JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Jalan Terpilih

AddThis Social Bookmark Button

“Aduh......”

Saya teringat kata itu, termasuk sensasi rasa sakit yang pernah saya rasakan. Dulu, saat masih kecil, saya secara tidak sengaja menginjak paku. Sialnya, paku itu sebelumnya saya gunakan untuk bermain. Setelah bosan bermain, paku itu saya tinggalkan begitu saja di tanah. Saat saya beranjak dari tempat bermain dan hendak pulang, saya menjerit kesakitan karena menginjak paku itu. Untunglah reflek saya masih bagus, begitu merasa menginjak benda tajam, saya mampu menahan laju kaki ke tanah sehingga hanya ujungnya saja yang menancap di telapak kaki saya. Tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat trauma bagi saya. Terlebih ngilunya saat paku itu saya tarik keluar dari telapak kaki. Sungguh tak terkira sakitnya, dan hanya satu hal yang bisa lakukan, yakni menangis keras-keras.....

MQDDCE7Z2WWM

Dan kini, di tangan kiri saya sudah ada sebuah paku, masih baru dan tajam. Sedang di tangan kanan terpegang sebuah palu besi. Saya masih sedikit teringat dengan rasa sakit yang dulu saya rasakan, tetapi kini mau tidak mau saya harus menancapkan paku tersebut di dinding kamar saya. Dengan hati-hati saya pun mulai mengarahkan palu ke pangkal paku, dan setelah beberapa pukulan akhirnya pakunya dapat menancap ke dinding. Saya pun tersenyum lega dan segera mengambil kayu salib, menggantungkannya di paku tersebut. Nah, begini seharusnya..... Paku itu sebaiknya digunakan sebagaimana mestinya, bukan untuk bermain-main seperti yang saya lakukan semasa kecil dulu.

Yaa.... Sebuah paku yang sangat tajam, bisa menjadi hal yang berguna atau bermanfaat bagi benda lainnya, tetapi juga bisa melukai seseorang. Tetapi setelah saya renungkan, bukan paku itu yang membuat saya terluka dulu, melainkan saya sendiri yang membuat saya terluka. Bukan paku itu yang sengaja memilih bertempat di tanah yang akan saya lalui, tetapi saya yang meletakkannya disana, dan tentunya saya sendiri yang kemudian menginjaknya. Paku itu sedari awal hanya diam. Kaki saya yang mengarahkan diri kepadanya. Jadi siapa yang melukai saya? Ya saya sendiri.... Bukan paku itu! Bahkan, seandainya saya bandingkan dengan paku yang sekarang menancap di dinding kamar saya, paku itu juga tidak memilih untuk berguna. Dia hanyalah sebuah paku. Titik. Siapa yang membuatnya berguna? Ya saya sendiri. Saya menggunakannya secara tepat untuk saat ini. Tidak tahu nanti. Bisa saja suatu saat nanti saya terpeleset sesuatu dan tidak sengaja badan saya mengenai paku tersebut. Nah, saat itu paku itu tidak lagi menguntungkan bukan? Dan jelas, lagi-lagi itu semua karena ulah saya, bukan dia si paku.

Dalam hidup sehari-hari, sesuatu (bisa juga seseorang) sering kita nilai seperti paku itu. Bermanfaat atau melukai. Membuat senang atau sedih. Cerah atau muram, tertawa atau menangis, mencintai atau membenci, dan tentunya bahagia atau menderita. Saya teringat dengan relasi pribadi yang pernah saya jalani. Suatu saat, relasi tersebut (atau bisa diartikan orang terkasih saya) bisa membuat saya bahagia, tetapi di saat yang lain dia juga bisa membuat saya sedih. Seakan hanya dua hal itu akan saya dapat. Bahagia karena dia, atau menderita karena dia! Masalahnya ternyata tidak seperti itu. Masalah sedih atau senang, tertawa atau menangis, nyaman atau tidak nyaman, mencintai atau membenci, bahagia atau menderita, tidaklah tergantung pada sesuatu atau seseorang. Itu semua tergantung penerimaan dan cara kita memandang sesuatu atau seseorang. Jika kita senang, sebetulnya kita sendiri yang membuat kita senang. Jika pun kita sedih, itu juga terserah kita, mau menuruti untuk sedih atau tidak. Jika tidak percaya, pacar / suami / istri kita bisa saja berbuat sesuatu yang di mata orang lain sangat baik, tetapi di mata kita justru sebaliknya, bisa saja kita malah menjadi sedih karena sudah diliputi rasa cemburu. Nah, berarti mau sedih atau gembira itu semua tergantung kita sendiri.

