini adalah sifat manusia yang sama seperti yang dimiliki oleh hewan. Kita diberi anugerah naluri, dan naluri ini cenderung berkaitan erat dengan rasa yang kita rasakan. Rasa adalah soal hati. Hanya saja, kalau berhenti mentok ke soal perasaan / naluri ini, kita tidak berbeda dengan hewan. Ternyata, kita juga punya akal budi. Ini yang sering tertutup oleh kuatnya perasaan tadi. Jika kita ingat akal budi kita, maka kita akan ingat, kepada siapakah dan sampai batas manakah kita akan curhat. Atau sebaliknya, sebagai yang diajak curhat, kita tidak akan larut hanya kedalam rasa kasihan dan simpati dengan permasalahan yang dialami teman kita, tetapi juga akan berpikir, siapakah dia ini, bukankah dia punya pasangan yang seharusnya diajak diskusi? Pantaskah kita memberi masukan / solusi kepada seseorang, yang mungkin akan berakibat (entah baik / tidak) selama hidup baginya? Lalu bagaimana dengan pasangannya? Pantaskah kita turut campur dalam permasalahan mereka berdua, padahal yang tahu betul apa yang mereka rasakan hanyalah mereka sendiri? Maka, jika akal budi ini berjalan, ia akan menjadi rem / pengendali bagi rasa / hati kita. Terkadang, kita tidak mengindahkan akal budi ini, tetapi larut dalam perasaan yang sering obyektif. Jika tadi kita merasa lapar, maka secara naluri / rasa kita akan segera memakan makanan yang ada di dekat kita. Tetapi jika akan budi kita jalan, maka kita akan berpikir jernih, makanan yang ada itu punya siapa, apakah hak kita atau bukan?

Terakhir, selain soal hati dan akal budi, maka sebagai manusia yang katanya beragama, maka kita diingatkan untuk menerapkan iman kita. Sedalam apakah iman kita? Jika memang betul beriman, maka saat sedang merasa berat, ada satu sosok yang sangat pantas dan selalu menunggu curhatan kita, Tuhan. Dia yang akan suka rela ikut memanggul berat beban hati kita. Dan di sisi sebaliknya, kita tidak akan berani memberi masukan kepada orang lain yang sedang berbeban karena kita sangatlah subyektif. Kita hanyalah manusia lemah yang mudah terjebak dalam ilusi kenyamanan rasa ego kita.

Seperti orang yang lapar tadi, sekalipun lapar, dia akan berpikir apakah itu haknya untuk memakannya, dan secara iman bahkan sekalipun itu haknya, dia akan merenung apakah ada orang lain yang lebih membutuhkannya. Maka jika kita semua bisa jernih menggunakan tiga berkah ini (hati, akal budi, dan iman), saya merasa optimis tidak akan terjadi perselingkuhan. Justru, kita semua mudah jatuh dalam perselingkuhan ini karena hanya mengandalkan kepada satu sisi, sisi hati kita, sisi rasa kita.... Maka, memang begitulah, justru orang yang selingkuh itulah yang terlalu memakai hati. Dia lupa akan akal budi dan iman... (Set)

Add comment


Security code
Refresh