JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Memberi Sampai Merasa Sakit

AddThis Social Bookmark Button

“Sabar sekali Ibu itu ya….”

Saya hanya bisa mengiyakan, tetapi dalam hati sedikit menyempurnakan pujian itu. Bukan hanya sabar, tetapi Ibu itu dipenuhi kasih atau cinta kepada anaknya (yang kebetulan anaknya itu adalah teman saya). Tidak peduli apa pandangan masyarakat, tidak peduli berapa kali teman saya itu membohongi dan melukai perasaannya, dan tidak peduli berapa liter air mata yang mengalir di keriput pipinya, Ibu itu tetap merangkul anaknya setiap kali kembali ke rumah. Saya sendiri sebenarnya sudah putus asa dengan teman saya itu. Beberapa kali mampir ke kost, ujung-ujungnya pinjam duit lagi. Setelah dapat, pergi lagi, begitu seterusnya. Kalau boleh memilih, lebih tenang jika dia tidak menggangguku lagi.

Hanya kemarin saat berkunjung ke kost, penampilannya jauh berubah. Sangat kurus dan sepertinya sakit. Karena itulah saya memaksanya untuk kembali ke rumah ibunya. Awalnya tidak mau, karena sudah dikeluarkan dari kampus gara-gara uang SPP yang tidak dibayarkan, takut melukai perasaan ibunya lagi. Tetapi setelah dipaksa, akhirnya mau saya antarkan ke rumah dengan motor butut saya. Dan seperti yang sudah-sudah, tidak ada penolakan dari ibunya. Tetap menerima dengan tatapan kasihnya. Saya sampai terharu di ruang tamu.

Entah bagaimana kehidupan ekonomi keluarga ini semenjak ditinggal kepala keluarganya. Bapak temanku ini rupanya tidak sanggup menanggung rasa sedih yang diakibatkan kelakuan putra kebanggaannya, sehingga terkena kanker dan meninggal setahun yang lalu. Saya ingat persis perkataan beliau saat masih sehat dulu: “ Nak…. Saya titip anak saya ya. Minta tolong diingatkan kalau tidak benar jalannya…. Saya sudah kewalahan.” Saya hanya menganggap bahwa perkataan itu hanyalah gurauan.

 

“Ibu, saya pamit dulu ya Bu…. Tidak usah repot-repot.” Kataku sambil melayangkan pandangan ke dapur yang kini terasa kosong. “Ehhh Nak, baru mau Ibu buatkan makan siang. Maaf, tadi nasinya kehabisan…” Aku tidak menimpali, hanya segera kusalami tangan Ibu. “Yang kuat ya Bu….” Tapi setelah kulihat senyum di mukanya, aku tidak kuatir. Ibu temanku ini sangat kuat, jauh lebih kuat dari saya yang sudah cemberut biar pun hanya beberapa kali direpotkan anaknya. Saya pun pamit dan segera melaju ke kost saya saat itu, sambil merenungkan dalam perjalanan, betapa besar kasih Ibu temanku itu.

 

Bukan hanya materi yang ludes akibat ulah temanku itu, tetapi juga kebanggaan dan martabat keluarga. Biar pun anggota keluarga yang lain sudah mencapai puncak amarah dan kesabaranya, tidak dengan ibunya. Bahkan, demi harapan kemajuan dan pertobatan anaknya, segala perhiasan peninggalan keluarganya dulu direlakan. Apa pun diberikan ketika diminta, terlebih saat untuk alasan membayar biaya pendidikan. Bahkan setelah suaminya meninggal pun, tidak ada yang berubah. Mungkin hanya susutnya badan karena menanggung kesedihan. Tetapi harapan itu tetap ada… Curahan kasihnya pun tetap mengalir tanpa berkurang. Ahhh….. Sungguh, seharusnya teman saya bersyukur mempunyai ibu sebaik itu.

 

Sudah 7 tahunan sejak peristiwa itu. Saya pribadi sekarang tidak mengetahui bagaimana nasib teman saya itu, atau keadaan ibunya. Semoga sudah ada pertobatan teman saya. Biar pun sekarang belum bertobat, saya yakin suatu saat dia akan tergugah oleh kasih yang diberikan oleh ibunya. Dan saya tidak kuatir dengan ibunya. Dengan pengalaman dulu itu, saya yakin dengan kekuatan beliau. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kasih. Mungkin satu hal yang patut saya renungkan.

 

Bagi saya, ibu teman saya tadi merupakan contoh nyata tentang kasih dan cinta. Jika selama ini kita bicara tentang kasih dan cinta, tetapi berpusat pada diri kita sendiri, tidak dengan ibu tadi. Bicara tentang kasih dan cinta adalah bicara tentang memberi sesuatu ke orang lain, bukan sebaliknya: mengharap sesuatu dari orang lain. Jika saya benar-benar mengasihi istri saya, seharusnya saya akan memberi istri saya segala apa yang saya punya. Perhatian, kesediaan mendengar segala keluhannya, menerima dan memaklumi kekurangannya, menampung segala keluh kesahnya, menghapus tetes air matanya, dan memberi segalanya, jiwa dan raga, biar pun harus terluka. Seperti ibu teman saya tadi, beliau memberikan segalanya, termasuk apa yang paling berharga (bukan hanya harta, tetapi juga suaminya). Kasih pasti seperti itu. Memberikan apa yang paling berharga, dengan segala pengorbanannya hingga rela menanggung rasa sakit, bukan hanya sakit fisik tetapi bahkan sakit batin….. Dan beliau tidak takut dengan rasa sakit itu, mungkin tidak terlalu dirasakan, karena memang rasa sakit itu adalah bagian dari kasihnya kepada anaknya.

“Tidak ada kasih yang lebih besar

daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” 

Hmmm… Mungkin saat kita merasa sakit oleh suami / istri / anak / teman / orang tua / atau siapa pun itu, kini kita harus mencoba menerimanya karena itu adalah bagian dari kasih. Justru saat itulah harusnya kita memberi dan memberi. Pemberian yang paling berharga adalah pemberian yang disertai pengorbanan. Saat berkorban inilah mungkin terasakan rasa sakit. Tetapi sejatinya pemberian yang seperti itulah yang dinamakan kasih atau cinta. Sudahkah kita mengasihi orang terdekat kita? Sudahkah kita mau memberi segala perhatian dan segalanya kepada orang terdekat kita hingga merasa sakit? Jika belum, kita belum mengasihi dan mencintai orang lain, kita hanya mengasihi diri kita sendiri…..(Set)

 

Add comment


Security code
Refresh