JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Kisah Bermakna

Satu Paket

AddThis Social Bookmark Button

Awalnya saya bingung juga dengan keadaannya. Bagaimana tidak? Tinggal dalam satu rumah, tetapi punya dapur sendiri-sendiri. Menurut saya, bukankah itu hanya akan membuat pengeluaran semakin besar saja? Bukankah itu juga akan membuat tenaga juga tidak efektif, disamping juga akan dinilai aneh oleh tetangga (termasuk pandangan saya pribadi)? Tetapi begitulah, itulah yang dipilih oleh rekan wanita saya: Memilih punya dapur sendiri, bersebelahan dengan dapur milik mertuanya. Maka  bisa disimpulkan juga bahwa untuk urusan makanan, mereka bertanggung jawab sendiri-sendiri. Teman saya memasak untuk suami dan anak-anaknya, sedang mertua perempuannya memasak untuk dirinya sendiri dan suaminya.

Saya masih ingat, beberapa bulan sebelumnya ia terus-terusan mengeluh karena merasa dikritik terus oleh mertuanya soal masakan. Sudah mencoba berbagai resep pun selalu ada yang dirasa kurang oleh mertuanya. Entah katanya kurang matang, terlalu asin, memasak tidak dengan cinta, dan lain sebagainya. Bahkan, teman saya pun sampai mengorbankan selera kesukaannya, demi membuat senang mertua. Tetapi tetap sama saja. Hanya sebentar mendapat pujian, selebihnya seperti biasa. Di samping itu, ia sendiri merasa tidak nyaman. Dan masalah itu ternyata tidak hanya berpengaruh kepada kenyamanan hatinya sendiri, tetapi merambat juga menjadi awal perselisihan dengan suami. Pokoknya repot.

Sebagai orang luar, dulu saya sangat tergoda untuk memberi saran. “Ya...Yang sabar saja, nanti juga akan reda masalahnya. Coba bicarakan dengan suami ya...” Dan lain waktu, sangat menggoda juga untuk balik menekannya (saat saya juga jenuh karena diberi keluhan yang sama terus) dengan bertanya: “Bukannya itu seharusnya sudah kamu pikirkan masak-masak dari dulu? Itu kan juga resiko kamu, mengapa mau diajak satu rumah dengan mertua? Ya sudah, terima saja semampumu..”. Tetapi saya pikir-pikir, saya tidak berhak untuk menyatakan pernyataan, biarpun sebetulnya sangat ingin. Pernyataan saja tidak merasa berhak, apalagi menasehati. Itu jelas bukan wewenang saya. Lagian, siapa yang bisa menjamin bahwa nasehat saya akan menghasilkan sesuatu yang tepat dan baik bagi dia? Bukankah hanya dia yang bisa merasakan dan mengolah persoalan itu? Maka, langkah yang tepat hanyalah mendengarkan. Cukup mendengarkan.

Begitu pula saat ini, saat saya masih bingung memikirkan adanya dua dapur dalam satu rumah itu. Saya memilih diam, bersikap wajar saja. Termasuk saat dia menanyakan apa pendapat saya tentang pilihannya membuat dapur sendiri itu. Saya hanya menjawab: “Kamu tahu yang terbaik untuk semua dan saat ini....”

Hanya saja, saya mencoba mengambil hikmah dari pengalaman teman saya tadi. Saat mengambil keputusan untuk membangun relasi, maka kita juga harus siap menerima pasangan kita apa adanya. Apa adanya dia, juga apa adanya orang-orang terdekat dan yang berpengaruh dalam hidupnya. Termasuk mertuanya. Seberapapun kolotnya sikap mertua, teman / sahabat, saudara dari pasangan kita, mereka semua adalah satu paket dengan orang yang kita cintai. Maka tidak ada alasan untuk menolaknya, apalagi menuntut mereka untuk berubah sesuai apa yang kita inginkan. Pasangan kita saja kita tidak punya hak untuk merubahnya sesuai kemauan kita, apalagi mereka bukan? Maka langkah yang bisa diambil adalah belajar menerima. Dan belajar menerima orang lain berarti belajar mengolah persepsi kita tentang mereka.

Persepsi kitalah yang bisa kita ubah agar kita bisa lebih toleran dengan orang lain. Maka, saat kita memilih untuk mencintai dan menerima orang lain di sisi kita, sebaiknya kita juga bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita siap juga untuk menerima dia secara lengkap satu paket? Jika tidak siap, maka kita olah dulu diri kita sendiri......(Set)

Add comment


Security code
Refresh