Seberapa dekat pun kita dengan seseorang (bisa juga dengan benda), dia tetaplah bukan kita, alias orang lain atau benda di luar kita. Orang lain tetaplah orang lain. Maka memang sangat riskan jika menggantungkan kebahagiaan / penderitaan kita pada orang lain. Terlebih jika mengenai orang lain (bisa berwujud istri atau suami, pacar, saudara, dll), tentunya dia bukanlah benda mati seperti paku. Jika paku hanya pasrah mau digunakan sebagai apa pun, maka kalau orang tentulah punya naluri merdeka, yang punya arah tersendiri.  

Lalu apakah hanya berakhir sampai di situ? Apakah segala sesuatunya hanya berakhir di dua pilihan tadi, yakni antara gembira atau sedih, tertawa atau menangis, dicintai atau dibenci, bahagia atau derita? Jika hanya ada dua pilihan seperti itu, bukankah hidup kita sangat rentan, seakan berada di ujung tanduk? Sekarang bahagia, besok bisa menderita. Sekarang mencintai seseorang, jangan-jangan besok sudah berubah menjadi membencinya? Sekarang sehat, apakah tidak mungkin jika esok pagi kita ternyata meninggal?

Mungkin kita layak melihat tujuan dari diciptakannya kita. Kita diciptakan tentunya untuk ‘bahagia’ secara utuh bukan? Ini dulu yang harus kita yakini. Dan jika sudah yakin bahwa kita diciptakan untuk bahagia (artinya seandainya tidak ada orang lain pun, sebagai individu kita memang diciptakan untuk bahagia), maka kita juga perlu untuk terbuka, bahwa orang lain pun (bahkan mungkin makhluk hidup lainnya dan benda-benda) juga diciptakan untuk bahagia, sama seperti kita. Kita pribadi ditakdirkan untuk bahagia, demikian juga orang lain. Dan orang bisa bahagia jika bisa menjadi dirinya sendiri. Saya menjadi diri saya sendiri (tidak tergantung pada pendapat, harapan, penilaian orang lain). Orang lain (suami/istri/pacar/anak/dll) juga menjadi diri mereka sendiri. Jadi jika kita ingin bahagia secara utuh dan langgeng, jadilah diri sendiri, dan biasakan melihat orang lain sebagaimana apa adanya secara utuh. Bukan memandang mereka sesuai harapan, keinginan, dan hasrat kita. Jika sudah mampu meresapi dan menjalankan cara hidup seperti ini, kita sepertinya bisa hidup di sisi lain. Bukan terbatas sisi sedih atau gembira, bahagia atau menderita, mencintai atau membenci..... Dan cara hidup seperti ini sepertinya sebuah jalan yang jarang dilalui oleh banyak orang. Jalan ini bagi banyak orang sangatlah sepi dan sunyi, karena jika mau di jalan ini, saat kita berkata mencintai seseorang, maka kita harus siap dan iklas saat orang yang kita cintai akan lebih bahagia jika bersama orang lain. Karena di jalan ini, kita pun harus tetap bersyukur saat kita sehat, dan tetap bersyukur saat sakit. Semua tetaplah baik apa adanya, karena apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita, kita tetaplah percaya dan yakin, itulah kehendakNya  yang terjadi.... Siapakah yang mau memilih jalan ini? Siapakah yang terpilih di jalan ini? Kita sendiri yang menentukan...(Set)

Add comment


Security code
Refresh