JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Kapan Saat Yang Tepat Untuk Pindah Kerja?

AddThis Social Bookmark Button

“Boro-boro pindah kerja! Kerja saja belum Pak.....!!!”

Hehehehe.... Bener juga ya. Tapi judul di atas tentu saja ditujukan bagi yang saat ini sudah bekerja, dan siapa tahu sedang gundah gulana, atau istilah sekarang sedang galau, ingin secepatnya pindah kerja. Walaupun, perlu diingat juga bahwa jawaban spontan di atas bisa juga menjadi sentilan atau cubitan bagi kita semua, jika saat ini mengeluh tentang suasana kantor sehingga tidak betah kerja, ingatlah saat-saat kita belum dapat kerja. Bukankah begitu? Setidakenaknya kerja, masih lebih tidak enak jika belum mendapat pekerjaan bukan?

Menarik jika bicara tentang pindah kerja, karena hampir semua orang dewasa pernah mengalaminya. Akan lebih menarik lagi jika sejenak kita tengok sebentar berbagai alasan dan pertimbangan yang rata-rata diambil oleh banyak orang.

Alasan atau pertimbangan yang memang tidak bisa diganggu gugat adalah jika ingin mencari penghasilan yang lebih, ingin jarak tempuh yang lebih dekat, ingin menyesuaikan dengan tempat tinggal jangka panjang, alasan keluarga (ikut suami/istri/orang tua), diberhentikan atau dipindahkan oleh perusahaan, dan alasan-alasan lain yang bersifat tidak bisa diutak-atik lagi. Walaupun tentu saja harus dengan berbagai strategi. Misalnya sebelum pindah sudah mendapat tempat yang baru. Ini jika mau aman, biarpun tidak ada salahnya juga mengambil resiko.

Selain pertimbangan di atas, ternyata banyak juga yang bermaksud pindah kerja karena merasa sudah  tidak nyaman dengan suasana kerja. Nah mungkin yang ini yang bisa direnungkan lebih mendalam lagi, karena rasa tidak nyaman ini bersifat subyektif. Pertama, jika kita ditanya mengapa merasa tidak nyaman, biasanya kita langsung menunjuk orang lain atau hal lain di luar kita sebagai penyebabnya. Misalnya kita menjadi tidak nyaman dan tidak tahan lagi dengan sikap rekan kerja yang kita anggap keterlaluan, tidak tahu diri, iri hati ke kita, tidak profesional, magabu (makan gaji buta), dan lain-lain. Atau juga bisa karena merasa boss tidak respek ke kita, boss tidak layak menjadi pimpinan, atau merasa boss tidak adil ke kita, dan lain sebagainya. Jika kita cermati, maka seakan-akan yang menjadi penyebab rasa ketidaknyamanan kita adalah sesuatu di luar kita, padahal yang merasa tidak nyaman bukankah diri kita?

Saya tidak nyaman, saya sedih, saya galau, saya jengkel, saya frustrasi, saya putus asa, dan lain-lain, itu adalah tentang diri kita, bukan orang lain. Jadi, jika kita tidak nyaman dengan suasana kerja lalu menganggap bahwa pindah kerja adalah solusinya, menurut saya tidak tepat juga. Bukankah yang perlu diolah adalah diri kita? Karena yang merasakan adalah kita. Kita tentu tidak bisa menuntut dan merubah orang lain agar kita bisa merasa nyaman bukan? Bahkan, seandainya ada rekan kerja kita yang sikapnya betul-betul menjadi ‘biang kerok’ pun, bukan dia yang perlu diolah, tetapi diri kita. Saat kita tidak nyaman dengan rekan kerja, artinya adalah bahwa saya belum bisa menerima rekan kerja saya apa adanya. Jika saya tidak nyaman dengan tempat kerja saya, artinya saya yang belum bisa menerima atau menyesuaikan diri dengan tempat kerja saya. Titik! Semuanya adalah tentang diri saya. Semuanya bermula dari diri kita yang belum bisa menerima orang lain apa adanya, atau bahkan menuntut orang lain dan segala sesuatu agar sesuai keinginan kita.

Jika hal ini tidak disadari terlebih dahulu, saya rasa kita akan menjadi bajing loncat selamanya. Pindah sana pindah sini, dan tahu-tahu terpeleset jatuh. Kenapa pindah sana pindah sini? Ya karena sumber permasalahannya adalah diri kita kita, bukan orang lain. Saya yakin, dimanapun kita bekerja, tidaklah mungkin kita menemukan rekan dan tempat kerja yang ideal sesuai kemauan kita. Dapat dipastikan ada yang namanya ‘biang kerok’, atau suasana kerja yang terkadang mencekam dan lain-lain. Kekecewaanlah yang pasti akan kita temui, karena seakan dimanapun kok kita tidak bisa merasa nyaman... Ya memang seperti itu, karena saat kita pindah, diri kitalah yang pindah. Maka saat kita pindah kerja masih dalam keadaan tidak menyadari dan belum bisa mengatasi penyebab ketidaknyaman tersebut, maka selamanya kita akan merasa tidak nyaman. Tidak peduli dimanapun dan kapanpun kita bekerja....

Jadi, bagaimana suasana hati Anda sekarang ini saat di kantor? Nyamankah? Bahagiakah? Semangatkah saat akan berangkat kerja di pagi hari? Jika belum, saya rasa tidak perlu buru-buru mengambil kesimpulan apalagi memutuskan untuk pindah kerja. Karena, semua itu bisa dirubah.... Kita bisa merasa nyaman dan bahagia dengan tempat kerja kita. Solusinya satu! Dan ini pilihan kita yang seharusnya kita ambil. Mari kita belajar menerima segala kelebihan dan kekurangan rekan kerja kita, boss kita, tempat kerja kita, dan tentunya diri kita sendiri. Setelah itu, mari jangan lupa bersyukur, karena masih ada banyak jawaban di luar sana yang bernada seperti tadi: “Boro-boro pindah kerja! Kerja saja belum Pak.....!!!” Hehehe... Peace! (Set)

Add comment


Security code
Refresh