JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Home Sweet Home

AddThis Social Bookmark Button

Hari ini dimulainya libur panjang bagi profesi guru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya pun relatif tenang-tenang saja. Tidak terburu-buru ingin segera mudik. Di saat rekan-rekan yang lain seperti sudah tidak sabar untuk sejenak melepas rasa kangen ke kampung halaman, saya mencoba menikmati terlebih dahulu enaknya libur di rumah saya di sini. Bukannya tidak kangen dengan rumah di kampung, tetapi karena untuk saat ini kurang pas kondisinya.

Seminggu sebelum libur panjang dimulai, sudah banyak bahan obrolan yang mengarah ke nuansa kampung halaman, kampus kenangan, rumah makan murah saat kuliah dulu, jalan-jalan kenangan bersama seseorang dulu, dan tentu saja adalah rumah masa kecil hingga remaja yang mempunyai kesan tersendiri bagi setiap orang. Setelah sekian lama merantau, rasanya mudik dan tinggal selama beberapa hari di rumah adalah hal yang sangat membahagiakan.

Bukan hanya karena kenangan fisik rumah itu sendiri, tetapi rasa damai, kekeluargaan, dan kebahagiaan bersama Bapak Ibu beserta saudaralah yang mampu menarik semua orang di perantauan untuk mudik. Gairah dan rasa kangen untuk mudik ini terlebih sangat dirasakan oleh seseorang yang mempunyai kenangan indah bersama keluarga. Hal ini semakin membuktikan bahwa rasa damai, kekeluargaan, dan rasa bahagialah yang lebih penting, bukan ke ‘rumah’ yang berarti fisik bangunan.

Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki masa lalu yang selalu indah semasa kecil? Apakah ada keinginan untuk mudik juga seperti orang lain? Biasanya seh kurang ada greget. Jika tidak terpaksa tidak akan pulang. Ini juga membuktikan bahwa ‘rumah’ sebenarnya yang selalu dirindukan oleh semua orang bukanlah bentuk fisik rumah sebagai bangunan, tetapi roh, atau suasana yang ada di sana. Bahkan ada pengalaman seorang rekan, biar pun rumah semasa kecil dulu lebih banyak meninggalkan kenangan buruk / trauma, tetapi saat badan dirundung sakit dan saat ajal akan menjemputnya, tetap saja ada rasa kangen untuk melepas nafas terakhir di kampung halaman. Selidik punya selidik, biar pun sebagian besar hidup masa kecilnya kurang baik disana, tetapi ada setitik kenangan baik bersama ibunya yang membuat hatinya tentram. Yaa, bahkan setitik kenangan rasa damai di rumahnya dulu mampu menghapus dan mengalahkan trauma yang diterimanya. Dan tentu saja, dia pun bisa melepaskan nafas terakhirnya di sana, di rumah semasa kecilnya, dengan meninggalkan senyum bahagia di bibirnya.

Rasa damai, rasa tentram, dan rasa bahagia itulah yang disebut sebagai rumah sebenarnya. Sebaik apa pun bentuk fisik rumah, yang terutama dibutuhkan adalah ‘rumah’ dalam arti rasa damai dan sebagainya itu. Bisa jadi orang yang selama hidupnya hidup di dalam rumah yang sebagus istana tidak merasa betah hidup di sana. Sebaliknya, bisa saja orang yang keadaan rumahnya sangat sederhana tetapi setiap pulang kerja selalu semangat untuk segera pulang ke rumah, karena tidak sabar menghabiskan waktu bersama anak dan istri yang selalu membuatnya bahagia. Sekarang kita bisa sedikit merenung, apakah kita semua selalu merasa kangen untuk segera pulang ke rumah kita setiap habis pulang kerja? Ataukah di saat jam pulang kantor kita masih mencari-cari alasan dan kegiatan agar bisa pulang larut malam? Atau sebagai orang yang stanby di rumah, apakah kita merasa suami/istri kita merasa enggan dan tidak semangat saat membuka pintu masuk rumah sendiri? Apakah anak-anak kita lebih senang main dan menginap di rumah tetangga atau temannya, dibanding menghabiskan waktu bersama keluarganya sendiri? Jika demikian, tidak perlu berangan-angan untuk membangun rumah tingkat dan melengkapi rumah dengan perabotan sangat lengkap, bahkan tak perlu harus membelikan segala barang kesukaan anak-anak kita, karena percuma saja. Bukan itu yang lebih diperlukan anak-anak kita, atau suami/istri kita. Dan sejatinya, wajar jika mereka tidak betah tinggal di rumah sendiri, karena sebetulnya kita tidak menyediakan ‘rumah’ yang sebenarnya. Rumah yang sebenarnya adalah rasa damai, rasa bahagia, rasa nyaman, rasa dihargai, dan sebagainya. Itulah rumah sejati yang akan membuat semua orang betah, dan membuat semua anggota keluarga selalu dipenuhi rasa kangen saat jauh dari rumah.

Jadi bagaimanakah rumah fisik kita semua saat ini? Risau karena rumahnya kecil, dengan perabotan ala kadarnya? Atau iri melihat rumah tetangga yang semakin bagus? Atau tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ingin segera merenovasi rumah, agar rumahnya bertingkat dua seperti rumah rekan kerjanya? Tidak perlu risau oleh hal-hal yang tidak hakiki seperti itu. Bukan itu yang dibutuhkan sebenarnya oleh anak kita nanti, bukan itu yang akan membuat kita betah di rumah, bukan itu yang terutama akan membuat suami ingin segera pulang ke rumah. Itu hanyalah penunjang dengan prioritas kesekian. Jika ingin memiliki rumah yang selalu dirindukan oleh semua anggota keluarga, bangunlah rohnya. Bangunlah suasana nyaman, suasana damai, suasana saling menghargai, saling menyayangi, dan tentu saja roh syukur atas segala rahmat yang diterima. Rahmat atas diberikannya suami / istri yang baik dan bertanggung jawab, rahmat atas dipercayakannya seorang anak ke kita. Jika itu semua sudah terbangun, niscaya akan tercipta rumah yang sebenarnya. Home Sweet Home teman-teman..... (Set)

Add comment


Security code
Refresh