JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Kisah Bermakna

Stop Menasehati!

AddThis Social Bookmark Button

“Wah, seharusnya jika lagi sedih atau jengkel, kamu jangan lakukan hal itu! Sebaiknya kamu begini.... Yang kamu lakukan tadi bahaya!”

Mendengar perkataan teman saya itu saya menjadi bengong. Saya masih ingat sekali peristiwa yang sudah bertahun-tahun yang lalu itu. Saya benar-benar terdiam saat itu. Bengong sekaligus jengkel bukan main. Memang apa haknya menilai saya salah atau benar? Saya kan waktu itu hanya ingin bercerita saja, tidak minta pendapat, terlebih nasehat plus disalahkan. Jadilah sesaat kemudian kami terlibat dalam perbantahan. Biarpun masih usia remaja (di bangku SMP), saat itu kami sudah mempunyai prinsip, yang jika berbeda kadang kami pertahankan. Awalnya ingin sharing biar lega, eh jadinya malah jadi makin galau.
jangan memberi nasehat

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, ternyata tanpa disadari saya mengalami perubahan. Jika dulu saat kecil saya cenderung pendiam, menarik diri, dan tidak ada suara jika tidak disuruh, sekarang setelah beranjak dewasa dan mendekati tua, saya jadi seperti teman masa kecil saya itu. Sedikit-sedikit ingin mengomentari ini dan itu. Jika melihat sesuatu yang tidak sesuai kenyamanan hati, mulut seperti gatal ingin memberi saran atau nasehat. “Harusnya itu kan jangan begitu... Ah, begitu saja kok tidak mengerti situasi dan kondisi seh?” Hmmm..... Jadilah saya menjadi pribadi yang dulu sempat tidak saya sukai.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti seminar. Di dalam seminar itu ada sesi dimana setiap peserta diberi kesempatan untuk presentasi, dengan alokasi waktu terbatas 10 menit. Dan fenomena yang menarik adalah, hampir seluruh peserta yang presentasi kesulitan sekali untuk bicara seperlunya. MC dan panitia hanya meminta kita untuk membacakan tulisan di powerpoint agar waktu 10 menit tidak terlampaui, tetapi ternyata kecenderungan kita semua adalah menjelaskan sesuatu, seperti otomatis. Setiap selesai membaca satu kalimat, secara spontan mulut kita merangkai sendiri penjelasannya. Seperti tidak afdol, atau ada sesuatu yang kurang jika tidak menjelaskan. Jadilah, sepanjang waktu presentasi sang MC sibuk mengingatkan untuk tidak menjelaskan.

Begitulah. Semakin kita dewasa dan menua, kita cenderung mudah mengucapkan kata-kata, menjelaskan, dan bahkan memberi saran atau nasehat. Semakin berpengalaman kita, maka mulut kita semakin tergoda untuk mengomentari dan menasehati ini dan itu. Seakan itulah yang diperlukan oleh orang-orang di sekitar kita. Maka tanpa dimintapun kita wajib menasehati. Maka jika tidak disadari, lama kelamaan mungkin saya, dan beberapa dari Anda mungkin, akan menjadi orang tua yang bawel. Orang tua yang sering dikeluhkan oleh anak-anaknya, atau cucunya karena sedikit-sedikit mengomentari dan menasehati. Mungkin saja kita saat remaja dulu juga jengkel dengan sikap orang tua atau kakek nenek kita yang bersikap seperti itu.

Tetapi apakah menasehati itu penting? Beruntung saya saat dimintai pendapat oleh orang lain, terkadang masih sadar diri, bahwa saya bukanlah siapa-siapa. Saya tidak pantas menasehatinya, apalagi jika sampai memaksakan pendapat. Ini bisa terjadi jika ada orang lain yang dekat dengan kita sedang dirundung masalah, soal relasi misalnya. Karena merasa dekat, maka tidak jarang ada juga yang berani memberi saran ini dan itu, bahkan meyakinkan untuk melakukan ini dan itu. Padahal, yang tahu apa yang terbaik bagi yang bermasalah (siapapun itu, sedekat apapun kita), adalah orang itu sendiri.

belajar menentukan pilihan

Tidak ada yang bisa merasakan perasaan orang lain dengan tepat, sehingga tidak mungkin juga memberi jalan keluar yang tepat dan pasti. Tidak ada yang pasti di dunia ini. Hari ini merasa tidak cocok, besok bisa menjadi cocok sekali, dan begitu seterusnya. Jika ingin bijak dan hasil yang terbaik, maka jika ada yang meminta nasehat, bantulah dengan memberi pertanyaan-pertanyaan reflektif. Pertanyaan agar dia terbantu mengenali dan menganalisis apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan, di hari ini, kemarin, dan kemungkinan di hari esok. Jika sudah mencoba menjawab dan merenungkan, biarkan dia memilih sendiri yang terbaik baginya. Sekali lagi, kita bukanlah orang yang pantas memutuskan nasib orang lain. Itu pun jika diminta. Maka, jika tidak diminta, janganlah sekali-sekali memberi saran dan nasehat. Segatal apapun, simpan saja baik-baik di dalam hati... Suatu saat, mungkin kita akan bangga dengan sikap diamnya kita, karena melihat orang terdekat bisa memutuskan yang terbaik baginya...(Set)

Add comment


Security code
Refresh