JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Saat Mudik Saat Berdamai Dengan Masa Lalu

AddThis Social Bookmark Button

“Ga mudik Pak?”

Saya hanya tersenyum sambil menjawab seadanya. Dalam hati sebetulnya ada kerinduan untuk ikut arus bersama yang lain, beramai-ramai sejenak kembali ke kampung halaman. Tetapi karena keadaan, sementara ini saya tahan dulu keinginan itu. Biarpun tidak bisa mudik, setidaknya suasana lebaran kali ini saya coba nikmati dengan penuh kesadaran.

Dari tadi sore, bahkan sejak kemarin, setiap ada kesempatan saya menyalakan TV 21 inch saya dan mencari berita perjalanan mudik. Benar-benar luar biasa. Tahun-tahun sebelum ini saya hanya sekedar menonton saja kemacetan yang diperlihatkan lewat kaca TV, bahkan kadang dalam hati bersyukur tidak ikut mudik karena ga tahan dengan macetnya itu. Tetapi kali ini entah mengapa saya memang kagum dengan suasana dan semangat para pemudik. Terlebih saat ditayangkan betapa menyemutnya ribuan sepeda motor pemudik. Tidak sedikit yang satu sepeda motor diboncengi 3 atau 4 orang (bapak ibu dan anaknya).

Saya sendiri yang pernah terjebak kemacetan tidak lebih 30 menit dan dengan jarak pendek saja sudah mengeluh. Tetapi di mata saya, mereka tetap semangat, tidak begitu mempedulikan rasa capai dan panasnya matahari. Melihat gairah seperti itu, dalam hati saya ikut berharap semoga cuaca tetap mendukung dan mereka selamat di perjalanan sampai di kampung halaman. Semoga tujuan dan maksud baik saudara-saudara semua yang mudik tercapai....

Jika melihat gairah mudik seperti itu, dalam hati saya yakin pasti ada maksud dan tujuan yang hendak dicapai oleh setiap pribadi. Mulai dari rasa kangen dengan saudara di rumah, kangen dengan suasana masa kecil dulu, atau yang lebih mendalam lagi, ingin menggunakan kesempatan baik tahunan ini untuk meminta maaf dan silaturahmi dengan orang tua, saudara, dan tetangga. Bahkan saya sendiri yang tidak beragama muslim pun dari kecil selalu merayakan lebaran. Setahu masa kecil saya, lebaran sudah menjadi seperti adat kampung yang memang kita tunggu-tunggu. Selain baju baru dan harapan mendapat uang saku, yang membuat saya rindu memang suasana maaf memaafkan itu. Tidak peduli tua muda, tidak masalah jika sebelumnya berantem, jika saat lebaran tiba, maka semua saling bersalam-salaman, semua ikut menyanyikan lagu lebaran yang legendaris itu. Saya sendiri masih hafal liriknya....

Saling memaafkan.... Itulah suasana yang sangat indah semasa kecil saya. Memaafkan berarti mengiklaskan apa yang telah terjadi dan menerima sebuah kejadian dalam hidup sebagai sebuah pembelajaran. Memaafkan bukan berarti melupakan kejadian atau sosok tertentu, tetapi justru menyadarinya dan menerimanya. Banyak orang yang mengatakan bahwa ini sangat sulit dilakukan untuk sesuatu yang meninggalkan bekas dan luka di hati kita, terlebih jika sudah menahun dan kita rasakan sedari kita kecil. Lebih sulit lagi jika ternyata trauma kita berkaitan dengan orang terdekat kita, misalnya saudara dan orang tua kita. Dan memang aneh, semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, maka hati kita semakin sulit untuk memaafkan saat terjadi perselisihan. Trauma dan luka ini yang kadang tersembunyi rapat di dalam diri kita. Tidak kasat mata, tetapi kadang tersurat melalui sikap kita saat menghadapi sesuatu. Banyak yang tidak menyadarinya, seandainya menyadarinya (kadang disadarkan saat ada suasana yang mendukung seperti retret dll) pun belum tentu kita mau membukanya, karena yang dirasakan pertama kali tentulah rasa sakit dari trauma itu sendiri. Jika kita tutup kembali, maka trauma dan rasa sakit itu seakan hilang, tetapi sebetulnya semakin subur karena terlindungi, hingga suatu saat akarnya akan menggerogoti hidup kita.

Semakin lama disimpan, saya yakin akan semakin sembuh. Saya teringat dengan apa yang dialami oleh teman sekolah saya. Dulu karena sebuah kejadian dia mengalami kekerasan fisik oleh guru saya. Bukan hanya sekedar ditempeleng, tetapi juga dinjak dan ditendang di depan teman-teman. Saat itu dia bercerita bahwa dia sangat sakit hati, dan berujar tidak akan mungkin bisa melupakan kejadian itu. Tetapi rupanya karena sebuah kebetulan, tidak terlalu lama setelah dia lulus sekolah, dia harus bertemu lagi dengan gurunya itu. Dan yang terjadi tidaklah seperti yang dia bayangkan. Biarpun kikuk dan canggung di awal, tetapi akhirnya dia punya keberanian untuk menanyakan tentang kejadian itu. Setelah itu semuanya seakan mengalir, mereka malah saling meminta maaf. Dan teman saya sangat bersyukur karena bisa mengakiri rasa sakit hati itu. Entah apa jadinya jika saat itu tidak dipertemukan dengan gurunya. Rupanya tidak sesulit yang dibayangkan. Dan justru semakin dibayangkan, maka akan terlihat semakin sulit. Dan banyak dari kita yang tidak berani menghadapinya.....

Beruntung kita masih punya adat mudik lebaran. Beruntung kita masih dirundung rasa kangen. Bisa jadi rasa kangen itu adalah suatu bisikan agar kita mau menengok sejenak masa kecil kita, bisa jadi itu adalah seruan agar kita berani melihat masa lalu kita bersama keluarga dan saudara-saudara kita, atau dengan keadaan masa kecil kita. Mari kita telusuri tapak-tapak kaki kita di masa lalu. Bisa saja itu adalah rentetan peristiwa-peristiwa penuh canda tawa dan keharmonisan. Tetapi bisa juga ada selipan kerikil tajam yang seakan tidak ingin kita ungkit lagi karena rasa perihnya.

Tidak penting itu tawa atau tangis.... Itu semua telah berlalu. Kita hanya perlu menengok dan menerimanya. Kita tidak akan bisa seperti sekarang ini jika tidak mengalami semua itu bukan? Dan siapa tahu segala kegelisahan dan ketidaknyamanan kita sekarang ini bisa kita pahami melalui tapak masa lalu kita, dan jika sudah memahaminya, bukankah kita akan bisa menyembuhkan dan memulihkannya? Memang benar, kita melangkah ke depan, tetapi siapa diri kita hanya bisa kita pahami lewat masa lalu kita. Jika tidak tahu siapa diri kita, bagaimana mungkin kita bisa melangkah dengan benar? Untuk itu, selamat mudik saudara-saudaraiku, dan selamat berdamai dengan masa lalu kita.... (Set)

Add comment


Security code
Refresh