JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Kisah Bermakna

Meninggikan Diri

AddThis Social Bookmark Button

“Wah... Saya sekarang sudah tenang Nak. Anak-anak saya sekarang sudah sukses semua. Kegiatan saya sekarang menengok mereka satu persatu. Yang sulung sekarang di Medan, yang kedua di Jakarta, .....” kata nenek itu dengan penuh semangat. Seperti tidak bisa dihentikan. Begitu mengalir seperti kucuran air hujan... Saya pun mencoba mendengarkan biarpun sambil terkantuk-kantuk. Kepala saya menjadi terayun-ayun, bukan hanya karena goncangan laju kereta api, tetapi juga oleh rasa kantuk itu.

Entah sudah berapa lama nenek di sebelah saya itu terus bercerita. Hanya saja, saya mulai bosan karena akhirnya berakhir pada kesombongan. Jika awalnya lebih condong membanggakan anak-anaknya, lama kelamaan berujung pada meninggikan diri sendiri. Jadi seperti monolog. Dia bahkan tidak peduli, apakah saya harus mengiyakan atau diam saja, terus saja bercerita. Saya pun mencoba memaklumi saja. Namanya saja orang tua.

Entah mengapa, banyak orang tua yang juga mengalami hal yang sama seperti nenek tadi. Bersemangat jika menceritakan keberhasilan keluarga, anak-anak, atau terlebih keberhasilan dirinya sendiri sebagai orang tua. Saya sendiri pernah mengalami, betapa saya dulu termasuk dibanggakan oleh orang tua. Tetapi rasanya tidak nyaman saat diceritakan kepada orang lain. Terlebih, jika orang tua kilaf saat bercerita, sehingga ada sedikit hiperbola. Rasanya malu...

Tetapi memang begitulah. Keinginan diakui adalah sesuatu hal yang wajar. Maka wajar juga jika orang tua kita berusaha menonjolkan kelebihan keluarganya dihadapan orang lain. Sedikit rasa gembira, setelah bertahun-tahun bersusah payah membesarkan dan membiayai anak-anaknya. Tetapi saya berusaha mengingat, betapa saya dulu merasa risi dan tidak nyaman saat mendengar seseorang menyombongkan diri, agar saya juga tidak jatuh dalam hal yang sama.

Tetapi sekali lagi, namanya manusia, maka menginginkan sesuatu yang manusiawi juga. Pengakuan adalah sesuatu yang berharga, bahkan banyak yang mati-matian mencarinya. Seberapapun kita tidak beruntung,pasti ada satu sisi yang bisa menggoda kita untuk melebih-lebihkan diri. Saya dulu termasuk orang yang minder, alias tidak percaya diri. Logikanya, jika tidak percaya diri, itu tentu karena merasa tidak memiliki sesuatu yang bisa membuat percaya diri. Tetapi nyatanya, setelah beranjak dewasa, tetap saja adakalanya saya jatuh ke dalam lubang yang sama, yakni tergoda meninggikan diri tadi. Padahal pengalaman masa kecil dulu seharusnya sudah mengajarkan saya bukan? Terlebih lagi, saya juga mengetahui bahaya dibalik sikap negatif seperti itu.

Bukan hanya sekali atau dua kali. Bahkan beberapa kali, saya menanggung malu, karena terjebak dalam sikap meninggikan diri. Sama seperti nenek tadi, karena merasa lebih mengerti atau lebih tahu, saya sering mengucapkan banyak sekali kata-kata yang sebetulnya tidak perlu diucapkan. Kata orang, semakin banyak omong, maka akan semakin banyak perkataan kita yang tidak berfaedah. Jika tidak berujung pada menjelekkan orang lain, ya terjebak meninggikan, atau menyombongkan diri sendiri. Jika masih tidak sadar dan terus berbicara lagi, maka semakin banyak pula hal negatif yang terucap. Apalagi jika berceritanya dengan penuh semangat, wah ditanggung ga berhenti-henti, persis seperti nenek tadi. Dan apa hasilnya? Ya sakit, itulah yang terjadi. Jika tidak ada yang mengingatkan, maka jiwa kita menjadi sakit, puas karena kesombongan. Kemungkinan yang lain, akan tiba saatnya kita jatuh karena kesombongan tadi. Semakin kita meninggikan dan menyombongkan diri, maka semakin tinggi kita terbang, dan semakin sakit pula saat jatuh. Bahkan, jika terlalu tinggi kita mengangkat harga diri kita dengan bumbu-bumbu kesombongan, maka saat jatuh kita akan sangat sulit untuk bangkit lagi. Kita tidak ubahnya menjadi raksasa, yang tentunya sulit untuk bangkit berdiri lagi jika jatuh.

Bukan hanya rasa sakit, tetapi juga malu, dan menjauhkan rejeki, karena tentu tidak akan banyak orang yang mau mengulurkan tangannya untuk seseorang yang sombong bukan? Maka mari kita selalu lihat cermin diri kita masing-masing setiap menjelang tidur, apakah hari ini kita terlalu banyak meninggikan diri sendiri di hadapan orang lain? Jika iya, pantaskah kita? Memang siapa kita, sehingga merasa pantas meninggikan diri? Bukankah kita bukanlah apa-apa, jika tidak karena-Nya, melalui kehadiran orang-orang di sekitar kita? Mari kita ingat, barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan... Ampuni kami Ya Tuhan! (Set)

Add comment


Security code
Refresh