JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Sebab Kita Diselamatkan Dalam Pengharapan

AddThis Social Bookmark Button

“Maaa….. Sakit ma….”

Sungguh sangat pelan suaranya, lebih condong ke serak-serak lirih. Kami semua yang melihat dan mendengar langsung di situ juga merasa sangat sakit. Sakit oleh rasa ngilu, kasihan, tidak tega, dan sebagainya. Hanya beberapa orang yang tahan menahan isak tangis. Kakak saya pun tak kuasa menahan kesedihan itu, terlebih melihat kondisi anak 9 tahun tersebut, anak dari teman karibnya, yang kini terisak di pinggir ranjang sambil memegangi tangan kecil anaknya. Sekuat apa pun menahan kesedihannya, toh ibunya tidak tahan melihat kondisi anak tercintanya. Padahal semakin terisak ibunya, anak itu pun menjadi ikut terisak, sambil menahan sakit akibat tetesan air mata yang keluar bersama aliran darah di setiap lubang dan pori-pori tubuhnya. Sungguh kejam yang namanya DB itu jika sudah terlambat penangannya. Dalam hati, saya hanya mampu berdoa agar cepat berakhir penderitaannya. Menjelang detik-detik terakhir, kami berdoa bersama. Kami serahkan semuanya kepada Tuhan….

 

Di akhir doa, kudengar ibu itu berkata pelan ke anaknya: “Sekarang tidur ya Dik…. Setelah ini Adik akan tertidur pulas dan ga akan sakit lagi. Semuanya akan indah….. Karena Adik akan bertemu dengan nenek lagi” Dan anak itu pun pelan-pelan menutupkan kedua matanya sambil mencoba tersenyum. Tak ada kata lagi yang mampu ia ucapkan… Dan kesedihan di ruangan kecil itu pun memuncak dengan jeritan dan lengkingan tangis kehilangan dari ibunya. Saya pribadi tak bisa lagi harus melihat adegan selanjutnya. Dengan hati-hati supaya tidak menimbulkan suara, saya pun menyelinap keluar ruangan, mencoba menenangkan diri di taman rumah sakit itu.

Betapa masih terkenang ratap kesakitan anak tak berdosa itu, betapa saya rasakan juga kengiluan dan kebingungan orang tuanya harus menghadapi cobaan itu, dan betapa dalam keputus-asaan ibunya untuk mempertahankan kelangsungan hidup anaknya ia masih bisa mengucapkan kata-kata indah berupa harapan bagi anaknya. Dan di tengah kesakitan yang dirasakan seorang anak kecil, rupanya perkataan harapan akan segera tertidur pulas dan ga akan sakit lagi bisa memberinya ketenangan. Seminggu setelah kejadian itu, baru saya sadari bahwa anak itu bisa tersenyum di saat terakhirnya karena diberi pengharapan akan segera bertemu kembali dengan nenek yang merawatnya sedari bayi, dan baru setahun lalu meninggal.

 

Saya sendiri entah mengapa yakin bahwa apa yang diucapkan oleh ibunya telah menjadi kenyataan. Dengan melihat ketahanannya menahan rasa sakit (saya diberitahu oleh kakak bahwa selama sakit ia tidak pernah rewel, bahkan jika menangis pun hanya berupa isakan halus), tatapan lembut matanya, dan terlebih senyum yang mengembang di saat terakhirnya, saya yakin sekarang ia telah bahagia diasuh lagi oleh nenek tercintanya di surga.

 

Biar pun efek dari kehilangan anak susah dihilangkan dalam waktu cepat, rupanya sekarang kehidupan sepasang suami istri itu sekarang membaik. Jika dulu lebih mementingkan kehidupan ekonomi masing-masing, hingga merelakan anaknya diasuh di desa oleh neneknya, kini lebih banyak waktu yang dihabiskan bersama. Sungguh sekarang baru bisa merasakan, untuk apa artinya terkumpul segunung materi jika tidak tahu untuk siapa itu dikumpulkan. Di saat berpacu demi materi yang dianggap baik untuk kelangsungan hidup anaknya kelak, justru anugerah terindah yang diberikan Tuhan kurang diperhatikan. Betapa dulu segala upaya dan doa selalu dipanjatkan untuk diberi momongan, dan kini harus bisa merelakan saat harus cepat-cepat diambil kembali oleh Tuhan. Hanya satu hal yang bisa mengikis kesedihan itu sedikit demi sedikit, yaitu harapan bahwa kini anaknya memang telah bahagia di surga bersama neneknya. Harapan yang ia ucapkan sendiri di saat tarikan nafas terakhir anaknya….

 

Saya sendiri sebenarnya tidak bermaksud mengumbar penderitaan yang pernah dialami oleh orang lain, hanya rupanya peristiwa itu memberikan sebuah kekuatan yang saya butuhkan di saat-saat sulit. Ada kalanya kita semua diliputi keputus-asaan dengan segala keadaan yang ada. Di saat seperti, semua benda dan perhatian yang kita miliki kadang tidak mempan lagi. Satu hal yang bisa mengangkat kembali geliat hidup, yakni pengharapan….

 

Seperti anak tadi, pengharapanlah yang mampu menghapus derita. Biar pun abstrak, masih berupa angan, dan tentunya tidak terlihat, tapi dialah sumber daya gerak hidup manusia. Justru jika pengharapan bisa dilihat dan disentuh, itu bukan lagi pengharapan. Karena tidak terlihat, pengharapan menjadi misteri yang membuat seseorang bertahan dalam ketekunan.

 

Mungkin kita semua diingatkan kembali, kita bebas untuk membuat pengharapan kita masing-masing. Suatu saat nanti, besok di usia 60 tahun, bisa 10 tahun lagi, atau bahkan esok pagi, akan tiba saatnya kita berada dalam kondisi sama dengan anak tadi, yakni saat kita akan kembali menjadi tanah. Di saat menjelang detik terakhir, apakah yang bisa kita jadikan pegangan di dunia ini? Tidak ada…. Hanya satu yang bisa membuat kita tersenyum, yakni pengharapan akan janji yang diucapkan Tuhan sendiri. Ia akan menyelamatkan dan menyediakan rumah bagi kita semua di surga. Kini tugas utama kita adalah menentukan pengharapan itu (akan bertemu Tuhan atau tidak nantinya) dan tentunya mengarahkan segala gerak hidup agar tertuju kepada terwujudnya pengharapan itu. Mari kita terus bertekun dalam pengharapan. Ia adalah Setia menepati janjiNya…..(Set)

 

 
 
 
 
 

Add comment


Security code
Refresh