JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Berani Meminjamkan Berani Melepaskan

AddThis Social Bookmark Button

Sore itu saya hendak membersihkan rumah dari barang-barang yang tidak terpakai lagi. Setelah berhasil mengumpulkan beberapa barang dapur yang hanya memenuhi almari di bawah kompor, saya beralih ke atas almari baju di kamar. Nah ini yang membuat nyamuk-nyamuk suka ngumpul di kamar. Ternyata ada kardus yang sudah sangat berdebu. Setelah saya buka, saya agak bingung juga. Ternyata satu kardus besar itu isinya kaset-kaset koleksi saya dari masa sekolah dan kuliah dulu. Mau diapakan ya? Masak mau saya berikan ke Bapak-bapak yang merawat kebun di sebelah rumah juga? Jelas tidak mungkin, karena kasetnya sangat ekslusif, tidak mungkin didengerin oleh dia. Gimana tidak? Isinya saja dentuman lagu-lagu rock klasik, lagu metal, lagu hard rock, hingga ke blackmetal dan sejenisnya. Dari Helloween, Manowar, Rapsody, EdguY, Iron Maiden,  Judas Priest, hingga Obituary dan sejenisnya. Ini mah ga cocok dengan telinga orang sunda, sudah usia lanjut lagi. Bisa-bisa membuat jantungan.... J

Akhirnya kumpulan kaset itu hanya saya bersihkan dan saya masukkan ke kardusnya lagi. Bukan karena saking sayangnya, tetapi merasa belum tepat saja harus dihibahkan ke siapa. Tetapi saya jadi tersenyum geli sendiri, karena ingat betapa dulu saya sangat sayang dan bangga dengan koleksi kaset saya itu. Biarpun uang saku pas-pasan, saya lebih memilih makan ala kadarnya, asal punya modal untuk berburu kaset-kaset rock langka tersebut. Mungkin itulah mengapa saya tidak sempat pacaran dulu ya... hehehe. Ga penting banget ya.. Tetapi sungguh luar biasa. Mungkin karena pengorbanan yang saya rasa lumayan besar itu, saya menjadi sangat sayang sekali dengan kaset-kaset itu, Begitu telatennya saya membersihkan pita-pita kaset itu dengan alkohol, begitu rapinya saya tempel lipatan sampul kaset itu dengan isolasi agar tidak mudah robek. Pokoknya berbahagialah kaset-kaset itu... J

Di satu sisi, mungkin karena bangga, saya juga merasa senang jika ada orang lain yang punya selera musik senada dan mau mendengarkan lagu dari kaset saya, karena beberapa kaset yang saya punya memang jarang dipunyai orang. Celakanya, biarpun senang jika ada yang mendengarkan dan sekaligus minta ijin pinjam, ternyata mereka tidak seteliti dan sesayang saya terhadap kaset-kaset itu. Terkadang kaset dikembalikan dalam keadaan tidak terawat. Itu saja sudah membuat hati saya terluka. Wah.... Seperti saya saja yang dilukai. Tetapi begitulah saya saat dulu. Nah, lebih parah lagi, ternyata beberapa teman yang pinjam lupa atau sengaja tidak mau mengembalikan. Jadilah hari-hari saya menjadi tidak tenang lagi. Rasanya gelisah dan uring-uringan. “Dasar tidak tahu diri! Diberi hati malah ingin rempela juga...Huh, sialan!!!” Hehehe, pokoknya sumpah serapah berloncatan dari dasar hati saya.

Berawal dari itu, hubungan pertemanan menjadi renggang. Lebih tepatnya, saya yang tidak nyaman lagi berteman. Mungkin bagi yang pinjam biasa saja. Yang kedua, hidup saya dipenuhi kejengkelan juga, karena beberapa kaset memang tidak bisa kembali. Selalu saja ada alasan saat ditagih. Wahhh... Akhirnya saya yang berusaha menetralkan perasaan, atau istilahnya menyembuhkan diri sendiri. Karena pada dasarnya memang seperti itu, semua orang cenderung lebih mudah dan cekatan untuk meminjam, dan merasa berat, lupa, tidak ada waktu saat harus mengembalikan. Bahkan hingga sekarang fenomenanya juga seperti itu. Bisa dimulai dari barang-barang kecil, seperti kaset, CD/DVD, peralatan rumah tangga, barang-barang IT, hingga ke hal-hal yang pokok, uang misalnya. Nah, yang terakhir ini juga pernah saya alami. Untuk beberapa teman yang berbeda budaya, rupanya soal pinjam meminjam adalah hal yang biasa. Maka biasa juga untuk lupa mengembalikan. Justru terkadang yang dipinjamilah yang sungkan untuk mengingatkan. Dan yang terjadi, banyak juga hubungan atau relasi pertemanan yang rusak gara-gara pinjam meminjam uang ini.

Tetapi ada pengalaman yang membantu saya mengatasi kegalauan hati saya saat itu. Saya banyak belajar dari tetangga saya di desa. Sama masalahnya, soal pinjam meminjam yang tidak jelas tadi. Ada tetangga saya yang sebetulnya hidupnya sangat sederhana. Hidupnya dicukupi dari kekerasan fisik dan hatinya menempa batu, istilahnya mencari pengahsilan dari memecah batu dan melunakkan cadas. Dan bisa dipahami, pekerjaan seperti itu pastinya alat yang digunakan adalah semacam cangkul, linggis, dan palu besar, dan sejenisnya. Rupanya tetangga yang lain sering membutuhkan alat seperti itu juga. Dan saat butuh, yang dilakukan adalah meminjam. Repotnya, rajin meminjam tetapi malas mengembalikan, bahkan hingga waktu yang sangat lama. Pernah, saking lamanya, tetangga saya yang punya alat tadi sampai lupa siapa yang pinjam. Karena lupa-lupa ingat, maka saat butuh,dia menanyakan. Jadilah sekarang terbalik, yang punya justru sekarang meminjam alatnya. Hehehe... Dan saat ada yang mengingatkan bahwa itu adalah milik dia yang dulu dipinjam, dia hanya tersenyum. “Tidak apa-apa Mas, saya sudah merelakan kok. Yang penting sekarang saya bisa menggunakannya untuk bekerja. Nanti saya kembalikan lagi. Kalau dia ingat ya syukur, kalau tidak, ya semoga saya ada rejeki lagi untuk membeli yang baru...” Wah, ini yang hebat.

Dan itu salah satu contoh yang saya kenang sampai sekarang. Jika memiliki sesuatu dan orang lain ingin meminjamnya, maka siapkan hati. Jika masih sangat sayang, lebih baik keraskan hati untuk berkata tidak boleh. Tetapi jika itu bukanlah hal yang hakiki bagi ketenangan batin kita, maka saat ada yang pinjam sesuatu, siapkan hati juga untuk melepaskannya. Iklaskan saat ada yang meminjam...(Set)

Add comment


Security code
Refresh