JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Kisah Bermakna

Sahabat Yang Bikin Galau

AddThis Social Bookmark Button

“Benar-benar menyebalkan. Di saat seharusnya bisa menghibur, malah justru menambah galau. Sahabat macam apa itu? Hanya minta waktu sebentar untuk bertemu saja susahnya minta ampun. Memang sudah tidak menganggap aku sebagai sahabatnya lagi ya?”

sahabat yang membuat galau

Saya hanya tersenyum. Membiarkan rekan saya itu terus menumpahkan keluh kesahnya. Memang hari ini dia sedang mengalami hari yang ‘buruk’ baginya. Ingin hati mendapat penghiburan, dia menelpon sahabat andalannya. Tetapi setelah sekian menit bicara, lalu telponnya berhenti, dan sehabis itu munculah keluh kesah itu.

Saya pun tidak begitu mempedulikan keluhan teman saya itu, karena seingat saya, hal seperti itu sudah berlangsung berkali-kali. Saat ini membuat galau, tetapi tidak berapa lama mereka rukun kembali dan ber-hahahihi lagi. Dan sudah berkali-kali juga saya mendengar rekan saya itu memuji-muji sahabatnya itu. Jadi ngapain juga saya harus repot-repot memberi saran bukan?

Intinya, memang begitulah yang namanya sahabat. Jika kita mengeluhkan segi kekurangan dari sahabat kita, itu hanyalah satu sisi kebalikan dari hal yang kita sukai darinya. Atau, bisa juga justru kekurangan itulah yang membuat kita menjadi lebih hidup, lebih berwarna, lebih tertantang. Mungkin saja jika tidak ada kekurangan, dinamika persahabatan menjadi tidak menggairahkan. Mungkin itulah yang membuat kita bersahabat dengannya. Dan sekali lagi, pasti banyak kelebihan yang membuat kita nyantol dengannya. Tidak mungkin kita mampu bersahabat selama bertahun-tahun, jika tidak disertai hal-hal yang membangun bukan?

Jadi, jika sahabat kita sedang bersikap yang tidak sesuai dengan harapan kita, cobalah berpikir: “Ok...memang seperti itulah sahabat saya. Mungkin itu salah satu bagian yang membuat saya suka darinya.” Tidak perlu merasa galau. Tetapi jika ternyata frekuensi galaunya semakin tinggi bagaimana?

Jika memang persahabatan kita dengan seseorang justru menghasilkan sesuatu yang tidak nyaman atau membuat galau, dan frekuensinya sangat tinggi, ya tinggal kita bertanya pada diri sendiri, apa untungnya persahabatan itu bagi diri kita dan baginya? Satu hal yang pasti, kita tidak mungkin menuntut, dan tidak akan bisa merubah pribadi orang (sekalipun itu sahabat kita) untuk menjadi sesuai yang kita mau. Begitupun sebaliknya, kita tentu tidak bisa nyaman dan tidak akan membiarkan sahabat kita terlalu mengatur hidup kita dan menginginkan kita berubah. Jadi, ya seperti inilah sahabat kita apa adanya, seperti juga beginilah kita apa adanya. Jika sudah seperti itu, tinggal satu pilihan yang bisa kita buat.

sahabat sejati

Teruskan atau tinggal persahabatan itu! Ya... Cukup buatlah pilihan dari dua hal tersebut. Jika masih merasa nyaman dan mencintai dengan persahabatan itu, ya teruskan. Tentu dengan resiko harus mau menerima sahabat kita apa adanya, termasuk kekurangannya. Sahabat kita adalah dia apa adanya, sahabat kita adalah satu paket. Maka terima secara utuh paket itu dengan penuh pengertian dan cinta. Jika tidak, ya mudah, mundur pelan-pelan. Saya rasa dunia ini penuh dengan orang-orang unik lainnya. Dunia ini penuh dengan pilihan. Yang jelas, kita tidak bisa meminta ini dan itu kepada orang lain bukan? Satu-satunya pilihan bijak yang harus diambil adalah membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri secara utuh, dan ambilah pilihan mau menjadi sahabatnya atau mundur. Tidak perlu mengeluh lagi tentangnya... (Set)

Add comment


Security code
Refresh